ALAM

Larisnya Daun Cengkeh di Munduk Membawa Kabar Buruk

31/08/2018
oleh:

Secara alamiah pohon cengkeh mendapatkan nutrisi dari guguran daun-daunnya yang berserakan di tanah. Daun-daun tersebut mengandung fungisida yang ampuh untuk menangkal jamur yang kerap menjangkiti akar pohon, selain pula berfungsi menjadi humus yang membantu kesuburan tanah. Cengkeh membawa takdir sebagai pohon yang mampu mandiri menjaga kelestarian hidup dirinya maupun sekitarnya.

Perihal pengetahuan ini tidaklah disadari masyarakat Munduk pada umumnya, meski rata-rata dari mereka mengandalkan penghidupan dari cengkeh. Beruntungnya saya dapat bertemu Bli Komang Armada dan Bli Putu Ardana yang mau berbagi pengetahuan tentang prinsip hidup pohon cengkeh. Kakak beradik ini sama-sama punya lahan perkebunan cengkeh yang cukup luas di Desa Munduk.

Setidaknya untuk panen cengkeh pada tahun ini saja Bli Putu mampu menghasilkan 5 ton cengkeh dihitung secara kotor. Seraya itu Bli Putu sendiri menyesali, terkait mencuatnya lagi penjualan daun cengkeh. Dia menyatakan, “hanya petani goblok saja yang mau menjual daun-daun cengkehnya”.

Dilatari fenomena penjualan daun-daun cengkeh yang dilakukan masyarakat itulah kedua petani sukses ini berpandangan sama, bahwa apa yang dilakukan oleh sejumlah orang yang mencari keuntungan dari daun cengkeh sama halnya telah melakukan tindak pemusnahan pohon-pohon cengkeh secara perlahan.

Itu terbukti ketika pohon cengkeh menjadi tidak sehat, lantaran nutrisinya tidak tercukupi, maka ancaman hama kutu putih mendera pohon cengkeh, begitupun jamur yang menjangkiti akarnya. Rindangnya daun cengkeh di pohon serta yang terserak di tanah berfungsi langsung sebagai pelindung. Terlebih ketika hujan datang, daun-daun tersebut dapat menangkal bahaya erosi tanah.

Bencana ekologi itu jelas diperulah manusianya sendiri, bukan semata-mata karena alam punya kehendak. Demikian penjelasan Bli Komang di sela minum kopi pada sore kemarin setiba kami di Munduk.

Daun-daun cengkeh itu biasanya dibawa ke pengepul untuk disuling dan dimanfaatkan minyak atsirinya. Harga yang ditawarkan pengepul untuk satu kilogram daun cengkeh sebesar Rp 4000 sampai 4.500, harganya jauh lebih tinggi dibanding pada waktu silam. Dalam satu karung yang dipadatkan beratnya bisa mencapai 15-20 Kg.

Memang salah satu alasan yang membuat maraknya aktivitas penjualan daun cengkeh pada tahun ini dikarenakan petani mengalami ketertundaan panen raya selama dua musim. Sehingga bukan mustahil cara tersebut ditempuh untuk menambal pemasukan yang tidak didapat dari cengkeh.

Seperti kita ketahui, petani baru dapat menghasilkan panen yang menguntungkan hanya dari pohon-pohon yang sudah berumur di atas 5 tahun. Celakanya, usaha pengepulan daun-daun cengkeh itu juga berdampak pada pohon-pohon yang masih di bawah umur. Jelas akan mempengaruhi pertumbuhan pohon serta kualitas cengkehnya.

Pohon-pohon cengkeh yang kekurangan nutrisi layaknya pula manusia yang mengalami gizi buruk. Menjadi lemah dan rawan terserang penyakit. Bli Komang sendiri pernah merasa kecurian terdampak fenomena tersebut. Biasanya yang mereka ambil adalah daun-daun kering yang berserakan di bawah pohon, yang kering itulah yang punya harga lebih ketimbang yang masih basah.

Memang tidaklah bisa dilarang terkait usaha pengepulan daun cengkeh, sebab masyarakat melakukan hal itu secara legal, mengumpulkan daun-daun dari lahan cengkehnya sendiri. Bagi Bli Komang, masyarakat yang melakukan usaha semacam itu baru akan menyesali setelah terasa dampak lingkungannya. Lebih jauh Bli Komang Armada menggambarkan ancaman bencana yang terjadi ketika musim penghujan.

Dulu pada tahun 2011-2012 Bupati Buleleng sempat melakukan upaya penghentian aktivitas tersebut melalui surat edaran. Salah satunya dengan mempersulit izin usaha penyulingan. Relatif teredam juga kabarnya. Meski masih ada saja terjadi, ketika permintaan pasokan daun-daun itu datangnya dari luar Munduk. Tak dipungkiri, produksi penyulingan daun-daun tersebut tidak semua dapat ditangkal. Banyak masyarakat yang belum tersadarkan akan prinsip hidup pohon cengkeh serta kelestarian lingkungannya.

Sebetulnya fenomena itu pernah sempat menghilang, namun pada tahun 2018 ini terjadi kembali. Apalagi kini harga jual per kilonya sudah mencapai Rp 4.500, tidak sedikit petani yang tergiur untuk menjual daun-daun cengkeh dari lahannya, tanpa mau peduli kalau itu berdampak terhadap aset mereka sendiri, yakni penurunan kualitas tanah serta terancamnya kelestarian pohon cengkeh. Sudah tidak pernah diberi pupuk, nutrisi alamiahnya dijual pula.

 

mm
Kretekus cum seniman paruh waktu