ANEKA

Layangan Desa Munduk: Ini Soal Perasaan

28/07/2017
oleh:

Siang itu, bapak tiga anak dengan kumis tebal tengah mencangkul sawah garapannya. Ada 11 petak sawah yang ia garap dan tiga hari lagi proses tanam sudah akan dimulai. Nama aslinya Nengah Pardika. Namun, jika ditanya, banyak warga Desa Munduk, Bali Utara, mengenalnya sebagai Bli Lengkong, seorang empu layangan.

Sudah sejak bocah ia menekuni seni bermain dan membuat layangan. Hingga usia 45 tahun saat ini, Bli Lengkong masih lincah memenuhi pesanan layangan warga Munduk. “Kalau tidak lagi garap sawah, saya bisa buat 30 sampai 40 layangan,” ungkapnya sembari menatap lurus ke arah petak sawah yang baru saja ia garap.

Sawah yang tengah ia garap memproduksi padi merah cendana, padi merah khas Bali. Satu kilogram padi mrah cendana dibanderol antara 21 hingga 22 ribu rupiah. Di tengah kesibukannya menjadi buruh penggarap sawah inilah, Bli Lengkong membuat pesanan layangan. Terkadang sembari mengusir burung yang memangsa bulir-bulir gabah, ia menghaluskan bambu bahan layangan.

Ada tiga bahan bambu yang biasanya digunakan Bli Lengkong untuk membuat layangan. Ada jenis bambu bali, bambu tali, dan tamblang. Bli Lengkong sendiri lebih suka menggunakan bambu bali karena meskipun lentur, namun kuat. Bobot bambu ini ketika dibuat bilah layangan juga ideal, tidak membebani kertas untuk tubuh layangan.

Kertas untuk layangan menggunakan jenis kertas minyak. Warga Munduk biasanya hanya menyebutnya “kertas layangan”. Harga bahan baku ini pun terbilang murah. Sekira 1×1,5 meter dihargai seribu rupiah. “Jika membeli banyak, biasanya dikasih murah. Bisa sampai 800 rupiah saja,” kata Bli Lengkong.

Satu lembar kertas minyak berukuran 1×1,5 meter bisa menjadi empat buah layangan, dengan spesifikasi layangan aduan. Layangan jenis ini berukuran panjang 52 dan lebar 53 sentimeter. Bli Lengkong memberi penekanan sendiri soal ukuran bilah. Menurutnya, ukuran bilah menentukan seberapa lincah ia di udara.

“Jadi, selisih antara atas (panjang) dan samping (lebar) harus selalu satu sentimeter. Kalau pakai 53 untuk atas, ya bawah jadi 54,” jelas Bli Lengkong. Ini soal keseimbangan dan kelincahan manuver layangan di udara. Jika tidak mampu bermanuver dengan lincah di udara, pemain layangan aduan akan kalah dengan cepat.

Pun ada catatan khusus yang Bli Lengkong tekankan: kepala layangan, dari persimpangan bilah panjang dan lebar harus berukuran 10,5 hingga 11 sentimeter. Bli Lengkong menekankan kata “harus” di dalam penjelasannya. Ini adalah trik rahasia yang ia dapatkan dari panjangnya pengalaman membuat layangan.

Ketika saya bertanya perihal berbagai ukuran tersebut, Bli Lengkong tak punya hitungan rumus pasti. “Soal perasaan saja. Tiyang (saya) tidak tahu menjelaskannya. Itu semua dari coba-coba dari kecil dulu,” jawab empu layangan yang belajar secara otodidak ini. Jadi ini adalah soal perasaan, jika merunut kalimat Bli Lengkong. Bagi saya, ini tumpukan pengalaman, berasal dari insting dan eksperimen berulang.

Layangan aduan

Selain bermain gasing, salah satu kegiatan favorit warga Munduk adalah bermain layangan, khususnya untuk aduan. Nampaknya, jiwa kompetitif warga Munduk cukup kuat.

Bila dipindai pun, kebiasaan bermain layangan antara Bali Utara dan Bali Selatan sangat berbeda. Mereka yang berada di Utara lebih suka bermain layangan aduan. Sementara itu, yang di Selatan menekankan kepada aspek estetis. Layangan di Bali Selatan dilombakan untuk mencari layangan yang paling cantik.

Jiwa kompetitif dalam diri Bli Lengkong terlihat ketika ia menceritakan pengalamannya bermain layangan aduan. Dari 10 kali beradu, Bli Lengkong bisa menang delapan kali. Ada nuansa kebanggaan dalam nada bicaranya. Dan memang, Bli Lengkong ini paket lengkap. Dari membuat hingga bermain layangan, ia jagonya. Sematan empu tentu bukan perkara main-main.

Aturan tarung layangan sendiri tak rumit. Ketika layangan sudah mencapai ketinggian yang disepakati, peluit akan ditiup, tanda aduan sudah dimulai. Layangan yang putus terlebih dahulu dinyatakan kalah.

Di dalam prosesi ini, benang layangan cukup berpengaruh. Rata-rata, warga Munduk menggunakan benang dengan rentang harga antara 50 hingga 60 ribu rupiah. Untuk sebuah kompetisi yang melibatkan hadiah besar, benang layangan yang digunakan bisa mencapai 200 ribu rupiah, bahkan lebih.

“Tetapi yang penting itu tetap yang main layangan,” kembali Bli Lengkong memberi penekanan. Memang betul, tanpa kemahiran yang memadai, meskipun menggunakan benang yang mahal, ia akan dengan mudah ditaklukkan lawan. Hadiah kompetisi, yang terkadang berupa seekor sapi, bisa lepas dari genggaman.

Jika untuk kegiatan selingan, bisa jadi Bli Lengkong dan teman-temannya memasukkan aspek taruhan. Nominalnya tidak besar, antara 25 hingga 50 ribu saja. Dan ini pun hanya sekadar bumbu, bukan mutlak menjadi acuan yang ingin diraih dari bermain layangan.

“Bermain layangan itu soal perasaan saja. Senang sekali saya memainkannya. Tidak ada alasan yang lain,” kata Bli Lengkong, yang biasanya melego layangannya seharga tiga ribu rupiah.

Bli Lengkong pun mengungkapkan bahwa layangan ini akan terus bisa bertahan di tengah modernitas yang terasa di Desa Munduk. Anaknya, Komang Febri, yang sudah berusia 13 tahun pun sudah bisa membuat layangannya sendiri. Pun ia bisa memainkannya dengan tingkat kemahiran yang memuaskan.

Jadi, bicara soal layangan, adalah proses berbincang dengan hati sendiri. Sebuah proses hobi yang dibalur perasaan jernih yang hakiki.

mm
Koki @arsenalskitchen.
  • Made Wirya

    munduk.co keren oi! Mengangkat hal yang sepertinya remeh-temeh dan luput dari perhatian, tapi menarik. Tabik buat tim munduk.co, juga buat Jro Putu Ardana.