ANEKA

Seandainya Seluruh Kepala Desa Seperti Putu Ardana

01/08/2017
oleh:

Saya orang yang percaya bahwasanya tempat tertentu mampu menempa manusia menjadi pribadi-pribadi yang berbeda dari sebelum manusia tersebut tinggal dan singgah di sebuah tempat.

Pertanyaan selanjutnya, seberapa besar pengaruh sebuah tempat mengubah seseorang? Durasi waktu menetap di sebuah tempat, hubungan dengan manusia lain, dan kondisi lingkungan di tempat tersebut, saling silang memberi pengaruh. Baik pengaruh besar atau kecil.

Yogyakarta, saya kira adalah satu dari sekian banyak tempat itu. Daya tarik Yogya, manusia-manusia di sekitarnya, dan kondisi lingkungan yang membentuk ekosistem, mengubah banyak manusia yang singgah sejenak di sana. Lebih lagi mereka yang menetap cukup lama.

Putu Ardana salah satunya. Saya mengenalnya langsung sekira tiga pekan yang lalu saat senja dengan tiupan angin yang cukup kencang di kediamannya di Desa Munduk, Buleleng, Bali. Mengenakan kemeja putih, tutup kepala khas Bali yang juga berwarna putih, serta sarung dengan motif tradisional Bali, Putu Ardana menyambut kedatangan tim pertama Ekspedisi Munduk.

Sepucuk bunga bertengger di sela telinga kanannya, dan beberapa butir beras menempel di dahi. Sebelumnya, saya hanya mengenal beliau lewat tulisan-tulisannya di media sosial.

Sejak pertemuan pertama itu, di pagi-pagi yang berselimut kabut, saat senja dengan sinar matahari yang hampir habis, dan di malam-malam yang dingin dan semakin dingin memasuki dini hari di Desa Munduk, Putu Ardana menceritakan kepada saya dan tim Ekspedisi Munduk tentang kisah hidupnya.

Mukim di Yogya dan tanggung jawab keluarga

Cerita-cerita darinya berlompat-lompatan dari satu fase ke fase lainnya di sela obrolan lain tentang pertanian cengkeh, sejarah dan kondisi Desa Munduk kekinian, dan bermacam obrolan lainnya.

Pada tahun 1994, datang kabar dari orang tuanya di Munduk. Bapak dari Putu Ardana meminta anak lelakinya itu kembali ke desa. Tanaman cengkeh dan kopi di kebun miliknya butuh tenaga tambahan untuk dikelola dengan baik.

Selain itu, keharusan menjaga keluarga besar di desa juga sudah harus mulai dilatih perlahan-lahan. Putu Ardana memenuhi panggilan itu. Meninggalkan Yogya yang sudah ia diami selama 11 tahun. Meninggalkan bisnis kaos sablon merek “Jaran” yang ia rintis bersama beberapa orang rekan yang mulai tumbuh pesat.

Ia menerima dan mengambil tanggung jawab besar yang dibebankan. Yogya, yang telah menempa dirinya, membangun daya tahan, dan memberikan bermacam pelajaran, ia tinggalkan bersama bermacam kenangan.

Selama 11 tahun di Yogya, memilih untuk mendalami ilmu ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Putu Ardana banyak meninggalkan jejak-jejak yang hingga saat ini masih begitu membekas.

Di sela kesibukan mempelajari ilmu ekonomi, bersama tiga orang rekan lainnya, Ia mendirikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Selam yang bermarkas di gelanggang mahasiswa UGM. Selain itu, Ia juga ikut mendirikan UKM Bridge.

Tak cukup sampai di situ, ia juga aktif di Palmae, organisasi pencinta alam Fakultas Ekonomi UGM. Sedangkan hobi bermain basket ia salurkan via UKM Basket UGM. Tak hanya menjadi atlet, Putu Ardana juga sempat menjadi manajer UKM Basket UGM.

Ada cerita menarik sebelum Putu Ardana mendirikan UKM Selam UGM. Ia dikirim langsung oleh rektor UGM saat itu untuk ikut kursus selam di Jakarta. Ia tak bisa berenang. Namun setelah dua pekan mengikuti pelatihan keras di Jakarta, ia menjadi lulusan terbaik saat itu.

Di luar kampus, ia mencoba untuk berbisnis. Mendirikan usaha kaos bernama “Jaran” yang saat itu, Dagadu menjadi salah satu pelanggan tetapnya.

Masa kecil dan tanggung jawab sebagai Bendesa

Sebelum menginjakkan kaki di Yogya, Putu Ardana menghabiskan sebagian masa kecilnya di Desa Munduk. Menjadi siswa berprestasi di Sekolah Dasar di Desa Munduk, ia diminta langsung oleh salah satu SMP unggulan di Singaraja untuk bersekolah di sana. Ia kemudian melanjutkan sekolah di SMA 1 Singaraja yang saat itu menjadi SMA unggulan di Bali.

Kegemarannya menonton adu ayam dan bersepeda membuatnya sempat lupa jika harus bersekolah di awal tahun ajaran setelah libur cukup panjang. Namanya sempat dicoret dari daftar siswa karena lebih sebulan tidak masuk kelas di awal masa sekolah.

“Munduk ini desa pertanian dengan tradisi dan budaya yang mengakar dalam di kehidupan warganya. Pariwisata sebatas bonus saja, bukan yang utama di sini.” Ujar Putu Ardana mengenai Desa Munduk.

Munduk adalah desa yang terletak di wilayah Bali bagian utara. Bersama tiga desa lainnya, Munduk tergabung dalam catur desa dengan kesamaan budaya serta adat istiadat yang memandu ritus-ritus upacara adat bersama.

Karier Putu Ardana di desa dimulai saat ia dipercaya menjadi ketua Tim Sembilan yang dibentuk Masyarakat Adat Dalem Tamblingan Catur Desa. Itu terjadi pada tahun 2003, lima tahun setelah Ia menikah di usia 42 tahun.

Tugas Tim Sembilan Catur Desa untuk menangani permasalahan-permasalahan yang dialami keempat desa yang tergabung dalam catur desa. Permasalahan apa saja yang datangnya dari luar dan mengganggu stabilitas catur desa menjadi tanggung jawab tim sembilan.

Sembari aktif di tim sembilan, Putu Ardana mulai mengurus kebun cengkeh, kopi, dan lahan yang ditanami tanaman bunga hortensia warisan orang tuanya.

Pada tahun 2011, seiring semakin berkembangnya pariwisata di Desa Munduk, ia membuka usaha restoran yang diberi nama Don Biyu. Selang empat tahun berikutnya, Don Biyu berkembang dengan menyediakan enam kamar penginapan.

Tahun 2013, Putu Ardana dicalonkan sebagai Bendesa (Kepala Desa Adat) Desa Munduk. Ia sesungguhnya enggan untuk ikut pemilihan Bendesa.

Namun, banyaknya warga yang memaksa dirinya untuk ikut pemilihan, bahkan beberapa ada yang mengancam akan mendemonya jika enggan dicalonkan, Putu Ardana akhirnya bersedia, dan memenangi pemilihan Bendesa Desa Munduk dengan suara mutlak.

Pengalaman selama di Yogya membuatnya mampu menyesuaikan diri untuk terlibat aktif di tim sembilan dan kemudian menjadi Bendesa.

Kesibukan barunya sebagai Bendesa membuat ia harus mengurus Desa Munduk dengan sepenuh hati. Terutama segala urusan warga yang terkait dengan adat, dari urusan tetek bengek sampai keurusan yang berat dan serius. Memenuhi banyak undangan, didatangi warga yang nyaris tak pernah putus, baik yang berurusan maupun yang sekedar beranjangsana, menghadiri bermacam upacara, dan menghadiri bermacam rapat demi kemaslahatan desa dengan 6000an jiwa penghuni ini.

Putu Ardana (berbaju hitam) tengah memainkan angklung.

Bulan September tahun lalu, ia sempat memimpin anak-anak belia dari Desa Munduk untuk mementaskan karawitan Bali, gong kebyar lengkap dengan tariannya di Yogyakarta, ikut ambil bagian dalam Asiatri Festival yang tersohor itu. Mengajak 50 orang anak-anak Desa Munduk, 85 orang kalau dihitung dengan para orang tuanya, untuk datang langsung ke kota tempat di mana ia menempa diri selama 11 tahun.

Sejauh ini, tantangan terberatnya selama menjadi Bendesa adalah ketika harus merelokasi warga yang tinggal di tepi Danau Tamblingan. Danau yang suci dan disucikan Masyarakat Adat Catur Desa Dalem Tamblingan, harus dijaga kesakralannya.

Proses ini akhirnya menyebabkan Putu Ardana dan para petinggi desa dianggap melanggar HAM dan dilaporkan ke Komnas HAM oleh mereka-mereka yang merasa sebagai aktivis HAM namun sama sekali tidak memahami konteks lokal dan tradisi serta kepercayaan masyarakat adat di sini.

Sejak terpilih menjadi Bendesa Desa Munduk, sudah banyak tindakan progresif yang ia lakukan untuk perubahan di Desa Munduk. Impiannya agar warga Desa Munduk bisa menerima manfaat dari perubahan zaman sembari tetap mempertahankan tradisi dan budaya yang telah ratusan tahun dijalankan, perlahan-lahan mulai terasa.

Petani

Di bidang pertanian, perannya cukup besar. Dorongan darinya agar Bupati Buleleng mengeluarkan aturan untuk menyelamatkan pohon cengkeh berhasil. Eksploitasi berlebihan terhadap daun pohon cengkeh yang dapat merusak tanaman cengkeh berhasil dihentikan.

Saat ini, Putu Ardana sedang menyiapkan pemetaan geografis dan sosial di Desa Munduk. Pemetaan berbasis partisipatif dengan memanfaatkan sumber daya desa dan perkembangan teknologi Geographic Information System (GIS) pada sistem pemetaan modern. Semua ini tentu saja untuk kebaikan dan kemajuan desa yang ia pimpin.

Beberapa hari lagi, ayah empat anak ini akan berulang tahun memasuki usia yang jauh diatas paruh baya. Namun, keseharian beliau, caranya bergaul dengan masyarakat, dan terutama, cara ia memperlakukan tim Ekspedisi Munduk selama kami berkegiatan di Desa Munduk, tidak memperlihatkan usianya itu.

Masih enerjik, pandai bergaul, dan gemar guyon, membuatnya terlihat masih tetap muda, terlihat seusia dengan kebanyakan anggota tim Ekspedisi Munduk.

Saya sempat berandai-andai, jika saja seluruh kepala desa di negeri ini seperti Putu Ardana, saya yakin, negeri ini akan baik-baik saja. Merdesa dan sejahtera.

Menjalani keseharian bersama Putu Ardana lebih dari tiga pekan, memberikan saya begitu banyak pelajaran. Dari diskusi, obrolan, dan bermacam laku keseharian yang ia jalani, saya mengunduh banyak manfaat tentu saja.

Terima kasih, Bli Putu, untuk sambutannya, untuk perjamuannya, untuk diskusi-diskusi sedari pagi hingga dini hari, dan untuk berbagai macam manfaat yang saya dan tim Ekspedisi Munduk terima selama menumpang di kediaman Bli Putu.

Suksma.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan