ANEKA

Made Terip: Maestro Karawitan Bali

26/07/2017
oleh:

Putu Togog sedang kelimpungan mencari anak lelakinya saat orang-orang berduyun-duyun meninggalkan sanggar seni di Desa Munduk, Bali Utara. Matanya mengamati dengan saksama sekeliling ruang sanggar seni. Ia juga terus bertanya keberadaan anaknya kepada setiap orang yang ia temui di sanggar seni. Tak ada seorang pun yang tahu.

Lelah mencari tanpa hasil, Putu Togog memutuskan pulang ke rumah. Ia berpikir, mungkin anaknya sudah pulang, sudah sampai di rumah. Pulang sendiri, atau bersama tetangga yang kebetulan pulang lebih dahulu. Nihil. Anak lelaki yang ia namakan sama dengan nama perusahaan bus antar-kota tempatnya bekerja itu tak ada di rumah.

Hari masih pagi saat Made Terip tiba di rumah keesokan harinya. Ketika Bapaknya kalang kabut mencari keberadaannya, Made Terip sudah tertidur nyenyak di tempat gong, salah satu alat yang digunakan pada kesenian gamelan bali, dimainkan.

Ini terjadi sekira 60 tahun yang lalu. Made Terip menceritakan kejadian ini kepada Tim Ekspedisi Munduk beberapa hari yang lalu saat kami berkunjung ke kediamannya. Usianya kini 65 tahun. Ia lahir di Desa Munduk dengan leluhur berasal dari Tabanan. Menurut perkiraannya, beliau adalah generasi keenam dari leluhurnya yang bermigrasi ke Desa Munduk.

Kecintaan Putu Togog pada kesenian Bali menurun kepada Made Terip. Darah seniman mengalir dalam dirinya. Selain bapak, kakeknya, dan terus hingga leluhurnya yang pertama kali datang ke Desa Munduk adalah seniman.

Sejak kecil, Made Terip terbiasa menyaksikan bapaknya memainkan bermacam alat kesenian yang ada. Ia juga kerap diajak bapaknya menyaksikan pertunjukan seni karawitan Bali atau sekadar latihan yang diadakan di sanggar seni di Desa Munduk.

Sebelum usia enam tahun, seorang diri, Made Terip mengunjungi sanggar seni di dekat rumah orang tuanya. Ia menyaksikan dengan saksama orang-orang yang sedang berlatih memainkan bermacam alat dalam seperangkat gamelan Bali.

Ketika mereka yang berlatih sudah pulang, Made Terip mulai memainkan alat-alat tersebut seorang diri. Ia memainkan teknik-teknik pukulan yang ia lihat sebelumnya. Tingkah ini ia lakukan berulang kali, menolak ajakan teman-temannya bermain, dan kerap bolos sekolah demi kegemarannya akan gamelan Bali.

Praktis, rutinitas otodidak semacam ini membuat kemampuan Made Terip di bidang kesenian karawitan Bali berkembang pesat. Di usia 10 tahun, Ia sudah menguasai bermacam teknik menabuh gamelan. Saat duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar (SD), Made Terip memutuskan untuk fokus mendalami kesenian karawitan Bali.

Keinginan fokus di bidang kesenian dengan melanjutkan pendidikan di sekolah seni Konservatori Karawitan (Kokar) tak mendapat restu orang tua. Jarak Desa Munduk ke Denpasar yang cukup jauh menjadi alasan. Ia tak patah arang. Terus berlatih dan berlatih secara otodidak mengasah kemampuan sekaligus menyalurkan kegemaran.

Kemampuan Made Terip dalam kesenian karawitan Bali mulai diakui saat ia kali pertama dipercaya untuk melatih anak-anak di Desa Munduk. Ini terjadi ketika usianya masih sangat muda, belum genap 11 tahun. Ia melatih gamelan Bali dan tari. Sejak saat itu hingga kini, Made Terip rutin menjadi pelatih kesenian karawitan Bali.

Setelah menikah di usia 20 tahun, Made Terip membentuk grup Gong Kebyar di Desa Munduk. Gong Kebyar adalah kesenian gamelan baru dengan beberapa modifikasi peralatan. Terkadang, orang-orang menyebut Gong Kebyar dengan gamelan modern. Tak lama setelah dibentuk, grup ini mulai dikenal karena kemahiran mereka dalam memainkan gamelan Bali.

Mereka mulai diundang untuk tampil di luar Desa Munduk, di desa tetangga, di Buleleng, Denpasar, hingga ke Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Di awal pendirian grup, kesibukan Made Terip bertambah. Ia mulai rutin diminta untuk melatih gamelan Bali di desa-desa tetangga.

“Saya kalau melatih itu keras, tidak main-main. Kalau ada yang salah dan tidak bersemangat saya akan marah-marah. Kalau keterlaluan, saya juga tidak segan melempar murid dengan apa yang ada di sekitar saya.” Dengan logat khas Bali, Made Terip menjelaskan metode melatih yang ia terapkan.

Sejauh ini, Made Terip berhasil menggubah sekira 50 aransemen gamelan Bali. Selain itu, ia juga pernah merekonstruksi musik dan tarian Wrianjaya, musik dan tarian dari Buleleng Barat yang sempat hilang cukup lama.

Made Terip dan grup kesenian Kul-kul dari desa Munduk

Selain berkesenian dan mengajar, sehari-hari, Made Terip juga membuat gamelan bambu pesanan para pelanggan, penikmat seni, dan kolektor. Satu set gamelan bambu ia kerjakan hanya dalam dua hari saja.

Diakui dunia

Kiprah berkesenian Made Terip di luar negeri dimulai pada tahun 1981. Saat itu, ia dan empat orang lainnya diundang untuk mementaskan kesenian gamelan Bali di Roma, Italia. Made Terip juga diminta mengisi workshop gamelan Bali. Selain Roma, ada delapan kota lainnya di Italia yang ia kunjungi untuk melakukan pementasan dan workshop.

Setelah itu, berturut-turut, undangan untuk pentas dan melatih gamelan Bali di luar negeri datang. Undangan seakan tak pernah berhenti sampai tahun 2012 saat terakhir kali ia diundang ke Hongkong.

Di Eropa, kota-kota di Belanda, Jerman, dan Prancis menjadi wilayah yang paling sering mengundangnya. Di Prancis, bahkan ia pernah tinggal selama empat tahun, dengan hanya sesekali kembali ke Desa Munduk, untuk melatih mereka yang tertarik dengan gamelan Bali di beberapa kota.

“Setiap kali berkunjung ke luar negeri, hanya di Hongkong saja yang murni pementasan. Di tempat lain, selain pementasan gamelan Bali, selalu ada workshop pelatihan memainkan gamelan Bali. Yang paling sulit, juga paling berkesan, tentu saja selama mengajar di Prancis. Selain karena paling lama, di Prancis saya mengajar orang-orang yang sama sekali belum mengenal gamelan Bali, dan mereka juga bukan musisi atau seniman. Dalam seminggu, dengan murid-murid awam gamelan Bali itu, kami harus tampil sebanyak 5 kali. Dan, berhasil.” Ujar Made Terip tentang pengalamannya mengenalkan gamelan Bali ke luar negeri.

Kemudian ia menambahkan, “Sama saja, mau di luar negeri, atau di dalam negeri, kalau saya mengajar ya keras. Siapa yang tidak serius, saya marahi. Karena yang paling utama itu disiplin. Disiplin. Lain tidak.”

Made Terip mempunyai empat orang anak, tiga anak lelaki, dan seorang anak perempuan. ketiga anak laki-lakinya juga menjadi seniman. Anak pertamanya bernama Putu Putrawan, seorang seniman, juara penabuh kendang tingkat nasional dan sempat mengenyam pendidikan di Insititut Seni Indonesia Yogyakarta.

Anak ketiganya bernama Komang Budiastrawan, lulusan sekolah seni Kokar, dan mengelola sanggar kesenian karawitan Bali di Desa Munduk.

Sedangkan anak keempatnya bernama Ketut Sudarman, berusia 27 tahun. Saat Tim Ekspedisi Munduk menemui Made Terip, Ketut Sudarman sedang melatih grup Pukul Kulkul yang akan tampil pada pembukaan festival kesenian di Singaraja pada 2 Agustus 2017 yang akan datang.

“Yang paling sulit itu memainkan kendang, tetapi yang paling saya suka tentu saja main suling. Semua alat di gamelan Bali, bisa saya mainkan. Bukan hanya main alat musik, menari pun saya juga pandai. Kami berdarah seni, dari leluhur kami mereka semua seniman. Anak-anak saya, cucu saya, dan keturunan mereka, harus jadi seniman juga.” Begitu Made Terip menutup obrolan sebelum Tim Ekspedisi Munduk pamit undur diri.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan