KOMODITAS

Kopi Arabika Blue Tamblingan

02/08/2017
oleh:

Ketika dua bulan lalu, saya mencicip kopi arabika dari Tamblingan, saya penasaran dengan hamparan lahannya. Kopi tersebut sangat istimewa. Hanya mungkin kurang baik dalam soal petik dan pengolahan pascapanen.

Bersama Bli Putu Ardana, saya dibawa ke lahannya. Lalu bersama dengan petani di sana, kami sama-sama belajar petik merah, teknis memetiknya, dan melakukan pengolahan pascapanen, utamanya pengeringan dan sortasi.

Dua minggu lalu, ujicoba pertama usai. Biji kopi arabika ini sungguh istimewa, bijinya besar, citarasanya khas. Berada di ketinggian 1300 mdpl, dengan tanaman sela bunga dan jeruk, dikelilingi hutan adat, dalam area danau Tamblingan yang sakral dan dijaga kelestarian hayati oleh warga Munduk dan tiga desa lain dalam pertautan adat yang kuat, sungguh biji-biji hijau tua itu sangat menarik hati.

Tibalah saatnya menguji citarasanya. Berbekal mesin sangrai milik Bli Komang Armada, saya dan beberapa rekan menyangrai dalam beberapa model, lalu mencicipnya. Benar. Apa yang tampak menarik di mata, terasa resep di lidah. Karakternya kuat. Segar dan gurihnya melekat.

Munduk dan sekitarnya memang penghasil kopi sejak zaman kolonial. Ingatan warga atas kopi begitu kuat. “Dulu, kalau panen kopi, Munduk seperti pasar malam. Selama 24 jam nonstop, keramaian tumpah dari kebun sampai jalanan kampung. Para pemetik dan pedagang berdatangan dari berbagai daerah di Bali.” tutur Bli Putu mengenang masa kecilnya.

Munduk tetap ramai ketika sebagian lahan kopi berganti dengan cengkeh. Bli Komang yang merupakan salah satu petani cengkeh memaparkan, “Cengkeh di sini punya kualitas yang paripurna. Para petani tidak gampang ikut himbauan penyuluh pertanian untuk memakai pupuk kimia. Kami punya cara sendiri untuk merawat dan memupuk cengkeh-cengkeh kami…”

Cengkeh Munduk menjadi incaran pabrikan rokok karena kualitasnya. Selain di Munduk, salah satu penghasil cengkeh terbaik di wilayah Buleleng ini adalah di daerah Tajun. Jika Anda datang ke kedua daerah tersebut, kejayaan cengkeh terlihat jelas. Area kebun terpelihara.

Di Munduk, para petani selain bertumpu pada dua komoditas cengkeh dan kopi, mereka juga bertani bunga pecah seribu. Serapan pasarnya tinggi mengingat bunga ini kerap menjadi bahan utama dalam upacara. Selain itu, dengan kondisi alamnya yang memikat, Munduk juga menjadi jujukan wisatawan. “Kalau saya hitung secara sederhana, pemasukan dari pariwisata hanya dari sisi penginapan saja dalam setahun rerata 7 miliar,” ungkap Bli Putu yang juga punya bisnis warung makan dan penginapan itu, “uang itu belum termasuk konsumsi dan belanja wisatawan…”

Dengan makin banyaknya kedai kopi yang tumbuh di berbagai kota, serapan kopi di Munduk dan sekitarnya pun tinggi. Saya pernah datang ke salah satu pebisnis kopi di daerah Gobleg (masih dalam kawasan Catur Desa). Bisnis kopi yang dikelola oleh orang Belgia itu menyerap 100 ton biji merah pertahun. Kopi sebanyak itu selain diambil dari wilayah Gobleg, juga dari Wanagiri, dan tentu saja Munduk. Menurut pengakuan pengelolanya, dari jumlah sebanyak itu, 80 persen dipasarkan di Ubud, dan sisanya dipasarkan ke Jakarta.

Tentu itu hanya satu dari sekian model bisnis kopi yang ada di Munduk dan sekitarnya. Model yang lain misalnya, adalah diserap oleh warga lokal. Sebagai contoh, persis di depan penginapan dan resto Don Biyu milik Bli Putu, ada bisnis penyangraian kopi. Bisnis yang dikelola keluarga Dewa Made tersebut menyangrai kopi 100 kg perhari.

Kalau Anda penyuka kopi, mungkin Anda pernah mendengar kopi Banyuatis. Desa Banyuatis, tak jauh dari Munduk. Pabrikan kopi ini memproduksi 2,5 ton kopi bubuk perhari. Salah satu suplai biji kopinya, juga dari Munduk.

Masalahnya adalah, kopi Tamblingan ini berbeda. Dari sisi luasan lahan, paling besar menurut perhitungan Bli Putu sekira 40 hektar saja. Dari indikasi geografis yang saya lihat, kopi arabika di daerah ini berbeda dengan di wilayah lain.

Saya sudah mencicip kopi arabika dari Wanagiri, Gobleg, dan wilayah Munduk lain. Jelas di mata, hidung, dan lidah saya, kopi dari area sakral danau Tamblingan ini berbeda. Secara kualitas biji, jauh lebih bagus. Secara citarasa jauh lebih kaya dan khas.

Karena keterbatasan lahan, dan oleh karena itu terbatas pula produksinya, maka layaklah kalau kopi ini kelak akan jadi buruan para penyeruput kopi. Bagi Anda yang ingin menyesap kopi istimewa ini, Bli Putu masih punya 50 kg biji beras (green beans). Silakan pesan ke beliau. Bisa juga pesan sudah dalam bentuk sangrai. Silakan pilih model sangrai sesuai selera Anda. Saya ikut memanen. Saya ikut terlibat proses pascapanennya. Saya ikut bertanggungjawab soal kualitasnya. Jika itu yang Anda butuhkan.

Salam hangat…

mm
Kepala Suku
  • udy santoso

    Cara pesennya bagaimana