RELIGI

Memuliakan Air, Memuliakan Semesta

22/10/2017
oleh:

Acara Nunas Raos atau memohon petunjuk dari langit di pura Pemulungan Agung baru saja usai. Jam telah menunjukkan angka 12 siang. Selanjutnya, persiapan untuk melakukan Mekiis atau Melasti ke pantai Labuhan Aji di desa Temukus. Perjalanan panjang bakal ditempuh dari  desa Gobleg, tempat pura Pemulungan Agung, yang menjadi pusat dari semua pura yang disungsung masyarakat Adat Dalem Tamblngan Catur Desa.

Ribuan krama sudah berjejal di dalam dan di luar pura, untuk bersiap mengiringkan Ida Btara Pengulu memargi dengan segenap benda pusakanya. Untuk melakukan perjalanan ke Labuhan Aji yang berjarak sekitar 20km dari desa Gobleg.

Tepat pukul 13.30,  setelah semuanya sudah siap, Ida Btara pun memargi dan perjalanan panjang itu dimulai dalam suasana cuaca yang cukup terik. Meski begitu, para Krama yang ngiring atau mengiringkan seperti tidak peduli dengan cuaca terik tersebut. Perangkat gong duwe atau gamelan yang dikeramatkanpun ditabuh. Tetabuhan bertalu-talu itu mengeluarkan irama magis yang seolah memberi tenaga ekstra kepada mereka yang mendengarnya. Perjalanan pun dimulai.

Ritual perjalanan ke Labuan Aji ini disebut sebagai Madyaning Karya, salah satu dari rangkaian panjang ritual masyarakat Adat Dalem Tamblingan Catur Desa. Rangkaian ritual ini dimulai pada Tilem (bulan mati) sasih kasa yang jatuh sekitar Juli sampai purnama kelima pada November. Rangkaian ritual atau yang disebut Lilitan Karya ini sudah menjadi rutinitas 2 tahunan masyarakat Catur Desa sejak ratusan tahun lalu.

Masyarakat adat ini meyakini mereka mendapat amanah untuk menjaga kawasan di daerah mereka, khususnya di danau dan hutan Tamblingan yang dianggap sebagai sumber dan regulator atau pengatur air. Bagi masyarakat adat ini, air adalah sumber utama kehidupan. Sehingga hutan di atas danau Tamblingan yang mereka jaga dan lestarikan itu mereka beri nama Alas Amerta Jati (artinya kurang lebih: sumber kehidupan yang sesungguhnya). Sebelum dikenal istilah agama Hindu, keyakinan mereka pun dinamakan Agama Tirta (air).

Rangkaian panjang upacara atau Lilitan Karya masyarakat Adat Dalem Tamblingan ini mempunyai 2 tujuan utama. Pertama, membersihkan alam dan manusia dari hal-hal buruk. Kedua, berbagi kesejahteraan dalam segala aspek kepada sesama. Terakhir, mencoba menjaga keseimbangan dan kelestarian kosmos. Tentu saja semua dilaksanakan dengan ngiringang (mengikuti) jalannya Ida Btara Pengulu atau Ida Dalem Tamblingan yang mereka sungsung.

Ketika manusia dan alam ada dalam kegelapan, maka sesuatu harus dilakukan dengan terencana dan sungguh-sungguh. Agar kegelapan itu berubah menjadi kesejahteraan dan keseimbangan. Kegelapan itu bisa berupa kebodohan, kemiskinan, kerusakan alam dsb.

Maka dilaksanakanlah lilitan karya itu yang urutannya adalah:

1. Karya Dalu.

Dalu artinya gelap atau malam. Langkah pertama yang dilakukan adalah membersihkan atau menyucikan ibu pertiwi. Ritual besar pun dilakukan bertempat di 3 mata air di perbatasan desa Munduk dengan Gesing atau tukad Cangkup. Dilaksanakan pada tilem (bulan mati) sasih Kasa yang jatuh dikisaran bulan Juli.

2. Bongkol Karya.

 Setelah pertiwi dibersihkan, dasar bumi atau sapta pertala harus dibesihkan untuk bisa memasang fondasi kesejahteraan itu. Ritual untuk menyucikan dasar bumi dan membuat fondasi kesejahteraan ini dilaksanakan di mata air besar luahan agung Mendaum. Di perbatasan desa Munduk dengan Gobleg. Ritual ini dilaksanakan pada purnama Karo atau lima belas hari setelah karya Dalu.

