KOMODITAS

Kopi Munduk: Masa Lalu Sekaligus Bukan Masa Lalu

25/10/2017
oleh:

Tanpa menyebut budaya menanam kopi, Munduk akan kehilangan bagian penting dari dirinya.

Puthut Ea, penulis kondang yang juga menaruh pehatian besar kepada komoditas rempah dan kekayaan ragam kopi Indonesia itu, mengirimi saya sebuah risalah singkat berupa kumpulan cuitan sebuah akun Twitter.

Isinya, jejak kesejarahan kopi di Bali Utara, termasuk di Desa Munduk. Titimangsa yang diacu sekitar tahun 1920, Jauh sebelum cengkeh mulai marak ditanam oleh warga Munduk era 1970-an. Artinya, selama puluhan tahun, kopi berjaya sendirian sebagai tanaman pertanian primadona yang menopang kehidupan warga Munduk secara ekonomi.

Uraian singkat itu akan saya sertakan sebagai penutup tulisan. Sebelumnya, ada baiknya saya melakukan kilas mundur sebentar, ke sebuah peristiwa atau fakta-fakta yang dengan gamblang menjelaskan betapa intim sebetulnya warga Munduk dengan kultur bertani, salah satunya melalui kebiasaan budi daya kopi. Fakta yang saya sarikan berdasarkan bukti-bukti fisik yang saya temui ditambah tuturan lisan yang pernah saya dengar.

Kopi dan generasi yang terdidik

Yang harus saya sebut pertama adalah satu atau dua generasi pada rentang 1900-1960, generasi yang terkategori sebagai tuan tanah, setidaknya untuk ukuran sebuah desa yang berada di pelosok.

Secara individu, jumlah mereka tidak banyak. Namun, luasan lahan kepemilikan mereka bisa mencapai puluhan hektar. Hal itu dimungkinkan karena belum ada reformasi Undang-Undang Agraria dalam bentuk regulasi khusus di bidang pertanahan yang mengatur ambang batas hak-hak kepemilikan lahan, terutama yang bersifat perseorangan. Regulasi yang kemudian dikenal dengan istilah redistribusi atau landerform atau landreform.

Tuan-tuan tanah tadi sebagian besar (untuk tidak mengatakan seluruhnya) memilih kopi sebagai tanaman utama. Bisa dibilang, era inilah yang melahirkan generasi pertama di Munduk yang terdidik secara akademis.

Dikarenakan hasil panen kopi yang melimpah, dalam beberapa kasus, berkah ini memungkinkan anak-anak tuan tanah mengenyam pendidikan sampai ke kota-kota besar di luar Bali, sebut saja Surabaya, Semarang, Malang, atau Yogyakarta.

Kala itu, istilah “keluar dari Bali” adalah kemewahan sosial tersendiri yang tidak disandang sembarang orang. Sebuah mobilitas langka yang hanya sanggup dilakukan oleh orang-orang kaya. Golongan berpunya yang saban musim menghasilkan puluhan bahkan ratusan ton hasil panenan kopi beras (green bean) dari kebun-kebun mereka.

Pura Kopi dan minuman selamat datang

Selain sebagai tanaman pertanian, yang juga berarti gantungan hidup, bagi saya (mungkin juga bagi sebagian besar warga Munduk) kopi memiliki sesuatu yang disebut sentimental value.

Dalam aspek budi daya, misalnya, sedari kecil, saya akrab dengan prosedur memilah biji kopi, memindai kematangan untuk memastikan biji yang sekiranya baik digunakan sebagai bibit. Secara alamiah, saya mengenal hitung-hitungan masa berkecambah, olah tanah di gundukan pembibitan, perawatan harian anakan-anakan kopi , sampai pohon itu tumbuh tegak sebagai tanaman pertanian yang menghasilkan.

Tidak susah buat indera saya untuk mengembalikan ingatan tentang bau apak karung goni, aroma asam pesing koloni semut yang suka bergerombol di tandan-tandan kopi, bau sekam kering sewaktu kopi dikupas, menggunakan mesin maupun lesung atau alu.

Atau semu semringah para peternak kuda yang ikut merasakan limpahan nikmat panen kopi sewaktu kuda-kuda mereka memperoleh kerja tambahan sebagai tenaga angkut. Pilihan moda satu-satunya dan paling memungkinkan ketika jalan-jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya belum sebagus sekarang.

