ANEKA

Munduk dan Sebuah Kabar Baik

04/08/2017
oleh:

Saya sedang minum kopi di sebuah kedai yang menghadap ke laut di dekat bekas dermaga pelabuhan Buleleng ketika ponsel saya berdering. “Sudah tahu nggak, Bli, baru dua minggu dirilis, Munduk.co sudah nongol di Alexa?” Suara Adit di seberang terdengar bertenaga.

Selain dorongan hasratnya dalam upaya menyampaikan kabar baik, suara itu saya yakin ditenagai oleh pulihnya pola konsumsi lama yang selama berada di Munduk mati-matian ia hindari: Indomie goreng plus dua telur. Di Jogja, Adit dan menu kesayangannya itu tentu sudah berdamai.

“Belum, Dit. Bli belum tahu. Lagian Bli nggak mungkin tahu, wong cara-cara mengetahuinya saja Bli nggak ngerti, kok.” Firasat saya, di Jogja sana, Adit disambar rasa terharu mendengar kegagapan saya dalam soal teknologi informasi.

Selama rentang percakapan beberapa menit itu, saya bayangkan satu persatu wajah tulus semua anggota Tim Ekspedisi yang dalam beberapa puluh hari terakhir melakukan kerja besar untuk Munduk, Buleleng, serta Bali secara umumnya. Tentu dalam ranah yang sangat mereka kuasai, yakni pengadaan media informasi dan pemberdayaan para petani.

Walau ujung-ujungnya, wilayah kerja mereka meluas hingga ke aspek-aspek yang lebih detail. Peran subak, misalnya. Atau dampak pariwisata terhadap surutnya minat anak-anak muda dalam bertani. Rantai pemasaran berbagai komoditas pertanian. Besaran alih fungsi lahan yang mau tidak mau mengancam wilayah pertanian produktif, dan seterusnya.

Buah kerja mereka terlalu banyak untuk saya tulis, begitu pun limpahan manfaat yang kami dapat. Kami sebut kedatangan mereka sebagai berkah paling tidak untuk tiga alasan:

Pertama, data yang mereka sampaikan terkait dua komoditas utama desa kami: cengkeh dan kopi. Desa kami yang berada di utara pulau Bali merupakan salah satu cengkeh terbaik di Indonesia dari sisi aroma. Berikutnya, kopi arabika Tamblingan – setelah melalui serangkaian uji coba – layak disejajarkan dengan ‘single origin’ lain yang berasal dari daerah-daerah penghasil kopi utama di Indonesia. Lagi-lagi kabar baik, bukan?

Kedua, transformasi pengetahuan yang berlangsung cair antara Tim Ekspedisi dengan warga desa. Hal-hal yang terbahas tentu menyangkut salah satu persoalan mendasar yang selama ini acapkali diabaikan oleh para petani. Yaitu, pengolahan pascapanen komoditas-komoditas pertanian unggulan melalui metode-metode sederhana, sangkil lagi berbiaya murah.

Ketiga, jurus-jurus dalam menyiasati sengkarut prosedur birokrasi pemerintah dengan cara, misalnya, membangun akses ke lini-lini industri untuk tujuan menunjang daya saing, memelihara jaringan antar petani, menguatkan relasi antar komunitas tradisional yang sudah ada, dan yang tak kalah penting: memanfaatkan teknologi informasi.

Munduk.co berhasil menembus ranking alexa Indonesia

Kembali ke soal Alexa tadi. Saya ingat satu percakapan dengan Puthut, semacam diskusi yang kami lakukan saban malam buat mereview apa-apa yang Tim dapatkan sepanjang hari itu. “Jarang ada desa yang seberuntung Munduk, Bli,” katanya sambil mengupas pisang ketip rebus kesukaannya.

“Selain air yang melimpah, Munduk memiliki variasi ketinggian yang unik, membentang dari ketinggian 600 sampai 1100 mdpl. Kenyataan yang memungkinkan petani-petani di sini bebas membudidayakan berbagai jenis tanaman pertanian. Mulai cengkeh, kopi, kakao, padi, jenis buah-buahan serta sayuran termasuk budidaya bunga.”

Puthut benar. Tanpa bermaksud bertinggi hati, sebagai warga Munduk saya berkali-kali merasa diselamatkan oleh kondisi geografis tadi. Maksud saya begini. Dulu, di era 90-an semasa petani cengkeh terpuruk akibat anjloknya harga karena BPPC, komoditas kakao datang sebagai penyelamat dengan harganya yang tinggi.

Selain itu, kakao cenderung cocok ditanam di segala kondisi tanah, pun dengan ongkos produksi yang terbilang rendah. Contoh lain, tatkala cengkeh beberapa kali mengalami gagal panen oleh sebab curah hujan yang tinggi, Munduk punya tiang penyangga lain dalam wujud pariwisata. Begitulah tiap aspek saling menopang sehingga, sekali lagi, seperti kata Puthut, jarang ada desa yang seberuntung Munduk.

Kedatangan Tim Ekspedisi Munduk yang memilih desa ini sebagai laboratorium penelitian cengkeh dan kopi adalah rangkaian keberuntungan lain berikutnya. Banyak pernak-pernik kekayaan desa yang berhasil Tim Ekspedisi gali. Kekayaan yang sebelumnya luput kami pantau, endus, sadari atau rasakan.

Kedatangan Tim yang dipandegani Puthut EA ini akhirnya menyadarkan kami sebagai warga desa, betapa terberkatinya desa kami. Lebih khusus lagi, kedatangan mereka menumbuhkan kepercayaan diri serta harapan kami sebagai petani. Mereka menanamkan pemahaman bahwa dunia pertanian, dilihat dari sisi manapun, adalah sektor vital yang tak boleh mati.

Kemunculan Munduk.co di Alexa web ranking hanya salah satu pembuktian kerja besar Tim Ekspedisi Munduk yang selama sekian puluh hari mereka lakukan dengan sungguh-sungguh. Terima kasih yang setinggi-tingginya, juga doa-doa baik untuk kalian sebagaimana kebaikan-kebaikan yang kalian tanam untuk kami. Tabik.

mm
Petani