ANEKA

Sate Madura di Desa Munduk

28/07/2017
oleh:

Bondan Winarno, pakar kuliner Indonesia, menyebut, “Indonesia memiliki ratusan jenis sate.” Dan salah satu jenis sate yang mudah ditemui adalah sate Madura. Di Desa Munduk, Bali Utara, menemukan sate Madura memang mudah. Saking mudahnya, karena hanya ada satu warung sate Madura di sini.

Tempatnya sebelum pasar setempat, berada pinggir jalan, di sisi kiri dari arah penginapan Don Biyu. Nama pemiliknya Ibu Mulyani. Sudah 10 tinggal di Munduk, ia mewarisi usaha berjualan sate dan gulai dari sang suami. Ibu Mulyani dan suaminya berasal dari Blega, Bangkalan, Madura.

Sebelum menetap di Munduk, mereka tinggal di desa Kayu Putih, desa sebelah. Suaminya berjualan sate keliling dengan dipanggul, berjualan sampai ke sekitar Danau Tamblingan. Karena lebih ramai dan menjanjikan, mereka memutuskan pindah ke Munduk. Tetapi, beberapa tahun lalu, suami ibu Mulyani meninggal, sehingga ia sendiri yang harus menghidupi keluarga.

Ibu Mulyani sudah memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) Munduk. Sekarang berumur 44 tahun, memiliki empat anak, tiga perempuan dan satu laki-laki. Ketiga anak perempuan sehari-harinya membantu berjualan sate. Buka mulai pukul setengah delapan pagi sampai pukul delapan malam.

Sate ayamnya berbumbu kacang khas sate ayam Madura. Yang unik dan menggelitik adalah gulai ayamnya. Sependek pengetahuan saya, di mana-mana gulai pasti pasangannya dengan kambing. Tetapi ini beda, bumbunya gulai dagingnya ayam. Sehingga saat mencicipi kuahnya, ada semacam bayangan rasa gulai kambing, tetapi kenyataannya dagingnya tetap ayam.

Warung ibu Mulyani cukup sederhana, menyatu dengan tempat tinggal mereka yang masih mengontrak. Ada satu gerobak, tempat bakar sate, dua meja dan kursi panjang untuk berjualan. Setiap harinya, kebutuhan daging ayam dipasok dari daerah Sririt. Alasannya, karena harganya relatif lebih murah daripada membeli di pasar Munduk. Biasanya, warung Ibu Mulyani menghabiskan sekitar lima kilogram daging ayam per hari.

“Tapi itu sekarang, saat cengkeh tidak panen seperti ini, mas.” Kata Ibu Mulyani menegaskan. Berbeda halnya di saat musim panen cengkeh. Dalam sehari jualan sate dan gulai bisa menghabiskan antara sepuluh sampai lima belas kilogram daging ayam.

Ibu Mulyani merasakan dampak atas tidak adanya panen cengkeh tahun ini. Tidak banyak orang yang datang ke Munduk untuk mencari (ngalap) cengkeh. Tidak banyak juga lalu-lalang orang dari luar Munduk yang mampir ke warunganya. Karena biasanya, orang-orang dari luar Munduk, beberapa di antaranya yang muslim, sering makan di tempatnya.

Selain merasakan kesejahteraan dari hasil usahanya, Ibu Mulyani juga merasa aman selama tinggal di Munduk. Meskipun memiliki latar belakang perbedaan suku dan agama, ia mengaku tidak pernah mendapat gangguan, baik usaha maupun keluarganya. Oleh karena itulah, ia bersama anak-anaknya betah tinggal di Munduk.

Hanya sebentar-sebentar saja, ia pergi ke tempat sanak-saudaranya di luar Munduk. Paling lama seminggu. Itu pun di saat Lebaran, Idul Adha, atau saat ada saudaranya di Singaraja, Besuki (Situbondo), dan Bangkalan (Madura) memiliki hajatan.

Ada satu harapan Ibu Mulyani yang masih belum dipenuhi. Jika kelak ia mendapat menantu laki-laki yang bisa memotong kambing, maka ia akan menjual sate dan gulai kambing. Kalau pun tidak bisa, harapan satu-satunya ialah pada anak laki-lakinya yang masih duduk di kelas lima SD (Sekolah Dasar).

Yang pasti, ia ingin di Munduk ada warung sate kambing. Sehingga orang-orang luar, baik pencari cengkeh dan sebagainya yang muslim bisa mampir ke warungnya. Tentu saja dengan tambahan menu baru, sate dan gulai kambing.