Tanpa bermaksud menafikan cengkeh sebagai salah satu tanaman rempah yang belakangan lebih populer dan ramai disebut, terutama karena harganya yang menggiurkan, seandainya ada pendapat yang menyebut Munduk sebagai desa pertanian yang identik dengan tanaman cengkeh, saya tidak sependapat. Kopi, dalam pandangan saya, punya tempat tersendiri yang mustahil digantikan. Ia masa lalu, sekaligus bukan masa lalu.

Masa lalu karena budaya menanam kopi sudah berusia sangat tua. Saking tuanya, tanpa warga Munduk sadari, kopi sudah menabali desa bertopografi pegunungan yang berada di rentang ketinggian 600-1200 mpdl ini sebuah identitas menjulang di antara kontestasi daerah-daerah penghasil kopi di Indonesia. Desa yang secara geografis ideal bagi syarat tumbuh tanaman eksotik itu.

Bukan masa lalu lantaran relasi emosional para petani Munduk dengan kopi tidak pernah benar-benar putus. Kegiatan menanam kopi masih dilakukan hingga sekarang, baik dengan menyulam tanaman lama ataupun mengembalikan peruntukkan lahan-lahan yang sebelumnya ditanami komoditas pertanian lain menjadi kebun kopi.

Sebagai penanda kedekatan dengan kultur budi daya tanaman kopi, selain ungkapan bhakti tentunya, tidak jauh dari pusat keramaian desa bersebelahan dengan saluran irigasi utama yang mengairi kebun dan sawah-sawah di Munduk dibangun sebuah pura yang oleh warga subak desa disebut Pura Kopi.

Pura Kopi. Didirikan untuk memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Sanghyang Sangkara, entitas yang melimpahkan kemakmuran lewat wahana dunia tumbuh-tumbuhan.

Pura bertahun 1959 ini, sepanjang keberadaannya, sudah mengalami perbaikan fisik sebanyak dua kali, dan terakhir dilakukan pada 2006 silam. Pura ini didirikan untuk memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Sanghyang Sangkara, entitas yang melimpahkan kemakmuran lewat wahana dunia tumbuh-tumbuhan.

Dengan begitu, Pura Kopi menjadi monumen yang terus-menerus merawat ingatan, representasi rasa hormat dan utang budi warga tani Munduk kepada salah satu tanaman pertanian yang nyata-nyata menjadi gantungan hidup berlintas generasi.

Jika sekali waktu sempat bertandang ke salah satu desa di Bali Utara ini, hampir dapat dipastikan suguhan pertama yang akan Anda terima adalah minuman kopi sebagai ucapan selamat datang. Ditemani penganan atau tidak, manis atau kadang-kadang pahit tanpa gula, bisa-bisa saja. Jadi, sebelum mengutarakan tujuan kedatangan Anda bertamu, terlebih dahulu kopi wajib dicicipi satu dua seruput.

Kopi Bali: Dalam Lintasan Sejarah

(Oleh Puthut Ea)

Meski sudah masuk ke pulau ini sejak masa VOC, kopi baru menjadi komoditas ekspor andalan Bali bermula paruh abad 19. Sebelum itu, ekspor utama Bali adalah budak! Larangan jual beli budak bagaimanapun lantas mengganggu aktivitas penggerak ekonomi tersebut.

Perkebunan kopi di Munduk, circa 1920. Foto diambil dari akun Twitter: @potretlawas.

Keadaan diperburuk dengan meletusnya gunung Tambora di Sumbawa, April 1815. Kurang lebih, 25 ribu orang Bali meninggal karena letusan. Abu setebal 20 sentimeter menyelimuti pulau ini. Merusak persawahan. Panen gagal. Kelaparan melanda. Wabah penyakit mengikuti kemudian.

Namun, amukan Tambora pun membawa hikmah: kesuburan tanah. Dalam dua dekade, Bali menjadi eksportir hasil bumi: beras, kopi pun indigo.

Penyortir kopi Bali, circa1925. Foto diambil dari akun Twitter: @potretlawas.

Masa inilah beras dan kopi jadi komoditas penting. Poros ekonomi Bali – Singapura yang mulanya berbasis slave for opium berubah dikenal menjadi poros rice for opium dan coffee for opium. Inggris girang, mereka tengah melawan jual beli budak. Bermula itulah Bali, terutama tengah-utara, berselimut kebun kopi.

mm
Petani