3. Pura Raganta.

Sebulan berikutnya, atau pada purnama Ketiga, penyucian harus dilaksanakan di masing – masing keluarga. Raganta memang berarti masing-masing keluarga atau pribadi. Pribadi-pribadi, pekarangan, kebun dan termasuk prayangannya harus disucikan. Ritual ini dilaksanakan di masing-masing prayangan atau sanggah atau mrajan keluarga.

4. Ngaturang Pengrakih.

Setelah semua bagian bawah dibersihkan, pertiwi, dasar bumi dan masing-masing keluarga, maka sebulan kemudian penyucian dilanjutkan di bagian hulu atau kepala. Ritual ini dilaksanakan di seputaran danau Tamblingan dan alas Amerta jati.

Jadi selain melakukan ritual penyucian kawasan, Ngaturang Pengrakih ini sekaligus juga memohon kesejahteraan kepada sang pemilik semesta yang nanti akan dibagikan dan disebarkan ke segala penjuru.  Karena diyakini bahwa danau dan hutan ini adalah penyimpan dan regulator atau pengatur air yang menjadi sumber hidup yang sesungguhnya. Ritual ini berlangsung pada purnama Kapat.

5. Madyaning Karya.

Sesudah semua disucikan dan dibersihkan, Amerta atau kesejahteraan juga sudah dianugerahkan, maka pada tilem Kapat (tahun ini jatuh pada tanggal 20 Oktober), dilaksanakanlah ritual Madyaning Karya berupa mekiis ke pantai Labuan Aji.  Segala kekotoran-kekotoran dari melakukan penyucian itu dilarung ke laut. Ida Btara Pengulu, yang direpresentasikan dalam bentuk pusaka-pusaka diiringkan oleh kramanya  memargi untuk melakukan pelarungan kekotoran-kekotoran sekaligus menyebarluaskan kesejahteraan yang sudah di anugerahkan.

Itulah sebabnya di sepanjang jalan semua masyarakat di desa yang dilewati menyumbangkan suguhan-suguhan makanan dan minuman kepada semua pengiring Ida Btara Pengulu sekaligus mengaturkan bakti kepada Ida Btara Pengulu yang diyakini mengejawantah dalam rombongan itu. Mereka, masyarakat yang dilewati ini, meyakini bahwa kesejahteraan mereka berasal dari Ida Btara Pengulu berupa air dan kesuburan. Itulah yang membuat mereka begitu besemangat menghaturkan suguhan selama perjalanan dan selama di lokasi Labuhan Aji.

Laut mempunyai posisi yang unik di sini. Selain sebagai tempat membuang segala kekotoran, sekaligus adalah juga tempat penyucian atau membersihkan diri Ida Btara Pengulu yang diiringkan itu. Setelah 3 hari di Labuan Aji, lewat tengah malam hari ketiga, Ida Btara kembali diiringkan menuju Gobleg dengan rute yang berbeda agar kesejahteraan yang disebarkan bisa lebih luas lagi sebarannya.

6. Ngaya-ayu atau Ngenteg Linggih Kamertan.

Setelah dibersihkan dan dibuang kotorannya, setelah dimohonkan dan dibagikan kesejahteraannya maka lima belas hari kemudian atau pada purnama Kelima sampailah pada pamungkas ritual. Kamertan atau kesejahteraan itu harus dikukuhkan. Harus dikuatkan. Agar bisa bertahan lama dan selalu jauh dari kegelapan. Ritual ini dinamakan Ngayu-ayu atau Ngenteg Linggih Kamertan.

Sebagai rangkaian ritual, lilitan karya ini mempunyai pesan yang amat dalam dan masih sangat relevan niilai-nilai yang dibawanya. Air harus dimuliakan, alam harus dijaga keseimbangannya. Harus selalu ada harmoni, antara manusia dengan sang pemilik semesta, antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam sekitarnya. Alam sekitar itu termasuk semua Mahluk di luar manusia.

Manusia kekinian harus bisa menangkap esensi ini. Terutama para pembuat kebijakan. Bagaimana masyarakat daerah hulu di ketinggian memelihara danau dan hutan kemudian diapresiasi oleh masyarakat daerah bawah yang merasakan bahwa kehidupan mereka berasal dari air yang mengalir dari daerah atas yang bisa tetap mengalir karena hutan dan danaunya ada yang menjaga.

Salam dari desa.

mm
Bendesa Adat Desa Munduk