ANEKA

Ketika Puthut EA Jatuh Cinta Pada Munduk

02/08/2017
oleh:

Garis penunjuk suhu berada di angka 18 derajat. Juli dan Agustus selalui ditandai oleh dingin yang menggigit. Udara seperti hendak mengerutkan apa saja yang dijangkaunya.

Sore itu, seperti tak terusik oleh dingin, Puthut EA menikmati betul dengung halus suara mesin serta bunyi ritmis biji-biji kopi yang beradu di dalam tabung penyangrai. Bermenit-menit begitu, sampai disadarkan oleh aroma wangi biji-biji kopi yang menjelang matang.

Sangraian pertama level medium sudah jadi. “Saya mau bikin yang medium to dark, Bli.”

Setelah melepaskan kacamatanya, ia melanjutkan mengatur panel-panel mesin, menggeser-geser tuas, praktis tanpa dipandu.

Di luar kesohorannya sebagai penulis, saya pikir Puthut punya riwayat mengesankan sebagai pencinta kopi. Ia berbagi pengetahuan mengenai cara-cara pembuatan rumah pengeringan kopi berbiaya murah namun efisien, memperkenalkan serangkaian tindakan uji rasa, serta metode penyeduhan kopi galibnya para barista.

Ia juga fasih dengan istilah-istilah seperti ‘first crack’, ‘nine minutes plus thirty seconds rest’, dan pelbagai tingkat kematangan serta soal-soal lain seputar teknis penyangraian kopi. Pun dengan proses sangrai yang menentukan cita rasa kopi.

Memulai dengan medium, melanjutkan sangrai kedua untuk mendapatkan medium to dark, hingga mendapatkan light pada proses sangrai terakhir. Ketiga istilah tadi adalah sebutan untuk tipe sangrai kopi yang mengacu pada tingkat kematangan biji setelah disangrai.

Selama beberapa waktu, dalam soal-soal tertentu, Puthut seperti terputus dengan Jogja. Di Munduk, walau singkat, ia dibuat betah oleh banyak hal. Puthut sedang jatuh cinta. Saya yakin soal itu. Dari ragam makanan, keasyikannya menikmati suasana keseharian khas warga desa pegunungan, diskusi lintas tema yang ujungnya pasti tiba pada sub mengenai kehidupan kaum tani.

Kesibukannya melakukan aktivitas fisik melelahkan yang sudah tentu ‘bertentangan’ dengan ritme yang biasa dibebankan pada tubuhnya selama ini. Harus berjalan jauh, misalnya. Hingga yang terakhir, ini sebetulnya yang ingin saya tulis besar-besar, ia makin jatuh hati pada kopi.

“Munduk punya segalanya, Bli. Banyak yang menjadikan saya ingin kembali,” katanya suatu kali. Besar kemungkinan, nikmat kopi Munduk adalah salah satu yang ia maksud. Saya ingin Munduk awet berdiam di kepalanya, berbiak terus menerus menjadi ingatan-ingatan yang menenteramkan.

mm
Petani
  • Made Adi

    dmana itu lokasinya? ada kontak personya?