KOMODITAS

Bertani Cengkeh: Tentang Keseimbangan Laku Memberi dan Menerima

31/08/2017
oleh:

Harga satu kilogram daun cengkeh kering per hari ini (30/8) berada di kisaran Rp1.200. Jika satu kilogram daun cengkeh tersebut dijerengkan di atas sebuah permukaan tanah seluas kira-kira satu meter persegi, tebal tumpukannya antara 10 hingga 15 sentimeter.

Seumpama jagat pertanian itu sebuah panggung raksasa, saya tidak lebih dari seorang “punakawan” di belakang sederet aktor utama. Tanah, udara, air, tanaman, cuaca, iklim, dan, terakhir: keberuntungan. Kepada keseluruhannya, saya, juga para petani lain, berutang budi.

Hemat saya, bertani itu soal prinsip merawat keseimbangan antara aktivitas memberi dan menerima. Sebuah prosedur kerja patungan yang idealnya berlangsung adil antara manusia dengan aset-aset yang tersedia di alam, yang kepadanya manusia bergantung. Begitu ada komponen yang dicederai, kerja patungan yang dimaksud itu limbung, kehilangan keseimbangan.

Saya beri ilustrasi sedikit. Di sebuah hutan alam (alas tutupan, Bahasa Bali), yang elemen penyusunnya masih utuh, relatif steril dari campur tangan manusia, akan kita dapati sebuah sistem ekologi yang bekerja sempurna: siklus energi, rantai makanan, seleksi alam, ketersediaan hara, kelangsungan hidup jasad renik pengurai, stabilitas iklim mikro, keragaman vegetasi, semua terjaga. Mereka pekerja-pekerja sunyi yang punya andil tidak ternilai.

Sebagai pembanding, situasi berbeda kita jumpai pada hutan rakyat, hutan perkebunan, hutan konservasi, Hutan Tanaman Industri, atau jenis hutan lain yang rata-rata telah mengalami rekondisi dan diproyeksikan untuk tujuan industri. Beberapa penyusunnya sudah tercuri atau untuk alasan tertentu, sengaja dilenyapkan.

Dari dua ilustrasi di atas, kiranya dapat diperoleh kesimpulan kasar bahwa indeks kualitatif ekosistem hutan berbanding lurus dengan intensitas campur tangan manusia, dalam berbagai bentuk.

Kebun cengkeh sebagai industri

Perkebunan, pada prinsipnya, tak berbeda jauh dengan hutan alam, setidaknya dari sisi persyaratan minimal yang dibutuhkan manusia sebagai daya dukung terhadap ekosistem. Yang membedakan, terutama, adalah ketika pada perkebunan ditambahkan kata “industri”.

Industri perkebunan dibangun berlandaskan konsepsi ekonomi manusia, dalam konteks pertanian, untuk tujuan peningkatan kesejahteraan. Teorinya begitu. Di wilayah praktik, yang jamak terjadi adalah, kita merangsek terlalu jauh, banyak membekaskan cacat pada bangunan yang awalnya kita niatkan mulia tadi dengan tindak eksplotatif berlebihan.

Kita mengambil melampaui satuan ambang batas dan tak sebanding dengan jumlah wajib yang sepatutnya kita kembalikan atau beri.

Begini. Saat panen berlangsung di sebidang kebun cengkeh produktif yang, katakanlah usia rata-rata pohonnya di atas 10 tahun, selain bunga, pada saat yang sama terdapat massa lain yang turut kita ambil sebagai ikutan.

Mulai dari daun, tangkai, bahkan ranting atau patahan-patahan cabangnya digunakan sebagai kayu bakar. Meski tidak seutama bunga, bagian-bagian lain tadi tetap saja memiliki nilai ekonomi bagi petani.

Saya kilas mundur sedikit. Penanaman pohon cengkeh di Desa Munduk, Bali Utara, sejatinya berlangsung terus-menerus setiap kali musim tanam antara November hingga Januari. Hanya, penanaman secara masif dilakukan antara tahun 1968 hingga 1986. Data masa tanam ini menjadi penting paling tidak karena dua alasan.

Pertama, sebagai panduan visual dalam mereka-reka sejumlah variabel dasar seperti usia tegakan pohon, besaran tajuk, lingkar pohon, rapat percabangan, dan akhirnya, kandungan massa serta kemampuan pohon itu berproduksi.

Kedua, tahun mulai penanaman (1968) menjadi penanda bahwa secara kultural. Warga Munduk sudah sejak lama menjalin keintiman dengan rempah berjuluk “emas coklat” ini.

Kembali ke soal pokok. Massa terambil yang terdiri dari beberapa bagian tanaman, terutama bunga, nilainya tidak sedikit, baik secara jumlah, cadangan hara minimum bagi tanaman tersebut, maupun nominal harga.

