ANEKA

Mimpi yang Beralih Menjadi Nyata

29/07/2017
oleh:

Sebagai seorang Bendesa, atau pimpinan adat Desa Munduk, sudah lama sekali saya ingin mempunyai media online khusus tentang Munduk.                                                                                                          Alasannya sangat sederhana. Pertama, media ini akan memudahkan penyebaran dan penyerapan informasi, baik internal maupun berita dari luar Munduk. Kedua, memancing komunikasi yang dinamis antara warga, termasuk warga Munduk yang merantau. Dan yang ketiga, membiasakan warga akan pola komunikasi dengan media modern tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal yang mereka punya.

Lantaran berbagai keterbatasan, baik diri saya maupun sumber daya desa, maka keinginan itu hanya bergulir saja sekian lama dalam bentuk mimpi.                                                                                                            Namun, mimpi itu kemudian, dengan amat cepat, bergulir menjadi nyata oleh sebuah peristiwa tak terduga. Puthut EA, kepala suku mojok.co, yang lebih dulu kenal dengan adik saya Komang Armada, tiba-tiba datang ke Munduk untuk bertetirah pada bulan Mei lalu. Ia menginap di tempat saya.

Setiap hari, kemudian kami terlibat obrolan-obrolan tentang berbagai hal. Ketika mimpi memiliki media online untuk Munduk saya kemukakan, dengan ringan dan santai dia menjawab, “Nanti saya buatkan, Bli.” Belum habis kaget dan girang saya, esok harinya, dia sudah berkabar “Domainnya sudah kita kunci Bli. Namanya munduk.co.”

Wouw…………                                                                                                                                                                  Padahal, untuk mendapatkan domain dengan satu kata itu kabarnya sulit bukan kepalang.

Pada tanggal 12 Juli lalu, Puthut datang lagi dengan membawa rombongan untuk melakukan ekspedisi kopi dan cengkeh di Munduk. Dalam tim ini terdapat juga penulis-penulis yang amat piawai dan masih muda.

Ada Fawaz Al Batawy, ketua ekspedisi, sarjana nuklir yang memilih mengabdikan hidupnya untuk anak-anak yang sulit mendapatkan akses pendidikan lewat institusi Sokola Rimba sambil aktif menulis. Novel pertamanya “Yang menyublim di sela hujan”, baru saja diterbitkan. Di markas ekspedisi, lelaki yang beristrikan orang Seririt ini punya panggilan Pak Guru Fawaz.

Kemudian ada Aditia Purnomo, lelaki tambun yang biasa dipanggil Adit Indomie ini, selain aktif menulis adalah aktivis dan ketua Komunitas Pecinta Kretek. Anak muda energik ini punya ketrampilan istimewa yaitu memasak Indomie.

Dan yang terakhir, anak muda berbadan besar tapi berhati lembut yang bercita-cita menjadi Romo. Dan di markas dia punya panggilan “Seno tepeng” karena kecintaannya kepada makanan khas Munduk yaitu bubur tepeng. Nama panjangnya Yamadipati Seno, penulis rutin rubrik bola di beberapa media.

Ketiga orang ini ditempa secara langsung oleh sang kepala suku. Mereka membuat setidaknya dua tulisan setiap hari selama di Munduk. Tulisan-tulisan mereka menjadi tulisan awal di munduk.co, yang desain situswebnya sudah disiapkan sebelum berangkat ke Munduk.

 

Sebelum diunggah, konten dan rubrikasinya didiskusikan dulu. Kami sepakati bahwa kontennya menekankan Desa Munduk sebagai desa pertanian dan desa budaya yang punya potensi pariwisata. Dan rubrikasinya kita buatkan akronim ARAK, dengan kepanjangan Alam, Religi, Aneka, dan Komoditas.

Dan seperti sulapan saja, hari ini kita sudah bisa menikmati tulisan-tulisan mereka di munduk.co. Tulisan-tulisan awal masih diisi oleh mereka bertiga. Ini juga menjadi semacam penggambaran bagaimana desa ini menurut sudut pandang orang yang bukan dari Munduk.

Dari pancingan tulisan-tulisan ini diharapkan akan muncul reaksi dan tanggapan dari masyarakat Munduk, termasuk mereka yang tengah merantau. Setelah tim Ekspedisi Munduk meninggalkan Munduk nanti, maka pengelolaan munduk.co ini akan sepenuhnya diserahkan kepada warga. Tentu saja, masih dengan supervisi yang ketat dari mereka.

Setelah mimpi yang terpendam sekian lama kini sudah menjelma nyata, saya berharap tujuan-tujuan keberadaan media ini, seperti yang saya sampaikan di awal tulisan, juga bisa menyusul terwujud. Berinteraksi dengan media kekinian sambil dengan bangga tetap menjaga nilai-nilai luhur yang kita punya.

Terima kasih yang tidak bisa dihitung saya sampaikan kepada Puthut dan tim, yang sudah menghibahkan media ini kepada kami, masyarakat desa Munduk. Jika berkenan, kalian akan kami tahbiskan sebagai warga kehormatan desa Munduk.

Tabik dan hormat untuk kalian.

Salam dari desa.

mm
Bendesa Adat Desa Munduk