KOMODITAS

Bahagianya Petani Cengkeh Tahun Ini

06/09/2018
oleh:

Ada senyum sumringah yang kerap mengembang dari petani cengkeh Komang Armada saat saya menginjakkan kaki di Munduk. Bli Komang biasa saya memanggilnya. Sore itu, ditemani kopi asli munduk dan pisang goreng, Bli Komang berbagi cerita tentang panen raya yang menjadi kabar baik bagi peteni cengkeh di Munduk.

Bukan hanya soal cengkeh, obrolan sore itu banyak hal lain pula yang dibicarakan. Mulai dari musik, sampai konflik pembangunan tower seluler yang akan dibangun di Munduk. Setelah ngobrol banyak hal, saya diajak berkeliling di kebun cengkehnya yang tak jauh dari Puri Lumbung. Kami berjalan beriringan Bli komang menunjukkan beberapa pohon cengkeh yang belum dipetik.

“Ini, Jong. Cengkeh yang bagus itu masih utuh dan belum keluar sarinya,” kata Bli Komang sambil menyodorkan beberapa cengkeh. Terlihat jelas perbedaan cengkeh yang super dan yang biasa. Saya yang baru pertama kali melihat cengkeh lekas paham perbedaannya setelah dijelaskan Bli Komang.

Sambil terus berjalan beriringan, obrolan soal cengkeh mengalir tanpa putus. Rasa penasaran saya untuk mengetahui banyak tentang cengkeh terbantukan oleh wawasan Bli Komang yang luar biasa. “Jong, kedatangan kamu tepat sekali. Di sini kami sedang panen raya,” ujarnya sore itu.

Bli Komang kemudian menceritakan kembali bagaimana kondisi tahun lalu semasa gagal panen. Tahun lalu, luas kebunnya yang mencapai 4 hektar hanya bisa dipanen kurang dari 5%. Tapi, kekecewaan tahun lalu bisa terbayar di tahun ini.

Banyak faktor gagalnya panen tahun lalu, salah satunya hujan yang berkepanjangan. Jika hujan terus menerus, bisa menyebabkan rusaknya cengkeh, para pemetik juga tidak ada yang berani untuk memetik. Belum lagi harganya yang anjlok, kondisi seperti itu membuat banyak petani cengkeh di Munduk mengalami kerugian.

Tahun ini panen raya kembali terjadi. Petani menyambut panen tahun ini penuh suka cita. Kondisi ini sudah terlihat dari sepanjang jalan Munduk dan sekitarnya. Aroma cengkeh dari perkebunan yang kami susuri terhirup selalu, sungguh menenangkan.

Beberapa pemetik cengkeh terlihat sedang melakukan aktivitasnya. “Tahun ini diperkirakan bisa mencapai lebih 6 ton cengkeh,” tutur Bli Komang. Saya senang mendengarnya. Apalagi harga perkilo cengkeh kering sampai hari ini mencapai Rp90 ribu dan bisa terus naik harganya. “Mudah-mudahan bisa tembus di atas Rp100 ribu perkilo.

Pada musim panen raya ini Bli Komang mempekerjakan 30 orang pemetik yang didatangkan dari Karangasem dan daerah lainnya. Ada fenomena menarik terkait buruh petik cengkeh tahun ini, untuk mencari pemetik ternyata tidak mudah. Sekalinya dapat, harus dipatok harga tambahan sebagai pengikat.

Selain Bli Komang, kabar baik juga dirasakan Bli Putera, pemilik kebun cengkeh seluas 1,5 hektar ini menceritakan suka citanya atas panen tahun ini. Pertemuan saya dengan Bli Putera terjadi tanpa sengaja. Kebetulan siang itu kami agak tersesat jalan di areal perkebunan cengkeh. Awalnya saya ingin bertanya jalur menuju Puri Lumbung tempat kami menginap, ternyata orang yang saya tanya itu adalah pemilik kebun. Obrolanpun kami arahkan menyoal panen raya.

Bapak satu anak ini bercerita banyak soal panen tahun ini. Apa yang dirasakan Bli Komang hampir sama dengan yang dirasakan Bli Putera. Panen tahun ini membawa berkah baginya. Pada musim panen ini, setiap hari Bli Putera menemani anak buahnya. Melihat langsung para pemetiknya bekerja dan mencatat langsung jumlah kilogram yang didapat para pemetik. Sesekali terlihat ikut mengangkat cengkeh untuk ditimbang.

Kebun Bli Putera baru seperempat yang sudah dipanen, Ia masih menunggu harga. “kebetulan tadi pagi saya ke pengepul untuk mengetahui harga terbaru, semoga masih terus naik harganya” kata Bli Putera. Rasa penasaran saya terus menyeruak untuk mendengar langsung dari petani lain terkait panen raya.

Esok harinya saya kembali menyusuri kebun cengkeh yang sama. Berjumpa dengan beberapa warga, hingga akhirnya saya diantar ke rumah Pak Nyoman Partaya. Kebetulah setiba di rumahnya, Pak Partaya sedang menjemur cengkeh. Terlihat pula istri dan anaknya sedang membantu menjemur. Saya pun memperkenalkan diri. Sambil mengisap rokoknya Pak Partaya menanyakan kedatangan saya. Kopi asli Munduk dan beberapa camilan tersungguh melengkapi suasana obrolan kami.

Meski lahannya tak seluas Bli Komang, panen raya tahun ini turut memberi kebahagiaan bagi dirinya dan keluarga. ia berkisah, beberapa tahun lalu, hasil panennya bisa membangun rumah. “Tahun ini ya hasil panennya selain untuk kebutuhan rumah tangga, sebagiannya akan ditabung,” tandasnya.

Panen cengkeh selalu membawa kebahagian bagi sebagain besar warga Munduk. Kebahagian itu juga dapat dirasakan oleh warga lain di luar Munduk. Untuk kita ketahui juga bahwa rempah-rempah khas Indonesia ini merupakan investasi yang tak habis dimakan waktu, meski disimpan bertahun-tahun cengkeh tetap masih punya harga yang relatif terjaga layaknya kita memiliki emas.

mm
Sedang Belajar