RELIGI

Keragaman dari Puncak Bukit Kecil

01/08/2017
oleh:

Perlu sedikit mendaki untuk mencapai gereja itu. Dua tangga meliuk cukup curam. Meski tak panjang, dua tangga tersebut membuat saya harus sedikit menghela napas ketika sampai di puncak “bukit kecil”. Geraja mungil nampak bersahaja, dan hari Minggu itu, kebaktian tengah berlangsung dengan khidmat.

Sembari menunggu kebaktian selesai, saya edarkan pandangan, menyapu semua titik di gereja yang didirikan tahun 1983 itu. Nampak sebuah rumah panggung kecil yang terbuka, dengan alas tikar berwarna hijau. Anak-anak bermain pesawat mainan yang dibuat dari kertas. Orang dewasa dan sepuh, tengah mengkut kebaktian dengan penuh perhatian.

Lagu-lagu pujian mengalir, seorang pemusik memainkan gitar untuk mengiringi koor jemaat. Dipandu sang pendeta, jemaat bernyanyi, mendaraskan puji-pujian untuk Tuhan. Sebuah doa juga dilepaskan, untuk kebaikan semua orang, termasuk untuk Desa Munduk yang berada di Bali Utara ini.

Kebaktian berakhir sekitar pukul 11 siang. Anak-anak berhamburan, bergabung dengan kawan-kawannya yang sudah terlebih dahulu bermain di luar gereja sejak kebaktian berlangsung. Para remaja duduk bersama di satu sudut, mengobrol dan bercanda dengan hangat. Beberapa masuk ke sebuah ruangan di sebelah kiri gereja untuk berlatih alat-alat musik. Siang itu, anak-anak usia tertentu akan mengikuti Sekolah Minggu.

“Jemaat kami memang kebanyakan remaja dan anak-anak”, terang Pendeta I Nyoman Nurnya. Jemaat yang lebih dewasa, umumnya sudah pergi merantau. Entah untuk melanjutkan ke SMA, kuliah, atau bekerja. Jadi tak heran jika lebih banyak anak kecil usia sekolah dasar dan orang tua yang hadir di kebaktian kali itu.

Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Bukit Sion ini memang punya visi untuk membantu anak-anak kurang mampu. Pendeta Nyoman Nurnya menegaskan bahwa gereja peduli dengan pendidikan yang bisa dinikmati anak-anak kecil. Gereja Jemaat Bukit Sion membuktikannya dengan membangun sekolah Taman Kanak-Kanak dengan biaya murah.

“Seiklasnya dan semampunya saja,” tambah bapak berusia 54 tahun ini. Anak-anak yang bersekolah di TK yang ia dirikan tak dipatok biaya. Jika memang tak ada biaya, tak menjadi soal. Pun jika hendak membayar, tak ada patokan yang ditetapkan. Semua dikembalikan kepada keiklasan orang tua murid.

Selain soal pendidikan, gereja Jemaat Bukit Sion juga peduli dengan kesehatan masyarakat, terutama tentunya warga kurang mampu. Semua ini dilakukan sebagai bukti kasih Tuhan kepada sesama. Pendeta Nyoman Nurnya ingin menegaskan bahwa gereja Jemaat Bukit Sion juga terlibat dalam dinamika masyarakat Munduk.

Meski menyandang iman yang berbeda, antara warga Hindu dan Kristen bisa membangun nuansa yang hangat. Ketika Natal menjelang, banyak orang Hindu yang berbaur dengan jemaat Kristen, saling memberi selamat, saling mendoakan. Sebaliknya, ketika ada upacara kematian orang Hindu, misalnya, jemaat Kristen selalu diundang untuk ikut terlibat.

Hampir tak ada sekat antara orang Hindu dan jemaat Kristen. Lagipula, kebanyakan dari mereka masih diikat tali keluarga. Sebuah gambaran jelas bahwa Munduk adalah lahan yang nyaman untuk kepercayaan yang berbeda. Sebuah keragaman yang terasa di puncak bukit kecil, di puncak gereja Bukit Sion Desa Munduk.

mm
Koki @arsenalskitchen.