ANEKA

Labuan Kebo dan Secuil Kisah

03/09/2018
oleh:

Berawal dari hikayat ini, pada jaman dahulu, dulu sekali, entah persisnya tahun berapa. Ada seorang penggembala membawa sepasang kerbau menuju lereng perbukitan yang berlimpah airnya. Daerah perbukitan yang kaya akan rerimbun tanaman nan indah pula panoramanya. Kalau saja dulu sudah ada budaya swafoto dan aktivitas media sosial, mungkin foto penggembala ini sudah banyak beredar di medsos.

Kembali ke cerita, usai Ia menambatkan kerbaunya dekat sebuah kolam yang ada air terjunnya itu, sang penggembala kemudian mendaki sebuah lereng yang banyak rerimbun hijau tanaman, entah atas dasar niat apa Ia mendaki lereng itu, yang pasti bukan untuk berswafoto dong.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, sang penggembala terjatuh dari tebing dan mendarat persis di dekat sepasang kerbau yang ditambatkannya dekat kolam. Tubuhnya bersimbah darah akibat menghujam bebatuan tebing dan tewas seketika itu juga.

Menjelang gelap, sepasang kerbau itu melenggang pulang tanpa sang penggembala. Keluarga sang penggembala dan warga daerahnya dibuat geger oleh kepulangan kerbau tanpa penggembalanya. Mereka beramai-ramai mencari keberadaan sang penggembala.

Dari kejauhan warga melihat sebuah air terjun yang di bawahnya tergeletak tubuh sang penggembala yang penuh darah. Warga kemudian membawa jenazahnya pulang. Seiring waktu, air terjun tempat penggembala kerbau terjatuh itu dinamai Labuhan Kebo.

*****
Secuil hikayat yang dituturkan penjaga pos di pintu masuk Labuhan Kebo itu seketika membuat saya agak merinding mendengarnya. Lantaran membayangkan nasib sang penggembala yang nahas itu, membayangkan tubuhnya yang berlumuran darah. Iya, kecelakaan seperti ini bukan hanya terjadi dalam hikayat, pada masa kini pun kecelakaan semacam itu masih saja terjadi di tempat-tempat wisata lainnya.

Seperti yang juga pernah viral di medsos. Tentang tewasnya seorang pendaki yang tengah berswafoto di bibir kawah Merapi. Iya, biasanya kejadian semacam ini disebabkan kecerobohan orangnya sendiri, padahal sudah berlaku peringatan bahaya melakukan hal-hal tak lazim di situ. Hasrat narsis yang tinggi kadang melenakan memang.

Haiya, dalam bahasa Bali, labuh itu artinya jatuh dan kebo artinya kerbau. Hikayat kecelakaan nahas itu menjadi inspirasi untuk penamaan destinasi wisata tersebut, penamaan yang muncul secara alamiah di masyarakat.

Secara geografis letak air terjun ini berada di areal perbukitan. Di lereng-lereng perbukitan itu rata-rata ditumbuhi pohon cengkeh dan kopi, lereng-lereng tersebut telah menjadi perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Jalur menuju air terjun Labuhan Kebo adalah jalur hiking yang menyenangkan.

Bahkan beberapa home stay di Munduk maupun penginapan lainnya menawarkan pilihan paket wisatanya dengan istilah tracking ke Labuhan Kebo. Jalur menuju Labuhan Kebo untuk pejalan kaki dan motor terlihat mulus dan belum lama dipelur. Cukup menyenangkan untuk jalur penjelajahan. Letak air terjun ini tersembunyi memang, dan kita akan mendapatkan hawa kesejukan tersendiri berada di areal wisata ini.

Sengaja saya ke air terjun yang cukup populer di Munduk ini untuk mendapatkan inspirasi lirik lagu, maka gitar dan harmonika pun saya bawa. Selain niat itu saya dan dua teman pula ingin mempelajari aktivitas panen cengkeh yang tengah berlangsung di Munduk. Kebetulan kami mendapat kenalan baru seorang tenaga penggarap kebun asuhan Bli Komang Armada.

Sebelum menuju air terjun itu saya dan teman-teman bertandang terlebih dahulu ke pondok tenaga penggarap itu yang berada di antara kebun cengkeh dan kopi. Namanya Kadek Koko, dari dialah kami mendapat banyak pengetahuan tentang cengkeh dan kopi yang selama ini dirawatnya di perkebunan milik Bli Komang Armada.

Usai dari menyerap pengetahuan tentang cengkeh dan kopi, kami beranjak menuju spot air terjun Labuhan Kebo. Tak seberapa jauh letaknya dari pondokan Kadek Koko yang berada di Desa Gobleg. Jalur tangga menuju ke lokasi air terjun lumayan bikin betis menjadi kekar sesaat. Pemandangannya sungguh asri.

Kadek Koko pun tak sungkan memungut sampah plastik bekas jajanan yang Ia dapati di tangga menuju air terjun. Sepertinya warga setempat sudah tersadarkan oleh satu kepedulian terhadap persoalan lingkungan. Terutama soal sampah plastik.

Di area air terjun itulah saya menghikmati apa yang saya niatkan. Segera saja saya keluarkan gitar dan harmonika dari sarangnya. Tanpa waktu lama saya lantunkan beberapa alunan lagu melalui harmonika. Ketinggian air terjun Labuhan Kebo diperkira sekitar 50-an meter. Ada alir sungai kecil dan jembatan bambu yang juga kece sebagai spot berfoto ria.

Dari tempat ini saya mendapatkan satu komposisi nada yang cukup manis, dan beberapa potong lirik yang agaknya sangat didukung oleh energi sekitar yang merasuk dunia batin saya. Inilah salah satu pengalaman yang tak bakal terlupa. Apalagi saat semakin dirasuk gairah memainkan instrumen, beberapa turis turut menyimak, salah satu dari mereka seraya berseloroh–entah itu sebagai pujian atau sebaliknya–“you’re so cool, Bob Dylan!”

mm
Kretekus cum seniman paruh waktu