ANEKA

Lumbung yang Tersisa di Desa Munduk

25/07/2017
oleh:

Sebagai orang urban yang sejak kecil hidup di kota, melihat sawah juga kebun adalah satu hal yang jarang terjadi. Di Tangerang, tempat saya tinggal, sawah-sawah yang dulu (katanya) ada telah beralih fungsi menjadi perumahan. Begitu keluar rumah, hal yang saya temukan adalah jumlah kendaraan yang makin banyak, dan macet yang makin menyerupai ibukota.

Karenanya, datang ke Desa Munduk di Bali Utara adalah salah satu hal istimewa yang pernah saya dapat rasakan. Begitu keluar kamar penginapan, hamparan kebun cengkeh yang luas adalah pemandangan yang setiap hari saya saksikan. Tak ada bising klakson kendaraan, tak ada asap knalpot yang pekat. Suatu hal yang amat jarang saya dapatkan.

Sayangnya, ada satu hal yang tetap kurang dari gambaran desa yang ada di kepala. Hamparan sawah yang luas serta padi-padi yang ditanam adalah hal yang tidak terlihat di desa ini.

Ketika tiba di Munduk, saya menemukan dua lumbung padi yang masih tegak berdiri di penginapan tempat kami bermukim. Lumbung padi milik dua bersaudara yang masih difungsikan hingga saat ini. Keberadaan lumbung itulah yang mengusik pikir saya, di mana sawah-sawah yang menyuplai gabah untuk disimpan di dalamnya?

Berdasar cerita Putu Ardana, salah satu pemilik lumbung, kebanyakan hamparan sawah sudah ditanami pohon cengkeh.

Di Munduk, keberadaan petani yang masih menanam padi juga sudah mulai menurun. Kebanyakan dari mereka beralih menanami lahannya dengan pohon cengkeh. Selain disebabkan harga cengkeh yang tinggi, faktor mulai berkurangnya aliran air ke ladang karena banyaknya hotel juga membuat petani beralih ke komoditas ini.

Lumbung padi di Don Biyu

Bentuk bangunan yang ada di penginapan Don Biyu memiliki enam tiang penyangga. Jumlah penyangga ini mengartikan luasan dan besaran lumbung. Menurut sang adik, Komang Armada, setiap lumbung yang mereka miliki dapat menampung sekitar tiga ton gabah di dalamnya. Meskipun, saat ini, lumbung mereka sudah tak pernah terisi penuh.

“Dulu, punya saya pernah terisi sampai setengah, sekitar 1,5 ton,” jelas Komang. Biasanya, lumbung di Munduk diisi beras merah.

Simpanan gabah di lumbung

Kondisi saat ini telah berbeda dengan masa saat Putu Ardana masih kecil. Dulu, lumbung padinya selalu terisi penuh. Karena memang sawah-sawah yang mereka miliki juga luas. Kini, sawah yang luas itu telah berubah menjadi kebun cengkeh.

Saat ini, lumbung milik Putu Ardana tidak menyimpan gabah sama sekali. Karena sawah yang ia miliki sudah sangat sempit, maka suplai padi pun tidak banyak. “Ini saya belum dapat setoran lagi dari ladang,” terangnya.

Selain digunakan sebagai tempat penyimpanan padi, keberadaan lumbung di rumah menjadi salah satu penanda kelas sosial. Semakin besar lumbungnya, semakin tinggi kelas sosial. Harga lumbungnya sendiri terbilang besar. Menurut Komang, jika dijual, satu lumbung bisa dihargai 50 juta rupiah.

Kini, gabah-gabah yang tersimpan di lumbungnya lebih banyak digunakan untuk konsumsi pribadi. Karena memang jumlah keluarga yang tidak terlalu besar, simpanan gabah yang ada hanya untuk mencukupi kebutuhan beras mereka. “Jadi sudah tidak perlu beli lagi,” tambahnya.

Dua bersaudara ini adalah satu dari sedikit orang yang masih memiliki lumbung padi. Jika mau ditotal, pemilik lumbung yang tersisa di Munduk hanya sekitar 10 orang. Dan bisa jadi, keberadaan lumbung bagi warga hanya tinggal cerita, ikut menghilang seiring sawah ladang yang semakin berkurang di desa ini.

mm
Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit