ANEKA

Bakaran: Undangan dan Wujud Terima Kasih Kepada Bendesa

24/07/2017
oleh:

Tinggal di Don Biyu, penginapan milik Bendesa (Kepala Desa Adat) Munduk, memberi banyak kemudahan bagi Tim Ekspedisi Munduk. Mencari narasumber yang tepat, mengakses informasi, menghimpun data, dan menentukan tema-tema yang menarik untuk tuliskan adalah beberapa keuntungan yang kami dapat.

Tentu saja, Bendesa Munduk juga menjadi narasumber tempat menggali banyak informasi, sekaligus memverifikasi informasi yang berhasil dikumpulkan dari banyak tempat.

Mengamati rutinitas keseharian Bendesa jadi nilai tambah. Kerap, kami menemukan hal-hal menarik untuk diketahui lebih dalam. Orang-orang sering menyebut ini sebagai observasi. Seperti yang saya lihat beberapa hari yang lalu, seorang warga mengantar wadah dari anyaman bambu dengan bermacam isi untuk diserahkan kepada Bendesa. Di sini orang menyebutnya Bakaran atau Kawisan.

Bakaran berisi kumpulan sesaji, umumnya berisi beras, nasi, lauk pauk, sayuran, caru, sirih lengkap dengan pinang dan kapur, dupa, arak brem, dan darah mentah yang diwadahi bambu. Darah yang umum digunakan adalah darah babi. Lauk pauk yang ada dalam bakaran juga olahan dari daging babi. Ada tiga jenis lauk pauk yang di sini disebut lawar, lawar merah, putih, dan campuran merah dan putih.

Bakaran akan diterima oleh Bendesa saat ada hajatan-hajatan besar yang diselenggarakan di Desa Munduk atau hajatan besar yang dihelat oleh catur desa (Desa Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umujero). Biasanya, hajatan yang dilakukan warga desa yang mensyaratkan adanya bakaran adalah upacara Ngenteg Linggih (pendirian pura keluarga) dan Ngaben (upacara kematian).

Pihak keluarga yang menyelenggarakan upacara ini pasti mengantar bakaran untuk bendesa. Untuk tingkat desa, selain bendesa, bakaran juga diantar untuk perbekel (kepala desa dinas) dan kliyan subak (semacam ketua kelompok tani yang mengurus pengairan sawah dan urusan pertanian lain). Untuk acara yang diselenggarakan catur desa, hanya bendesa yang mendapat bakaran.

Fungsi utama bakaran adalah sebagai undangan sekaligus ucapan terima kasih. Undangan untuk menghadiri acara dan ucapan terima kasih karena sudah turut serta menghadiri upacara. Untuk acara tingkat desa, bendesa sering mendapat dua bakaran, satu sebagai undangan sebelum upacara, dan satu lagi sebagai ucapan terima kasih setelah upacara.

Sebelum bisa dimanfaatkan, bendesa wajib mengupacarakan bakaran tersebut. Membacakan doa-doa dan memberitahukan adanya upacara kepada makhluk dari dimensi lain yang mengiringi taksu (energi yang mengiringi bendesa). Dupa, caru, dan arak brem adalah sajian yang memang dikhususkan untuk makhluk dari dimensi lain itu.

Bakaran yang saya lihat beberapa hari yang lalu digunakan untuk upacara yang diselenggarakan oleh catur desa, upacara Karya Dalu, lilitan karya (rangkaian upacara) Masyarakat Adat Dalem Tamblingan. Upacara ini adalah bagian dari rangkaian upacara yang memiliki filosofi sebagai bentuk penghormatan kepada air sebagai sumber kehidupan utama yang diyakini Masyarakat Adat Dalem Tamblingan.

Semua informasi di atas bisa kami dapat karena kami tinggal di penginapan milik bendesa dan sehari-hari banyak berinteraksi dengan beliau. Jika banyak orang bilang posisi menentukan prestasi, bagi saya di sini, posisi memberikan banyak informasi. Informasi berharga dan menambah khazanah pengetahuan.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan