KOMODITAS

I Dewa Made Dana: Soekarnois Pelopor Pengolahan Biji Kopi di Desa Munduk

20/07/2017
oleh:

Suara mesin sangrai kopi memenuhi ruangan seluas sekira 15×5 meter. Aroma kopi menguar ke seluruh ruangan. Sekira 100 meter sebelum tiba di ruangan itu, saya sudah mencium aroma tersebut. Dan saat saya memasuki ruangan, ternyata tak ada orang di dalam.

Mesin menyala tak ada yang menjaga. Saya keluar bermaksud mencari orang di sekitar untuk bertanya keberadaan I Dewa Putu Sudewa. Belum jauh dari pintu keluar, suara pria dewasa memanggil. Ternyata Bli Putu Sudewa sudah mengetahui kedatangan saya.

“Hari ini kami mengolah 200 kilogram biji kopi. Pesanan lima orang di bawah.” Ujar Putu Sudewa setelah menemui saya.

Dua hari sebelumnya, saya memang sudah mengunjungi pabrik pengolahan kopi milik Bli Putu Sudewa dan Bapaknya. Saat itu, saya berjanji lusa akan datang lagi untuk melihat mesin sangrai dan pembubukan kopi miliknya. Dalam sehari, mesin sangrai dan pembubuk kopi miliknya, maksimal, mengolah 200 kilogram biji kopi kering.

I Dewa Putu Sudewa dan Alat Pengangrai Kopi Buatannya

Sekitar 200 kilogram biji kopi, menghabiskan waktu selama enam jam. Menyangrai selama tujuh jam, proses penyortiran satu jam, dan pembubukan kopi selama satu jam.

“Di sini terlalu keras bau kopinya, saya antar kamu bertemu Bapak saya saja, biar saya urus kerjaan ini dulu.” Kemudian, Bli Putu Sudewa mengajak saya bertemu Bapaknya.

Seluruh rambutnya yang kian menipis, sudah memutih. Topi kupluk yang selalu ia pakai sesekali dibuka sebelum menggaruk kepala di sela obrolan kami. Bicaranya keras, Bahasa Indonesia-nya fasih untuk orang desa seusianya.

Ia bernama I Dewa Made Dana. Tahun ini usianya 81 tahun. Leluhurnya berasal dari Klungkung. Ia adalah generasi ketiga yang lahir di Desa Munduk usai leluhurnya bermigrasi dari Klungkung ke Desa Munduk karena alasan ekonomi.

Memiliki tinggi 155 sentimeter, Pak Made Dana mengisi hari tuanya dengan berkebun di halaman rumah. Ia menanam beberapa jenis sayuran dan tanaman hias, dan mengerjakan pembibitan pohon cengkeh. Sesekali, ia masih membantu anaknya mengurus pabrik pengolahan kopi yang ia rintis, pabrik pengolahan kopi pertama di Desa Munduk. Di Desa Wanagiri yang terletak di sebelah timur Desa Munduk, ada 20 are kebun kopi arabika miliknya.

Sembari menunjukkan foto-foto yang terpasang rapi di album, Pak Made Dana bercerita tentang usahanya merintis pabrik pengolahan kopi. Awalnya, karena olahan kopi miliknya memiliki cita rasa yang baik, para tetangga meminta ia mengolah biji kopi milik mereka.

Pak Made Dana menyangrai kopi di wadah yang terbuat dari tanah liat dengan bahan bakar kayu api. Kopi yang sudah disangrai kemudian ditumbuk secara tradisional menggunakan lesung.

I Dewa Made Dana dan Wadah Penyangrai Tradisional

Karena semakin banyak tetangga yang meminta tolong kepadanya, dengan dibantu anaknya, Pak Made Dana membuat wadah dari tong agar kapasitas kopi yang disangrai bisa semakin banyak.

Tong tersebut dilengkapi tuas agar bisa diputar-putar secara manual. Tujuannya, supaya kopi yang disangrai merata tingkat kematangannya. Itu terjadi di tahun 1992, bertepatan dengan anjloknya harga cengkeh akibat kebijakan pemerintah lewat BPPC. Saat itu, bahan bakar yang digunakan masih kayu api.

Lantaran semakin banyak kopi yang diolah, maka alat sederhana penyangraian dimodifikasi. Tuas yang awalnya digerakkan secara manual menggunakan tenaga manusia, diganti dengan mesin penggerak berupa dinamo. Bahan bakar yang sebelumnya kayu api diganti minyak tanah yang disemprotkan mesin kompresor.

Semua modifikasi itu dikerjakan oleh Pak Made Dana dan Bli Putu Sudewa yang merupakan lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM).

Sejak saat itu, Pak Made Dana dan Bli Putu Sudewa semakin serius menekuni usaha pengolahan kopinya. Saat ini, untuk satu kilogram biji kopi yang diolah, Pak Made Dana membebankan biaya sebanyak 250 gram kopi dan uang sebesar lima ribu rupiah. Berlaku faktor kelipatan dengan sedikit pengurangan untuk peningkatan volume kopi yang diolah.

Saat saya bertanya kepada Pak Made Dana bagaimana ia memulai merintis pengolahan kopi di kediamannya, Pak Made Dana bercerita dengan semangat. Sesekali, ia mengajak saya melihat mesin-mesin perbengkelan miliknya sembari terus bercerita.

Ia sempat pamit sebentar, masuk ke kamarnya, untuk kemudian menunjukkan kepada saya sertifikat pertanian miliknya yang disahkan oleh Bupati Buleleng pada tahun 1982. Ia memang tidak setengah-setengah untuk urusan pertanian. Pada tahun 1965, ia sempat belajar pertanian di Blitar, Jawa Timur, selama dua bulan.

Foto Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno yang terpasang di dinding di ruang utama rumahnya menarik perhatian saya. Ketika saya menanyakan soal foto Bung Karno, suasana seketika berubah.

Dari yang awalnya begitu bersemangat, matanya lantas berkaca-kaca. Ia bercerita cukup banyak tentang masa Orde Lama, kecintaannya yang mendalam akan Ir. Soekarno. Sesekali, air mata menetes dari kedua bola matanya. Di akhir cerita, ia meminta maaf kepada saya karena menangis saat bercerita tentang Ir. Soekarno. Bagi saya, ini kali pertama bertemu dengan seorang Soekarnois sejati.

Saat pamit pulang, Pak Made Dana meminta saya menginap saja di rumahnya. Untuk saat ini, tentu saja saya belum bisa. Sebagai ganti, saya berjanji akan sering-sering berkunjung ke rumahnya selama saya berkegiatan di Desa Munduk.

Saya pulang, Pak Made Dana bergegas membantu anaknya memasukkan biji kopi yang telah disangrai ke mesin pembubukan. Mesin pembubukan yang ia beli di Surabaya namun sudah dimodifikasi sedemikian rupa bersama anaknya.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan