ANEKA

Kesaksian Kepala Suku tentang Situsweb Desa Munduk

30/07/2017
oleh:

Sekira 10 tahun lalu, saya dan beberapa teman membuat koran desa di lima desa di daerah Bantul dan Gunung Kidul. Tidak lama kemudian, kami membuat sebuah buku kampung. Buku ini dikerjakan oleh anak-anak muda Dusun Ketangi, dibantu oleh beberapa adik kelas saya di lembaga pers Pijar, juga beberapa teman dari LPM Ekspresi.

Membuat media desa atau kampung tetap tertanam di kepala saya. Bedanya, di era digital seperti ini, media berbasis kertas rasanya sudah tidak relevan. Dua tahun lalu, KBEA menurunkan satu tim untuk membantu membuat situsweb desa di kampung saya sendiri sebagai sebuah percobaan. Tapi sayang, situsweb tersebut belum jadi.

Atas dasar pengalaman itulah, ketika dua bulan lalu saya tetirah di Desa Munduk Bali Utara, saat ngobrol dengan Bendesa (Kepada Desa Adat), Bli Putu Ardana, yang menyatakan keinginannya untuk pentingnya Munduk memiliki sebuah media online, saya kembali antusias.

Saat balik ke Yogyakarta, beberapa lembaga di bawah naungan KBEA saya kumpulkan. Gardamaya menyumbang server untuk situsweb ini. SEVEN, sebuah lembaga penelitian yang baru saja didirikan di lingkaran KBEA, bersedia membantu sumberdaya manusia: Yamadipati Seno. Jaringan Relawan Indonesia untuk Kemanusiaan (JARIK) mengirim Fawaz Al Batawy, sekaligus menyumbang beberapa kebutuhan kami.

Tepat di saat itu, kebetulan saya diminta menjadi konsultan penelitian KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) untuk mengetahui siasat petani cengkeh di Indonesia dalam menghadapi kegagalan panen yang hebat di tahun ini. Mereka bergabung dan menerjunkan empat orang ditambah bersedia menanggung tiket semua tim yang ada di Munduk.

Lengkaplah sudah, baik manusia maupun amunisi. Tim diterjunkan berangsur ke Munduk. Tentu saja, bantuan luar biasa datang dari Bli Putu dan Bli Komang Armada. Mereka bukan hanya menjadi tuan rumah yang baik, tapi juga menemani kami melakukan diskusi bersama warga Munduk.

Maka jadilah simbiosis mutualisme ini. Munduk kini memiliki media kampung online, sedangkan kami belajar banyak dari warga Munduk: pengetahuan pertanian, himpunan kearifan, dan pustaka pengalaman yang luar biasa.

Semua proses tersebut penting. Tapi di atas itu semua, ada hal yang paling penting: kami menjalin persahabatan yang hangat, terbuka, dan saling mengisi.

Saya berharap, KBEA dan lembaga-lembaga di bawahnya bisa meneruskan model kerja seperti ini. Sehingga akan makin banyak media desa berbasis online yang muncul. Media desa jika bersinergi dengan hal lain: kolektivitas; pengelolaan dan manajemen desa; dan strategi ekonomi desa, bisa membuat desa bukan lagi semata menjadi “penyangga” kota, tapi menjadi benar-benar teritori yang mandiri dan berdaulat.

Kerja masih panjang. Kami juga akan bekerja sama untuk membuat Balai Ajar dan Riset (BAR) di Munduk, sebagai sentra belajar kaum wiratani, yang akan didirikan di lahan Bli Komang. Jika tidak ada aral, tanggal 7 Agustus nanti, bangunan seluas 11×18 akan didirikan. Di sana akan ada demplot (demonstration plot) eksperimen tani, laboratorium hayati, yang dilengkapi dari mulai mesin sangrai kopi sampai bengkel pertanian.

Di salah satu kamar di BAR, pada ketinggian 850 mdpl itulah, kelak saya akan menyeruput kopi Blue Tamblingan, sambil menulis puisi.

Silakan kunjungi www.munduk.co atau langsung saja datang ke Munduk. Di sana, sedang musim kopi. Dan sedang mempoduksi salah satu kopi arabika terenak di dunia: Blue Tamblingan. Lain kali, akan saya ceritakan tentang kopi ini.

Sederhana

Pada banyak hal, desa itu serupa dengan kita, manusia. Dia punya masalah. Kita juga. Tapi kalau kita berhenti di masalah, selain masalah tersebut sukar dihadapi maka kita juga mudah melupakan hal lain yang kita miliki: potensi.

Selama ini yang sering kita pahami soal desa adalah serangkaian hal kurang baik: kuno, tertinggal, tidak ada lapangan pekerjaan, tidak banyak orang pintar, dll. Tapi faktanya, desa banyak “mensubsidi” kota. Krisis ekonomi yang pernah terjadi beberapa kali di negeri ini membuktikan itu semua.

Ketika banyak kelas menengah kita kena PHK, banyak dari mereka yang pulang ke desa untuk sementara waktu, setelah ekonomi pulih, mereka balik ke kota. Ada banyak kelas menengah kota yang bisa membeli rumah, dilakukan dengan menjual aset orangtua mereka di desa. Kalau mereka tidak kuat membiayai anak sekolah, sebagian anak mereka dititipkan ke nenek-kakek yang tinggal di desa.

Sebagian besar orang pintar di kota, berasal dari desa. Belum lagi desa sebagai sumber pangan, yang jika produk mereka dianggap terlampau mahal, maka akan dibuat mekanisme untuk memurahkan.

Kelas menengah perkotaan ingin kerja dan karya mereka dihargai mahal, tapi anehnya ingin mengonsumsi produk perdesaan semurah mungkin. So sikak, bukan? Kalau dijelenterehkan maka daftar tersebut akan makin panjang.

Tampaknya, pada beberapa hal prinsip, pemerintah menyadari hal ini. Dana desa terus ditingkatkan. Kementerian desa dibuat secara khusus. Saya tidak mau menyoroti apakah pelaksanaannya baik atau tidak. Fokus saya bukan di sana.

Dari semua hal di atas, maka bisa kita buat kesimpulan sementara bahwa jika desa dikelola dengan baik, maka sebagian persoalan penting di negeri ini bisa diselesaikan.

Pikiran sederhana itulah yang mendasari KBEA sebagai komunitas kecil, untuk memberi perhatian kepada desa. Karena kami biasa bergelut dengan dunia online, dan bekerjasama dengan orang-orang hebat di desa Munduk, jadilah: www.munduk.co. Seandainya kami bergelut di teknologi tepat guna, mungkin hasilnya berbeda.

Tapi sebetulnya ada banyak hal yang bisa disinergikan antara orang kota dan desa. Misalnya soal ekonomi kawasan mikro, koperasi, penelitian pertanian, peranti pertanian, pakar merek, manajemen kawasan dan pertanian, teknologi tepat guna, pendidikan luar sekolah, dll. Banyak sekali.

Hal yang sering terjadi biasanya adalah mereka tahu persoalan tapi berhenti di sana. Pusing terus-menerus. Analisis persoalan justru menimbulkan persoalan demi persoalan lain sehingga malah makin menjauh dari tindakan. Muter-muter tidak karuan. Padahal tindakan itu perlu. Kalau kurang bagus, bisa diperbaiki. Kalau ada yang keliru, bisa dievaluasi. Tidak ada yang statis. Semua bergerak dinamis. Kalau hanya berhenti di persoalan, tidak ada yang bisa dievaluasi. Tidak ada yang bisa diperbaiki.

Situsweb Munduk ini sederhana sekali. Karena sebagai orang Munduk, Bli Putu Ardana dan Bli Komang Armada tidak mau sesuatu hanya berhenti di persoalan. Mereka bertemu dengan anak-anak muda macam Yamadipati Seno yang batbet, Fawaz Al Batawy yang thas-thes, dan Aditia Purnomoyang satset. Jadilah!

Sederhana, bukan?

mm
Kepala Suku