KOMODITAS

Kembang Lima Belum: Memetik Berkah Tuhan

26/07/2017
oleh:

Kabut mulai turun ketika saya dan satu rekan tim Ekspedisi Munduk sampai di pertigaan jalan menuju Danau Tamblingan. Kami berhenti sejenak untuk mengisi bensin.

Di sebelah kanan warung yang menjual bensin, tepat di pertigaan itu, nampak segerumbul bunga berwarna biru. Ada dua ragam warna yang tertangkap oleh mata ketika kali pertama memandang kebun tersebut. Satu rumpun bunga berwarna dasar putih dengan tepi kelopak berwarna biru, dan satu gerumbul yang birunya paripurna, merata.

Masyarakat Desa Munduk menyebutnya kembang lima belum, atau banyak dikenal sebagai hortensia atau bunga pecah seribu. Tak ada keterangan yang jelas perihal arti penamaan nama lima belum. Putu Ardana, Bendesa (Kepala Desa Adat) Munduk menyebut penamaan tersebut sudah sejak zaman dahulu dan arti yang dimaksud sudah sulit untuk dilacak lagi.

Bunga yang bunganya bergerumbul ini banyak digunakan untuk keperluan sesaji di pagi hari. Masyarakat Bali pada umumnya, menggunakan bunga hortensia sebagai pelengkap sesaji dalam sebuah nampan kecil yang terbuat dari janur. Wadah yang dimaksud disebut canang dan sesajiannya bernama banten.

Ada dua tujuan yang ingin dicapai dari upacara rutin setiap pagi tersebut. Pertama, untuk meminta keselamatan dan yang kedua adalah ucapan syukur untuk rezeki yang sudah dinikmati sepanjang hari kemarin. Dan bunga hortensia, dengan warna birunya, merupakan media sembahyang sekaligus persembahan kepada Dewa Wisnu, sosok pelindung dan pemelihara alam semesta.

Oleh sebab itu, lantaran digunakan untuk keperluan sembahyang dan sesaji setiap pagi, kebutuhan akan bunya hortensia cukup tinggi. Dan hanya di Bali Utara ini, tepatnya di Desa Munduk, bunga hortensia bisa didapatkan.

Hal serupa disampaikan Made Yustika (37). Bapak dua anak ini punya langganan khusus dari Denpasar, yang datang setiap hari untuk mengepul bunga hortensia. Para petani bunga hortensia ini pun tak perlu repot mencari pembeli. Mereka tinggal meletakkan wadah bunga hortensia di depan rumah. Para pengepul akan berdatangan untuk mengambil.

Namun, tentu saja tak semua bunga hortensia bisa dipakai. Tepatnya, hanya bunga yang sudah berwarna biru sempurna yang bisa dipanen. Bunga yang pasuh-nya (bagian tengah) masih berwarna putih belum bisa dipanen. Sekitar 10 hari kemudian, ketika sudah berwarna biru, proses panen baru bisa dilakukan.

Bunga hortensia siap panen

Untuk memanen, petani memotong langsung tangkai bunga menggunakan gunting tanaman. Panjang tangkai yang ikut dipotong sekitar 10 sentimeter. Setelah dipanen, Made Yustika biasa menyemprotkan pupuk daun. Tujuannya, supaya bakal bunga terlindung dari serangan penyakit bercak daun. Penyakit ini akan menyerang daun, lantas merambat menyerang bunga. Harga bunga bisa jatuh apabila sudah terserang penyakit ini.

Bicara harga, Made Yustika mengungkapkan bahwa cuaca sangat berpengaruh. Misalnya, ketika banyak turun hujan, produksi bunga akan meningkat. Seiring peningkatan tersebut, lantaran bahan bakunya semakin banyak, maka harganya bisa turun. Dengan kondisi seperti ini, satu kilogram bisa dibanderol dua ribu rupiah saja.

Sebaliknya, ketika tidak ada hujan, produksi bunga akan menurun. Bahan baku yang sedikit, dengan jumlah peminat yang tetap banyak membuat harga melambung. Harga satu kilogram bunga untuk kondisi seperti ini mencapai 15 ribu rupiah, bahkan bisa lebih.

Di tingkat pedagang kecil, misalnya di pasar setempat, satu ikat bunga hortensia dibanderol 50 ribu rupiah. Satu ikat berisi sekitar 10 hingga 15 batang. Jika 100 keluarga saja rutin membeli bunga ini untuk keperluan sembahyang, maka bisa dibayangkan potensi ekonomi yang tersimpan dalam setiap kelopak hortensia.

Dengan potensinya seperti itu, perawatan hortensia terbilang mudah. Misalnya Made Yustika. Beliau hanya perlu memangkas cabang-cabang yang terlihat tidak produktif. Tujuannya, supaya perkembangan bunga difokuskan ke satu atau dua cabang. Alhasil, bunga yang dihasilkan akan lebih sehat dan warnanya lebih terang.

Keberadaannya yang penting dalam ritual sembahyang, membuat komoditas ini selalu diburu. Warna birunya melambangkan Wisnu yang Agung. Melambangkan perlindungan dan berkah. Merawat kembang lima belum adalah usaha memetik berkah dari Tuhan. Sebuah usaha menyerahkan diri sepenuhnya kepada roda jalan alam.

mm
Koki @arsenalskitchen.