ANEKA

Gasing Desa Munduk: Sebuah Perasaan yang Meluap

25/07/2017
oleh:

Jalan desa itu didominasi turunan tajam. Begitu tajam, hingga saya harus merapal doa pendek memohon keselamatan. Pagi itu, dibonceng Komang Armada, saya menuju rumah salah satu empu gasing di Desa Munduk, Bali Utara.

Di tengah jalan curam yang memacu adrenalin, kami berbelok tajam ke arah kiri, memasuki pelataran sebuah rumah. Nampak, di bengkel kerjanya, Ketut Rama tengah menyiapkan beberapa alat tukang. Dengan wajah semringah ia menyambut saya dan Komang Armada, menyiapkan tiga kursi plastik untuk kami. Ternyata, Komang Armada dan Ketut Rama masih bersaudara.

Tahun 2017 ini, Ketut Rama sudah memasuki usia kepala enam, tepatnya 63 tahun. Meski tak lagi muda, Ketut Rama masih lincah memperbaiki gasing yang dititipkan kepadanya. Empu gasing ini tengah melakukan tune-up, istilah yang digunakan untuk menyebut proses kerja memperbaiki sebuah gasing.

Biasanya, yang dilakukan ketika tune-up adalah mencari keseimbangan gasing. Atau paling tidak, mengganti besi yang menjadi poros gasing, yang disebut paksi. Besi yang digunakan, biasanya berasal dari as mobil. Selain kuat, besi tersebut cukup lentur, sehingga dapat dengan mudah diolah menggunakan gerinda.

Ketut rama, salah satu empu gasing yang ada di Munduk

Ketut Rama tak tahu pasti sejak kapan ia mulai jatuh cinta dengan gasing. Pun, bapak dengan rambut beruban itu belajar memberbaiki gansing secara otodidak.

“Soal perasaan saja. Ya sulit kalau mau menjelaskan,” jawab Ketut Rama ketika saya bertanya caranya menemukan keseimbangan gasing. Ketika saya menyebutnya sebagai bakat, Ketut Rama tak meniyakan, namun juga tak menolak pernyataan tersebut. Gasing dan kulit Ketut Rama seperti sudah saling mengenali.

Beliau hanya membutuhkan sekitar 18 menit untuk memperbaiki gasing yang keseimbangannya cukup parah. Menggunakan alas kayu, ia putar gasing tersebut. Saksama, dengan kedua matanya yang nampak teduh, Ketut Rama memperhatikan gasing tersebut berputar. Ia lantas menjelaskan bahwa keseimbangan gasing tersebut terganggu, dan memang nampak oleng.

Menggunakan spidol warna merah, Ketut Rama menandai bagian paksi. Ia melakukannya ketika gasing masih berputar. Ketut Rama mendekatkan spidol ke arah paksi. Masih ada jarak antara spidol dan gasing tersebut. Perlahan, terdengar suara, “creet…crett…creet.” Spidol menyentuh bagian paksi yang “sedikit” menonjol, yang artinya itulah sumber ketidakseimbangan.

Ketika saya tanya bagaimana mengatur jarak antara spidol dan gasing, jawaban Ketut Rama tidak berbeda, “Feeling saja.” Ia menjawabnya sambil tersenyum.

Setelah bagian yang tidak seimbang ditemukan, Ketut Rama meletakkan gasing di atas tatakan khusus, berupa kayu silinder dengan ceruk di tengahnya. Ceruk tersebut digunakan untuk meletakkan bagian kepala gasing. Sehingga, bagian paksi menghadap ke atas. Menggunakan gerinda dan tatah, ia babat bagian paksi yang menjadi sumber “penyakit”.

Ketut Rama menandai lagi dua hingga tiga kali. Ketika dirasa cukup, ia kembali memutar gasing di atas kayu kecil. Kali ini, gasing terlihat tenang, berputar di atas paksi yang terlihat sedikit lebih ramping. Ketut Rama memalingkan muka ke arah saya yang duduk di sisi belakang sebelah kanan. Tanpa kata-kata, ia umbar senyum kemenangan. Gangsing itu sudah “sembuh”.

