KOMODITAS

Manunggaling Kopi Arabika Munduk, Bunga Hortensia, dan Jeruk

22/07/2017
oleh:

Tahun 1878, hampir seluruh perkebunan kopi pemerintah Kolonial Belanda di Nusantara terserang penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV). Penyakit ini terutama menyerang perkebunan kopi yang terletak di dataran rendah.

Pemerintah kolonial mengganti jenis pohon kopi arabika yang terserang penyakit dengan kopi liberika. Kopi jenis ini dianggap lebih tahan penyakit.

Awal abad 20, penyakit karat daun juga dialami kopi liberika. Permintaan tinggi untuk komoditas kopi di pasar dunia memaksa pemerintah kolonial mencari solusi agar bisa kembali menanam kopi dan meraup keuntungan. Tahun 1907, mereka mendatangkan kopi jenis robusta, dan kali ini berhasil. Pohon-pohon kopi robusta tidak terserang penyakit.

Di beberapa tempat, kopi liberika yang terserang penyakit karat daun masih bisa bertahan. Di Sumatera dan Kalimantan, misalnya. Pohon kopi yang tersisa beberapa kembali dikembangkan. Begitu juga dengan kopi arabika, yang bisa bertahan dari serangan penyakit karat kulit, terutama kopi yang ditanam di dataran tinggi.

Di utara pulau Bali, di sekitar kawasan Danau Tamblingan, Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, wilayah pada ketinggian 1000 hingga 1500 meter di atas permukaan laut (mdpl), pohon kopi peninggalan perkebunan yang dibangun oleh Belanda masih bisa ditemukan.

Pohon-pohon kopi ini pada akhirnya tumbuh liar di tengah hutan Amerta Jati. Sampai saat ini, pohon-pohon kopi tersebut masih berbuah. Berdasarkan peraturan adat, siapa pun diizinkan untuk memanen kopi-kopi tersebut.

Kawasan di sekitar Danau Tamblingan memang cocok untuk pohon kopi berjenis arabika. Terletak di dataran tinggi dengan tingkat kelembapan yang juga tinggi membuat pohon dan buah kopi tumbuh dengan baik.

Arabica Tamblingan

Kemampuan pohon kopi arabika di sekitar Danau Tamblingan bertahan dari wabah penyakit karat daun, saat hampir seluruh pohon lain rusak di banyak tempat lainnya rusak, adalah bukti lain bahwa kawasan tersebut cocok untuk pohon kopi arabika.

Sebelum cengkeh menjadi komoditas primadona di Desa Munduk, kopi adalah komoditas utama. Sejak tahun 1920-an, pohon kopi sudah mulai ditanam. Selain meningkatkan perekonomian warga desa, kopi juga menguntungkan warga dari luar Desa Munduk.

Berbondong-bondong, penduduk dari Karangasem, Klungkung, Ubud, Denpasar, dan beberapa wilayah lainnya datang ke Desa Munduk saat musim panen kopi tiba. Mereka bekerja sebagai pemetik buah kopi. Beberapa dari mereka memutuskan untuk menetap dan menjadi warga Desa Munduk.

Saat cengkeh mulai ditanam pada periode 1970-an menggantikan kopi, kawasan Danau Tamblingan menjadi wilayah yang tidak terkena dampak berarti. Ini karena cengkeh sudah tidak cocok ditanam di sana. Pohon kopi arabika tetap bertahan dan terus dibudidayakan.

Sabtu, 15 Juli 2017, tim Ekspedisi Munduk berkunjung ke perkebunan kopi arabika di Banjar Tamblingan, Desa Munduk. Hamparan pohon kopi arabika yang sedang berbuah dan siap dipanen mudah ditemukan.

Sekira 20 meter saja dari jalan utama, jejeran pohon kopi tertanam rapi. Yang menarik, selain menggunakan pohon lamtoro sebagai pohon peneduh, di sela pohon-pohon kopi arabika di kawasan Danau Tamblingan, petani menanam tanaman bunga hortensia.

Tanaman jeruk dan bunga hortensia

Selain itu, di beberapa tempat, pohon kopi arabika ditanam dalam satu hamparan bersama pohon jeruk dan tanaman bunga hortensia.

Kondisi ini tentu saja menarik. Sangat mungkin pohon jeruk dan tanaman bunga hortensia memengaruhi citarasa kopi arabika yang tumbuh di sekitarnya. Selain itu, wilayah Danau Tamblingan cukup potensial untuk didaftarkan sebagai kawasan Indikasi Geografis tersendiri karena bentang alam dan adat istiadat dan tradisi di sana memiliki kekhasannya tersendiri.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan
  • Intan Sedana

    pagi min, saya tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang perkebunan kopi desa munduk, bebrapa waktu lalu saya juga sempet melakukan penelitian ke desa munduk, tapi kurannya waktu membuat saya tidak bisa menggali lebih dalam tentang perkebunan kopinya. yang saya lihat saat ini perkebunan kopi desa munduk sudah kehilangan eksistensinya sebagai komoditi utama desa munduk, kenapa hal itu bisa terjadi? terimaksih min..