Contoh, pada satu pohon cengkeh berusia 20 tahun yang menghasilkan 30 kilogram bunga kering, ada massa mentah yang terdiri dari bunga, daun, dan tangkai sejumlah 120 kilogram yang terambil sewaktu panen.

Sampai di sini, hitung-hitungan skor “memberi dan menerima” masih memenangkan petani. Persoalannya, seusai panen akan adakah reward untuk tujuan pengembalian sejumlah massa yang hilang itu dilakukan oleh petani? Reaksi tiap petani atas kedua tindakan prinsip ini bermacam-macam. Saya kesulitan merumuskan ke dalam angka-angka.

Yang umum terjadi, gairah memanen (mengambil) selalu lebih menggebu-gebu dibandingkan dengan kesediaan menunaikan kewajiban mengembalikan sejumlah massa yang hilang tadi. Hal ini mudah dimaklumi, sebab bukankah secara naluriah kita memang lebih nyaman mengambil ketimbang memberi (mengembalikan)?

Transaksi daun cengkeh kering.

Didukung oleh harga cengkeh yang terbilang stabil sejak tahun 2000, yakni di kisaran Rp70.000 hingga Rp150.000 per kilogram kering, dalam hitung-hitungan saya, besaran biaya sarana produksi yang dibutuhkan supaya titik keseimbangan itu tercapai tidaklah tinggi. Asumsinya, produksi bersih per hektar kebun cengkeh sebanyak 15 kuintal per tahun, setara dengan Rp115.000.000 hingga  Rp225.000.000.

Dengan menyisihkan 10 persen dari hasil produksi, aspek dasar berikut perlakuan-perlakuan standar yang disyaratkan dalam budi daya sudah tercukupi. Mulai pembelian pupuk (pupuk kimia) sampai upah pekerja harian yang lebih banyak melibatkan kerja fisik seperti perabasan gulma, penggemburan tanah, perbaikan bedeng tanaman, pendaringan, rutinitas pembasmian hama, menyebarkan pupuk, dan sebagainya.

Dalih ekonomi sebagai penyelamat

Tapi sebentar. Kita selalu punya argumen penyelamat, dan yang paling masuk ke nalar adalah dalih ekonomi. Untuk alasan ekonomi, jika memungkinkan, semua bagian tanaman kita posisikan sebagai alat produksi tanpa digugah kesadaran bahwa daya dukung alam punya batas toleransi. Cerita selanjutnya bisa ditebak, relasi manusia dengan alam ini berujung muram: kebun cengkeh menjadi wilayah yang dikeruk habis-habisan.

Alih-alih menyeimbangkan skor, tindakan memungut (tepatnya menghabisi) guguran daun-daun pada bulan-bulan di luar masa panen, untuk alasan apa pun, sama belaka dengan melucuti satu lagi instrumen vital milik alam yang, sekali lagi, kepadanya kita bergantung.

Yang mengagumkan, selain alasan ekonomi, beberapa petani bahkan secara berani mengusung dalih bersemu ilmiah. Dalam pandangan mereka, tumpukan serasah guguran daun cengkeh kering tersebut sebagai sarang berkembangbiaknya sejenis jamur, biang utama penyakit jamur akar putih, penyakit yang paling ditakuti petani yang akhir-akhir ini menjangkiti beberapa pohon cengkeh.

Berbekal logika sederhana, vonis tadi sebetulnya mudah dimentahkan. Maksud saya, seandainya serasah daun-daun cengkeh itu benar menjadi sarang berkembangbiaknya spora jamur putih, pertanyaannya, kenapa penyakit jamur akar putih baru mewabah belakangan, kira-kira lima atau enam tahun terakhir? Sementara, penanaman cengkeh sudah marak semenjak tahun sekitar tahun 1970.

Apakah selama rentang tahun yang panjang itu pohon-pohon cengkeh tidak menggugurkan daun atau menumpuk serasah?

Serasah daun cengkeh kering.

Apapun itu, ada dampak ekologis nyata yang tidak dapat kita bantah: begitu musim kemarau tiba, tanah mengering lebih cepat karena hilangnya serasah daun yang berfungsi menjaga kelembaban. Pada musim hujan pun tak kalah mengenaskan. Tanah gampang tergerus air akibat permukaannya kehilangan lapisan penutup, selain kian tahun kian miskin nutrisi.

Atas nama manfaat ekonomi, aspek-aspek penting budi daya tanaman dengan enteng kita abaikan. Kita, para “punakawan” yang keliru melakoni peran. Mengecilkan peran figur-figur utama dan tak kuasa menahan hasrat tampil sebagai sripanggung.

mm
Petani