KOMODITAS

Cerita dari Desa Cengkeh

02/09/2018
oleh:

MUNDUK.CO – Sore itu, ketika menyusuri  jalan dari Desa Banjar menuju Munduk dengan motor, saya mencium harum cengkeh. Ya, sekarang musim cengkeh berbunga, panen raya malah.

Aroma cengkeh menguar dari jajaran bunga cengkeh yang dijemur beralas plastik, juga dari pucuk-pucuk pohon di beberapa bagian jalan. Tak jarang, saya melihat ada beberapa bunga cengkeh yang kelewat tua untuk dipetik. Warnanya merah, dan sudah mekar. Sayang sekali jika terlambat dipetik, harganya pasti jatuh, pikir saya.

Nyaris tak terlihat buruh pemetik cengkeh. Namun, pemandangan orang sedang mengepik atau memisahkan bunga cengkeh dari tangkainya tampak di beberapa tempat.

Satu tangkai tujuh bunga.

“Banyak buruh petik yang mudik ke Jawa karena lebaran haji,” tutur tukang ojek yang motornya saya naiki, seolah dapat membaca pikiran saya. Buruh pemetik umumnya datang dari luar desa, ada yang dari Seririt atau bagian lain Bali, dan belakangan ini banyak pendatang dari Jawa yang khusus datang ke Bali untuk memetik cengkeh. Mirip pekerjaan musiman, khusus Juni hingga Oktober.

Tahun lalu, nyaris tak ada cengkeh yang berbunga karena hujan salah musim. Tahun ini, panen cengkeh terjadi serentak. Padahal biasanya, berawal dari desa-desa di barat sebelum menuju desa-desa di utara seperti Munduk, Kayu putih, atau Gesing.

Panen serentak, diikuti lebaran haji, membuat keberadaan buruh petik menjadi langka. Saya pernah menulis tentang cengkeh di Munduk dengan judul  “Cengkeh yang Menghidupi” lima tahun lalu.

Perlakuan Pasca-panen

Panen raya kerap membuat harga cengkeh jatuh. Jika biasanya untuk cengkeh kering kualitas premiun laku di atas Rp100.000 per kg, kini hanya diharga antara  Rp89.000-Rp90.000 per kg. Cengkeh kering kualitas super itu jika bunganya masih kuncup, batangnya lurus dan warna hitamnya merata usai dijemur. Sementara itu, cengkeh kualitas rendah bentuknya berupa bunga sudah mekar, batang kusam, atau keputihan.

Memilih cengkeh, membuang bunga yang rusak dan berwarna putih.

Untuk mendapatkan cengkeh kualitas super, panen harus tepat waktu, tidak terlambat. Oleh sebab itu, disewalah buruh petik, yang dibayar secara borongan. Upah petik ditentukan berdasar jumlah cengkeh basah yang berhasil dipetik. Misalnya ada serombongan buruh petik yang bekerja di sebuah kebun. Jika mereka berhasil memetik 500 kg cengkeh basah misalnya, maka akan dibayar 500 kg x Rp5.000 per kg, artinya mereka mendapat upah 2,5 juta rupiah yang dibagi merata.

Cengkeh hasil petikan ini nanti akan dipisahkan bunga dari tangkai oleh buruh kepik. Ongkos buruh kepik dihitung Rp1.500 per kg cengkeh yang dihasilkan. Bunga dan batang cengkeh basah lalu dijemur secara terpisah. Agustus tahun ini hujan jarang sambang di desa-desa cengkeh seperti Munduk dan sekitarnya. Cukup dengan panas sehari bunga cengkeh pun kering. Setelah itu masih dilakukan proses memilih dan memisahkan bunga cengkeh yang bagus dari yang rusak sebelum disetor ke koperasi untuk dijual.

Bea pasca-panen tidak murah, bahkan ada kecenderungan setiap tahun akan naik. Sebagai gambaran, pada lahan seluas satu ha akan dihasilkan sekitar 1,5 ton cengkeh kering (yang dihasilkan dari 4,5 ton cengkeh basah). Ini berarti ongkos buruh petik sekitar Rp5.000 x 4500 kg, ongkos buruh kepik sekitar Rp1.500 x 4500 kg. Jadi, total dibutuhkan bea operasional minimal 29,25 juta rupiah. Sedangkan hasil panen 133,5 juta rupiah. Ini berarti petani akan menerima sekitar 104,25 juta rupiah jika memiliki satu ha kebun cengkeh. Itu penghasilan setahun mereka.

Daun Cengkeh dan pertanian berkelanjutan

Pada kenyataannya, tak semua petani cengkeh memiliki kebun yang luas. Banyak yang memiliki beberapa batang pohon saja. Untungnya, pohon cengkeh itu pohon yang murah hati. Semua bagian tubuhnya laku dijual. Bunganya yang kuncup akan tinggi harganya, bunga yang rusak dan mekar walau dihargai murah, tetap laku dijual.

Biasanya, bunga premium dibeli perusahaan rokok terkenal, sedangkan bunga cacat dibeli pembuat rokok rumahan. Ranting kerinya laku Rp10.000 per kg. Bahkan daunnya, baik yang basah maupun kering masih diburu orang. Daun yang kering dihargai Rp4.000 per kg, yang basah Rp2.700 per kg.

Daun cengkeh siap diangkut dan dibawa ke pengepul.

Saya ingat bertahun lalu saat naik feri dari Ketapang menuju Gilimanuk, bertemu lelaki yang amat berminat membeli daun cengkeh. Dia bahkan sengaja ke Munduk dan beberapa desa untuk menampung daun-daun cengkeh langsung dari petani dan buruh petik setempat.

Katanya, dia butuh banyak daun cengkeh, berapa pun jumlahnya akan tampung, untuk disuling menjadi minyak cengkeh. Kala itu, tidak banyak yang menjual daun cengkeh, karena harganya dianggap murah dan harga cengkeh sendiri lumayan tinggi, bisa di atas Rp120.000 per kg. Teman saya yang petani cengkeh di Munduk juga menolak daun-daun kering cengkehnya untuk dibeli.

Kali ini, memasuki desa-desa cengkeh seperti Kayu Putih, Munduk, Gesing, pemandangan truk-truk mengangkut karung-karung berisi daun cengkeh menjadi hal biasa. Banyak petani menjual daun cengkeh. Tak jarang ada juga buruh petik iseng yang tak hanya memetik, tapi sekaligus mengangkut daun cengkeh di kebun yang menyewanya. Mungkin dia berpikir daun ini sekadar sampah, dan dia telah membantu membersihkannya. Pemilik kebun untung karena kebunnya tampak bersih. Si buruh untung karena mengantongi rupiah dari daun yang dikumpulkan dan dijualnya.

Tidak demikian bagi Komang Armada, petani dan pemilik kebun yang sudah beberapa tahun menerapkan pertanian alami di kebunnya. Dia mengenang  pohon cengkeh di masa kecilnya, sekitar awal 1980.

“Saat itu, pohon cengkeh berbunga lebat sekali. Satu tangkai memuat 60 hingga 70 bunga cengkeh.  Bandingkan dengan sekarang, satu tangkai paling berisi delapan hingga 11 bunga,” tuturnya.

Ketika berkunjung ke Gesing dan ikut mengepik di rumah kenalan, saya perhatikan memang satu tangkai berisi delapan atau 11 bunga cengkeh, bahkan ada yang hanya lima bunga. Saya jadi bertanya-tanya, apakah ada yang berubah? Mutasi gen, mungkin, atau?

Menurut Bli Komang, berkurangnya jumlah bunga dibanding empat dekade lalu ini karena berkurangnya asupan nutrisi pada pohon. Logikanya, agar jumlah panen tetap, maka jumlah nutrisi yang diterima harus sama dengan jumlah bunga beserta ranting yang dipanen setiap tahun.

“Andai petani mau menyisakan 10 persen saja dari hasil panen untuk perawatan pohon, pasti menyubur dan panennya berlimpah,”  ujarnya.

Pada kenyataannya, lebih banyak kebun yang dirawat sekadarnya saja, diberi pupuk kimia, dan dieksploitasi hasilnya secara besar-besaran saat panen demi mengejar rupiah.

Sebagai gambaran, daun-daun yang menutupi tanah sesungguhnya banyak fungsinya. Selain menjadi zat hara, dedaunan juga melindungi tanah agar tak cepat kehabisan air saat kemarau, dan tergerus air kala musim hujan datang.

Kini, daun-daun cengkeh banyak diburu untuk dijual, baik yang kering (laku Rp4.000 per kg) maupun basah (laku Rp2.700 per kg) setiap waktu, tak tergantung masa panen.

Iming-iming harga dari pengepul yang menggiurkan serta kurangnya pengetahuan akan pentingnya manfaat daun bagi tanah maupun tanaman, membuat eksploitasi daun marak dilakukan. Ada anggapan bahwa daun justru membunuh dan berbahaya bagi tanaman. Padahal, sejak zaman dulu, daun cengkeh sudah ada di sana, tapi pohon tetap saja menjulang dan berbuah setiap tahun.

Cengkeh merupakan tumbuhan tahunan, yang mampu bertahan hingga puluhan bahkan lebih seratus tahun. Cengkeh baru belajar berbunga pada tahun ketiga setelah ditanam dan memberi hasil maksimal pada tahun kelima. Agar memberikan hasil panen yang maksimal, penanaman harus mengikuti aturan tertentu, semisal jarak antar pohon tak sembarangan, lalu perawatan seperti pemupukan dan pembersihan lahan dari gulma.

