KOMODITAS

Panen Raya Tahun Ini Tidak Mudah Mencari Buruh Petik Cengkeh

01/09/2018
oleh:

Panen raya cengkeh tahun ini di Munduk membawa kabar yang cukup menarik. Selain harganya tidak sebagus tahun-tahun terdahulu yang bisa tembus di atas 100.000/Kg. Pada tahun ini baru tembus sampai Rp 90.000/Kg. Setidaknya setelah melewati dua musim tidak mendapat panen. Tahun 2018 ini panen yang demikian merata justru menimbulkan fenomena baru. Banyak petani cengkeh mendaku kewalahan. Terutama soal ketersediaan buruh petik cengkeh.

Tiadanya panen cengkeh pada dua musim lalu menjadi satu penyebabnya. Sehigga muncul pula fenomena penjualan daun cengkeh. Tidak sedikit juga para buruh petik maupun warga lokal yang memilih kerja di lain sektor. Sektor pariwisata salah satunya.

Tak heran jika kemudian ada beberapa bunga cengkeh yang sudah keluar sarinya lantaran tidak segera dipetik. Kualitas cengkeh seperti ini dianggap bukan kualitas super. Kualitas super itu terlihat kepala bunganya tidaklah pecah, warnanya pun tidak memerah matang.

Kualitas super ini dari sisi berat pun berbeda jika kita timang dalam genggaman, tentu pula harganya jauh lebih tinggi dibanding cengkeh-cengkeh yang telat dipetik. Hal ini kiranya pun serupa dengan proses pada panen tembakau. Ada bagian daun pada pokok tembakau yang tingkat matangnya pas untuk pencapaian grade (kualitas) yang sesuai standar pabrikan. Terlihat dari warnanya yang kuning.

Pada masa panen seperti ini di beberapa sentra tembakau pun menyerap banyak buruh petik sekaligus buruh angkut yang datang dari tetangga desa maupun berbagai kota sekitarnya. Di sektor cengkeh, seperti halnya di Munduk terjadi serupa. Para pemetik cengkeh banyak yang didatangkan dari luar desa. Tak jarang beberapa pemetik cengkeh dari luar bermukim di tengah perkebunan, membangun tenda sekadarnya.

Ada dua kategori sistem pengupahan yang berlaku di Munduk. Ada sitem borongan dan sitem harian. Sistem borongan dibayar sesuai dengan berat cengkeh yang berhasil dipetik, biasanya per kilogramnya Rp 5,000, besaran upah ini kadang pula tergantung kebijakan dari pemilik kebun. Lain halnya dengan sistem harian, biasanya dibayar Rp 100.000 per hari, dengan durasi kerja 8-9 jam. Dimulai dari pukul 07.00 pagi dan selesai maksimal sampai jam 16.00.

Berapapun berat yang didapat dari hasil petik cengkeh, buruh petik dengan sistem harian tetap dibayar Rp 100.000. Nilai upah tersebut terkadang pula tergantung kebijakan pemilik lahan. Ada juga pemilik lahan yang sudah punya beberapa anak buah untuk merawat kebun cengkehnya. Para anak buah yang biasa merawat kebun ini biasanya juga mengambil peran sebagai pemetik cengkeh, dibayar secara harian di luar gajinya sebagai perawat kebun.

Pak Putera, salah seorang pemilik lahan cengkeh di Munduk yang memiliki luas lahan 1,5 hektar, kebetulan berbatasan dengan lahan Bli Komang Armada. Ia mendaku kerepotan mencari buruh petik borongan pada panen raya ini. Pasalnya, masa pemetikan cengkeh di luar desa Munduk belum sepenuhnya selesai. Banyak dari mereka (buruh petik cengkeh) masih menyelesaikan kerja borongan di sana. Sementara di sini, di Desa Munduk, panen cengkeh juga sudah harus segera dipetik.

Berbeda dari panen cengkeh yang sudah-sudah, biasanya pemetikan cengkeh sudah selesai 50%-nya, dan di Munduk baru mulai panen. Sehingga siklus buruh petik dapat berlangsung lancar, ketika di luar Munduk selesai, para buruh itu bisa lanjut memetik cengkeh untuk kebun-kebun di Munduk.


Ada hal menarik dari perkembangan metode kerja di kalangan buruh petik cengkeh. Terutama dalam konteks keselamatan kerja. Jika pada umumnya buruh petik mengandalkan cara-cara tradisional, menggunakan tambang dan tangga. Lain halnya dengan Komang Budi alias Komang Bondol, yang berstatus anak buah Bli Komang Armada. Ia memiliki fasilitas Body Harness yang cukup menunjang keselamatannya saat melakukan kerja petik cengkeh.
Fasilitas ini didapat dari salah satu industri rokok yang pernah memberikan pelatihan terkait keselamatan kerja di lingkung perkebunan cengkeh. Berangkat dari situlah akhirnya sampai sekarang Komang Bondol punya Body Harnes yang kerap dia gunakan saat harus memanjat pohon-pohon cengkeh setinggi puluhan meter.

Selain kerja sehari-hari merawat kebun cengkeh, Ia juga terlibat merawat kebun kopi Bli Komang Armada. Sungguh beruntung pada Sabtu siang kami dapat melihat proses Komang Bondol menggunakan alat kerjanya. Kami jadi mengetahui adanya perbedaan alat penunjang yang tradisional dan yang modern. Namun Komang Bondol dan beberapa temannya sesama buruh petik yang sempat mencoba alat tersebut, mengaku lebih nyaman dan leluasa menggunakan alat tradisonal.

mm
Sedang Belajar