ALAM

Melawan Atau Berdamai dengan Sampah Plastik?

01/12/2017
oleh:

Disadari atau tidak, keseharian kita dikepung oleh aneka produk berbahan dasar plastik. Mulai perlengkapan kamar mandi hingga ruang tidur. Dari perabotan rumah tangga sampai piranti teknologi. Jam weker yang menggugah kita pagi-pagi, telepon genggam, sikat gigi, saluran air, instalasi listrik, mainan anak-anak, panel-panel pada dashboard dan pintu mobl…

Singkat kata, selama 24 jam, kita mustahil berkelit dari benda-benda yang berbahan dasar plastik, dengan pelbagai varian, serta fungsinya.

Bahkan dunia pertanian, sektor pinggiran yang digeluti oleh mayoritas warga di pelosok atau pedesaan, wilayah yang dipersepsikan mengusung antitesis gaya hidup praktis, modern, dan serba cepat, harus mendapati kenyataan tidak bisa lepas dari ketergantungan kepada aneka produk berbahan dasar plastik.

Tidak sedikit alat bantu produksi yang menyertakan satu dua onderdil yang mengandung elemen plastik. Mesin pemotong rumput, alat pencacah seresah, klinden penggerak penggiling kopi, tali-tali pengait tangga bambu saat panen cengkeh berlangsung, mulsa penutup gulma, dan sebagainya. Yang membedakan cuma jenis komponen dan persentase kandungannya.

Kajian-kajian ilmiah mengatakan, plastik, sintesa senyawa kimia  polypropilene, polyetilene, polyvinyl chloride, dan polycarbonate itu memiliki daya rusak yang masif dikarenakan efek racun terhadap tanah. Polutan bagi udara terlebih jika penghancurannya dilakukan melalui proses pembakaran.

Dampak buruknya tidak henti diberitakan. Sulitnya diurai berulang-ulang diulas. Yang paling anyar, pemerintah membatasi penggunaan plastik melalui aturan kantong plastik berbayar yang berlaku di gerai-gerai retail.

Taruhlah kajian-kajian itu benar. Persoalannya, apa lantas kita antipati kemudian menutup mata dari kemungkinan-kemungkinan pemakaiannya? Ini perkara pilihan.

Ada yang memilih bersikap zero tolerance alias tegas menolak kehadiran segala benda yang mengandung unsur plastik. Ada pula yang memilih sikap bermufakat baik-baik, berdamai dengan realitas yang nyata-nyata tidak dapat ditolak.

Saya memilih yang kedua, setidaknya sampai ditemukan produk alternatif yang lebih bersahabat secara ekologis. Sampai sisi-sisi praktis plastik sebagai bahan dasar kita temukan sosoknya pada benda lain. Praktis dalam pengertian memiliki kelebihan-kelebihan yang rata-rata di atas material lain seperti fleksibilitas, ringan, mudah dibentuk, tahan air, murah biaya produksi.

Penting diketahui, sejak di hulu, pihak produsen sebetulnya sudah melakukan upaya preventif untuk tujuan meminimalisir dampak buruk pemakaian produk berbahan dasar plastik.

Yang paling umum dikenal: pencantuman resin kode pengklasifikasian ke dalam nomor-nomor (satu sampai tujuh) yang diterakan pada masing-masing produk. Angka tersebut mewakili tipe dan sifat-sifat plastik terkait, pertama, kesesuaian pemanfaatannya sebagai produk olahan, kedua memudahkan pendaurulangannya kemudian.

Periode konsumsi

Mengapa fenomena “membuang sampah sembarangan” menjadi persoalan yang kian membutuhkan penanganan serius?

Saya punya ilustrasi. Jika sekian puluh tahun lalu, era 90-an atau sebelumnya, kita mengonsumsi makanan, baik rumahan maupun yang kebetulan kita beli di warung, hampir dapat dipastikan wadah atau kemasan yang digunakan berbahan dasar yang mudah hancur atau terurai di tanah. Daun pisang misalnya.

Sesudah era itu, atas nama efisiensi serta diukung oleh pencapaian di bidang industri pengolahan makanan dan pengemasan, kemasan mulai dibikin praktis menggunakan bahan-bahan seperti aluminium foil, kertas ivory, wadah karton, samson craft, plastik, kertas laminasi, dan material sejenis yang sayangnya rata-rata sulit diurai.

Berikutnya, soal kultur dan pola. Membuang sampah erat kaitannya dengan kesadaran yang terbentuk secara kognitif. Kebiasaan membuang sampah di negara-negara maju, misalnya, tentu berbeda dengan yang terjadi di negara-negara berkembang, terlepas dari pendekatan yang mereka gunakan: persuasif atau sebaliknya, represif, dengan menerapkan sanksi-sanksi ketat kepada pihak yang melanggar.

Upaya mengubah kebiasaan sudah barang tentu butuh waktu. Akan lebih efektif seandainya kerja ini dilakukan secara terintegrasi, melibatkan semua pihak, mengingat sampah sudah menjadi persoalan bersama.

Sekilas mengenai komunitas MBSM (Munduk Bersih Sehat Melaju)

“Bebas sampah plastik” tidak serta merta mesti diterjemahkan sebagai “anti plastik”. Tidak. Itu dua terminologi berbeda. Yang pertama merujuk kepada upaya menekan sekecil mungkin sebaran sampah atau limbah yang mengandung unsur plastik. Sementara yang kedua lebih kepada pilihan sikap yang menolak dengan tegas apa pun benda yang terbuat atau mengandung komponen plastik sebagaimana saya singgung di atas.

Bebas sampah plastik merupakan kondisi sebuah kawasan yang berkat upaya-upaya warganya, kawasan tersebut menjadi steril dari buangan sampah atau limbah plastik. Karena ia sebuah kondisi, sangat terbuka kemungkinan untuk mengubah atau memperbaikinya. Untuk kemungkinan perbaikan itulah kelompok relawan MBSM (Munduk Bersih Sehat Melaju) bekerja.

Sebagai wadah kerja kolektif, jenjang dan pembagian tugas-tugas menjadi penting.

Di wilayah edukasi, dibentuk kelompok yang khusus bertugas memberikan pemahaman-pemahaman baik kepada warga masyarakat, pengguna fasilitas publik, hingga sekolah-sekolah. Pada tataran tindakan, selain diaplikasikan melalui kegiatan kerja bakti seminggu sekali (Jumat Bersih) yang melibatkan sejumlah relawan, komunitas MBSM juga memfasilitasi warga dengan menyediakan kantung-kantung sampah di titik-titik tertentu. Terakhir, melakukan pengelolaan sampah di TPA: memilah dan mengelompokkan pelbagai jenis sampah ke dalam dua kategori umum, organik dan non-organik (plastik, kaleng, botol, pecahan kaca).

Dari aktivitas mengelola ini, selain manfaat lingkungan (menciptakan kawasan bersih dan sehat), nantinya diharapkan ada manfaat ekonomi yang diperoleh. Dari sampah jenis organik, misalnya, dapat diproduksi pupuk kompos yang siap dijual. Sedangkan sampah jenis plastik ditangani melalui wadah manajemen khusus: bank sampah.

Dari tiga konsep: reuse (menggunakan kembali), reduce (membatasi penggunaannya), dan recycle (mendaur ulang sampah menjadi produk lain yang lebih bermanfaat), saya pikir dua yang terakhir menjadi pilihan yang paling mungkin dilakukan.

Panjang umur para penyayang bumi, kepada mereka saya menaruh tabik.

mm
Petani