Di beberapa kebun di Munduk, pemupukan dengan bahan alami sudah dilakukan. Misalnya menggunakan pupuk berbahan molase, dedaunan, dan sisa tanaman yang difermentasi. Ada juga yang menggunakan kotoran hewan yang didiamkan terlebih dulu. Beberapa pemilik kebun menolak pengambilan daun kering dari kebunnya untuk dijual. Namun, sering terjadi ada orang iseng yang diam-diam membersihkan dedaunan di kebun tetangganya.

Iming-iming harga menariki dari pengepul, desakan yang tinggi dari pengusaha minyak cengkeh karena besarnya permintaan ekspor maupun kebutuhan industri akan minyak cengkeh yang terus meningkat, ditambah kurangnya pengetahuan akan pertanian berkelanjutan, membuat penjualan daun semakin marak dan menjadi-jadi.

Padahal, jika ini terus berlanjut, maka kerusakan besar akan terjadi. Tanah mengurus dan kering karena kurangnya zat hara, tergerusnya lapisan humus saat musim penghujan, akan membuat produksi bunga makin sedikit beberapa tahun lagi, dan dapat berakhir dengan tumbangnya pohon. Kalau dipikir, menjadi petani cengkeh memang tidak mudah, harus memerangi keserakahan diri, sekaligus iming-iming keserakahan dari pelaku usaha.

Sedikit tentang bisnis minyak cengkeh

Minyak cengkeh menjadi bisnis yang menggiurkan dan terus berkembang karena pemanfaatannya yang meluas. Kalau dulu orang memanfaatkannya sekedar untuk obat sakit gigi, pencegah mual, penghangat badan, kini penggunaannya meluas sebagai salah satu alternatif bahan anastesi. Beberapa negara di Eropa bahkan melegalkannya dalam pengobatan modernnya, misalnya pengobatan halitosis atau bau mulut.

Minyak ini juga digunakan dalam industri pasta gigi, pembuatan parfum, pengawet makanan, dan kosmetik. Karena penggunaannya yang meluas, kebutuhan akan minyak ini pun tinggi.

Umumnya minyak ini cukup dihasilkan dari menyuling tangkai kering yang sudah dipisahkan dari bunga. Kenyataannya, karena kebutuhan akan minyak cengkeh yang besar, maka giliran daunnya yang disasar untuk disuling.

Secara umum, ada tiga jenis minyak ini di pasaran, yaitu Clove Leaf Oil (CLO) yang didapat dari daun, Clove Stalks Oil (CSO) yang didapat dari tangkai, dan Clove Bud Oil (CBO) yang didapat dari bunga.

Harga bunga yang mahal membuat petani lebih suka menjualnya dalam bentuk kering. Sedang minyak gagang (CSO) kualitasnya cukup baik. Kandungan eugenol pada CSO sekitar 78% hingga 85%. Eugenol ini yang banyak dimanfaatkan pada industri farmasi, kosmetik, maupun penyedap makanan.

Rendemen minyaknya juga tinggi, antara 3% hingga 5%. Artinya, jika menyuling 100 kg tangkai kering akan dihasilkan 3 hingga 5 kg minyak cengkeh. Tangkai sampah penyulingan ini tidak langsung dibuang, tapi dapat dijemur dan laku dijual kepada industri rokok rumahan.

Sayangnya, tangkai cengkeh hanya tersedia saat panen, padahal permintaan industri tak kenal waktu. Itu sebabnya diproduksi CLO atau minyak daun. Kandungan eugenol dalam minyak daun berkisar antara 58% sampai 75%, dan dalam 100 kg daun kering yang disuling akan dihasilkan 2 kg minyak. Harga 1 kg minyak sekitar Rp125.000 hingga Rp135.000.

Penyulingan minyak membutuhkan daun dalam jumlah besar, apalagi jika menggunakan ketel yang mampu memuat antara 300 kg hingga 1 ton daun. Maka daun kering dalam satu ha kebun belum tentu mencukupi untuk sekali proses penyulingan. Mungkin malah butuh kebun satu desa agar proses penyulingan berhasil dan beratus desa agar penyulingan dapat berlangsung setiap hari. Jadi, banyangkan saja berapa banyak pohon cengkeh yang akan gundul alias minim daunnya di masa depan karena berakhir di pabrik penyulingan.

 

Disclaimer: Artikel ini pernah tayang di situsweb othervisions.wordpress.com berjudul “Cerita dari Desa Cengkeh“. Tulisan Ari Ahmir ini dimuat setelah mendapatkan izin penulis.