Dan ketika saya kira-kira, Ketut Rama hanya membutuhkan 15 menit untuk memperbaiki gasing yang keseimbangannya cukup parah.

Satu hal yang menarik. Setiap pemain dan seniman gasing selalu memberi nama untuk gasing kesayangannya. Komang Armada memberi nama “Dian Sastro” untuk gasing favoritnya. Alasannya, karena cantik dan enak dipandang. Ketut Rama sendiri pernah memperbaiki keseimbangan “Inul Daratista”, sungguh mendebarkan.

Bahan dan lingkar gasing

Bahan terbaik untuk gasing adalah kayu limau atau jeruk. Mulai dari berat kayu, serat yang rapat, hingga tangguh menghadapi cuaca menjadi pertimbangan utama. Lantaran kayu limau dan jeruk sudah sulit didapat, para seniman gasing lantas menggunakan berbagai macam variasi bahan.

Ada empat kayu yang mulai banyak digunakan, yaitu sonokeling, sawo, kemuning, dan kesambi. Variasi bahan tersebut masih cocok untuk digunakan karena tekstur dan kelebihan yang mendekati kayu limau atau jeruk.

Namun, seniman gasing masih tetap menggunakan kayu limau atau jeruk di dalam gasing. Tak lagi menjadi bahan utama, namun berupa sempalan kecil saja. Hal ini didasarkan pada kepercayaan yang dianut para seniman gasing.

Sementara itu, bagian rangka gasing menggunakan besi. Jadi, kayu yang menjadi bahan, disematkan di sekeliling kerangka tersebut menggunakan lem kayu. Biasanya menggunakan jenis epoxi dengan campuran resin dan bahan pengeras. Oleh sebab itu, gasing khas di sini berbobot lebih berat ketimbang gasing di daerah lain.

Untuk tali, seniman gasing banyak menggunakan kulit kayu pohon teep. Seratnya liat, kuat, dan bisa bertahan lama. Dan yang paling penting, tidak licin.

Gasing di Desa Munduk sendiri terdiri dari berat dan lingkar yang cukup beragam. Lingkar gasing, beragam dari 25, 45, 55, hingga yang sudah umum adalah 66 sentimeter. Berat gasing berkisar antara 1,6 hingga 1,8 kilogram. Dahulu, berat gasing pernah sampai dua kilogram. Namun, karena dirasa terlalu berat, maka berat gasing diseragamkan di angka 66. Walaupun tentu saja, aturan itu sifatnya tidak mengikat.

Luapan perasaan yang terasa

Pagi hari itu, Ketut Rama terlihat begitu antusias menjelaskan perintilan-perintilan kecil soal gasing. Pun dengan Komang Armada yang nampak selalu berseri ketika ikut menambahkan penjelasan. Sungguh, perasaan yang akrab dan rasa memiliki akan gasing ini sungguh terasa dari keduanya.

Ketika kembali ke penginapan, kami sempat bermain gasing di halaman. Komang Armada, yang sejatinya mesti pergi ke kebun cengkeh menyempatkan diri bermain gasing sejenak. Koki resto Don Biyu pun langsung menceburkan diri dalam keriuhan permainan gasing di pagi menjelang siang itu.

Pun tak ketinggalan, Putu Ardana, Bendesa (Kepada Desa Adat) Desa Munduk, memperlihatkan kemahirannya bermain gasing. Sesepuh Desa Munduk itu nampak begitu energik ketika “mencambuk” gesing di atas permukaan tanah.

Ketika berbicara gasing, Anda akan seperti berbincang perihal identitas masyarakat Desa Munduk. Sebuah ikatan yang kuat antara tradisi dan dedikasi untuk terus merawat gasing khas itu. Sebuah perasaan yang meluap.

mm
Koki @arsenalskitchen.