ANEKA

Mengail Sejarah Desa Munduk

22/07/2017
oleh:

Seperti sebuah ingatan, selalu ada titik yang menjadi awalan sejarah.

Desa Munduk berada di ketinggian 781 mdpl. Udara dingin menjadi salah satu teman akrab di desa yang berada di Bali Utara ini. Jalan yang menanjak, lagi berkelok-kelok menjadi alur yang mesti dilalui untuk mencapai Desa Munduk. Dua danau, Tamblingan dan Bulian yang berdampingin seperti menyapa semua manusia yang memasuki kawasan Munduk.

Begitu memasuki batas desa, hamparan hutan cengkeh menyapa mata. Di beberapa titik, nampak juga pepohonan kopi yang terawat dengan baik. Lanskap bentang alam dan Gunung Batukaru, gunung tertinggi kedua di Bali, seperti mengurung desa ini, mengirimkan angin segar khas pegunungan. Di sisi utara, ketika matahari terbenam, nampak Laut Jawa yang berkilau.

Waktu berjalan dengan cepat di desa ini. Mengenal Munduk, adalah usaha mengail ingatan-ingatan yang terpecah.

Tak ada catatan resmi perihal permukiman pertama di Munduk. Salah satu catatan yang menjadi acuan adalah prasati yang terbuat dari perunggu, yang ditemukan di tepi Danau Tamblingan. Disebutkan dalam prasasti tersebut bahwa dahulu terdapat kerajaan kecil di terletak di puncak pegunungan, di atas Danau Tamblingan. Kerajaan tersebut dinamakan Dalem Tamblingan.

Menurut penuturan Nengah Eka, mantan Bendesa (Kepala Adat) Desa Munduk, orang-orang Gobleg yang pertama kali menghuni. Gobleg adalah salah satu nama desa di samping Desa Munduk. Saat ini, keduanya tergabung dalam sistem catur desa, yang terdiri dari Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umujero.

Kerajaan Dalem Tamblingan berkuasa sekitar 2000 tahun lalu. Menurut dongeng setempat, pernah terjadi letusan besar yang membentuk tiga danau di sekitar Munduk. Saat itu, Gunung Lesung meletus dengan dahsyat. Bekas letusan menjadi tiga danau, yaitu Beratan, Bulian, dan yang paling kecil disebut Tamblingan.

Jika Bulian dan Tamblingan masih masuk ke dalam Desa Munduk, maka Danau Beratan masuk ke wilayah Tabanan.

Ketika Belanda Berkuasa

Tahun 1849, daerah Bali Utara jatuh ke tangan Belanda. Selanjutnya, tahun 1906 setelah Perang Puputan berakhir, daerah Bali Selatan berhasil diduduki Belanda. Kejatuhan kedua kutub Pulau Dewata ini menandakan kekuasaan penuh Belanda atas Bali.

Banyak orang Belanda, terutama personil non-militer yang mengunjungi, sekaligus tinggal di kawasan Munduk. Mereka membangun rumah dengan tujuan rekreasi. Hingga saat ini, masih bisa ditemui bekas rumah dengan arsitektur Belanda.

Namun sayang, warga sekitar sudah merobohkan sebagian besar bangunan Belanda ketika Operasi Trikora diluncurkan oleh Presiden Soekarno. Komang Bagiarta, sesepuh desa mengungkapkan bahwa rasa cinta tanah air dan kemarahan yang dipendam membuat banyak warga yang mengungkapkannya dengan merusak rumah-rumah Belanda.

Saat ini, Desa Munduk tengah berusaha merestorasi bangunan yang sempat dirusak itu. Salah satu bangunan yang sudah berdiri adalah Puri Sunny. Bangunan yang difungsikan sebagai penginapan ini dibangun kembali dengan artsitektur seperti aslinya. Sebuah cara untuk mempertahankan ingatan lama, sekaligus bisa difungsikan untuk menarik wisatawan, ungkap Bagiarta kemudian.

Selama masa pendudukan Belanda, ada banyak seniman yang belajar kesenian Barat di Singaraja. Di antaranya adalah Nyoman Sunu, Ketut Sugatra, Ketut Supatra, dan Putu Wita. Sementara itu, seniman yang bertahan di Desa Munduk juga terus berkarya. Mereka adalah Wayan Genjong, Nengah Putra, dan Putu Togog. Generasi selanjutnya muncul seniman besar dalam diri Made Terip.

Saat itu, kesenian tradisional berkembang pesat dan menjadi daya tarik yang besar. Kesenian seperti Gambuh Arja, Gong Kebyar, dan Legong menjadi salah satu ciri khas Desa Munduk.

Masa pendudukan Belanda juga membawa berkah tersendiri bagi Desa Munduk. Tepatnya tahun 1870, Belanda memperkenalkan kopi arabika, dan selanjutnya, tahun 1915, kopi robusta mulai digalakkan untuk ditanam.

Alhasil, antara tahun 1900 hingga 1960, Desa Muncuk mencapai masa keemasannya. Berkat komoditas kopi, Desa Munduk menjadi salah satu desa terkaya di Bali.

Ngurah Rai dibuka

Pada tahun 1974, bandara internasional di Denpasar resmi dibuka. Bandara tersebut dinamakan Ngurah Rai, dan kehadirannya sangat berpengaruh kepada situasi di Bali Utara, tepatnya Desa Munduk.

Keberadaan bandara, otomatis, berdampak kepada lonjakan turis, baik lokal maupun internasional. Hotel dan penginapan dibangun secara masif di Bali Selatan. Akibatnya, industri pariwisata di Denpasar dan sekitarnya membutuhkan banyak tenaga. Maka, banyak anak-anak muda dari Desa Munduk yang “merantau” ke Selatan.

Terjadi ketidakseimbangan antara luasnya lahan pertanian dengan tenaga kerja. Untuk mengatasinya, Desa Munduk mulai menggerakkan roda pariwisatanya, terutama dengan tetap mempertahankan ciri agraris desa ini. Meski napas modernitas sudah terasa di Munduk, corak tradisi dan hijaunya alam tetap dipertahankan.

Perpaduan yang selaras menjadi salah satu pegangan utama Desa Munduk untuk menyambut masa depan. Sejarah panjang, masa kejayaan yang berasal dari kebun, hingga latar modern dalam wujud berbagai tempat peristirahatan adalah warna Desa Munduk saat ini.

mm
Koki @arsenalskitchen.