ALAM

Mengembalikan Elang Bondol ke Habitatnya

31/07/2017
oleh:

Jika merujuk pada jam sebagai penanda waktu, siang sedang pada puncaknya saat Putu Ardana, Kepala Desa Adat Desa Munduk mengajak tim Ekspedisi Munduk berangkat menuju Danau Tamblingan yang terkepung Hutan Amerta Jati.

Langit Desa Munduk tertutup awan mendung, kabut tebal menemani perjalanan kami. Jika tidak melihat jam di tangan, saya akan mengira saat kami berangkat pada sabtu 29 Juli 2017, masih pagi, bukan di siang hari. Karena kondisi cuaca saat itu memang masih seperti pagi-pagi sebelumnya di Desa Munduk.

Puluhan orang sudah berkumpul di tepi danau saat kami tiba. Sebagian besar berpakaian tradisional Bali, termasuk beberapa turis asing yang ada. Gerimis mulai turun saat kopi dan teh panas serta beberapa jenis kudapan dihidangkan untuk seluruh hadirin.

Tujuan kedatangan kami ke Danau Tamblingan adalah untuk menghadiri acara pelepasan lima ekor elang bondol (Haliastur Indus) yang diadakan Yayasan Nagaloka bekerjasama dengan Friends of the National Park Foundation (FNPF), Yayasan Cinta Taman Indonesia, dan masyarakat Desa Munduk.

Pemilihan kawasan Danau Tamblingan dan Hutan Amerta Jati sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan. Bagi masyarakat Munduk, hutan dan danau ini adalah wilayah yang mereka sakralkan. Peraturan adat dan peraturan pemerintah menetapkan wilayah ini sebagai wilayah konservasi.

Nyoman Bagiarta, warga Desa Munduk pendiri Yayasan Nagaloka menerangkan, kegiatan pelepasan burung elang ini sudah dilaksanakan untuk yang kedua kalinya. Dua tahun yang lalu, kegiatan semacam ini pernah dilaksanakan di lokasi yang sama.

Masih menurut Nyoman Bagiarta, Yayasan Nagaloka memang bergerak di bidang konservasi. Karena berdiri dan berkantor di Desa Munduk, yayasan ini kerap bekerjasama dengan masyarakat Munduk untuk melakukan kerja-kerja konservasi.

Selain bergerak di bidang konservasi, Yayasan Nagaloka juga menaruh perhatian besar di bidang pendidikan. Salah satu kegiatan di bidang pendidikan yang sudah mereka kerjakan adalah pendirian program sekolah listrik di Singaraja, Buleleng. Sekolah ini sudah berlangsung selama tiga tahun.

Bagi Nyoman Bagiarta, keyakinan Hindu yang ia anut, selain memberikan tuntunan bagaimana berhubungan dengan Tuhan, juga menuntut budi baik kepada sesama manusia dan alam. Ia mengejawantahkan tuntutan tersebut dalam bentuk kegiatan konservasi dan pendidikan.

Seorang pemangku adat memimpin rombongan memasuki Pura Sang Hyang Kauh. Upacara dimulai. Ia memimpin doa sebelum lima ekor elang bondol dilepasliarkan. Dupa mulai dibakar, aroma harum menguar ke sekeliling pura.

Seorang perempuan memercikkan air suci kepada seluruh rombongan yang turut berdoa sementara pemangku adat terus memanjatkan doa. Upacara ditutup dengan pemberian air suci oleh pemangku kepada mereka yang mengikuti upacara.

Satu per satu, kotak kayu berisi elang bondol yang telah dikarantina sebelumnya, dibawa ke depan pintu pura. Elang bondol dilepas secara bergantian oleh Kepala Desa Adat, Pemangku, perwakilan dari yayasan yang menggelar acara, masyarakat Munduk, dan wisatawan luar negeri yang menghadiri acara.

Elang bondol mengendap-endap keluar kotak kayu, memandang sekitar dengan tatapan tajamnya, kemudian terbang menuju Hutan Amerta Jati, habitat baru mereka kini.

Bagi umat Hindu di India, burung elang bondol adalah representasi dari burung garuda di masa kini, burung suci Dewa Wisnu.

Di alam, keberadaan burung elang bondol sudah semakin berkurang. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990, burung elang bondol menjadi salah satu hewan yang dilindungi. Ciri khas elang bondol adalah dari kepala hingga leher berwarna putih, sedang bagian lainnya berwarna cokelat.

Masyarakat Munduk, dengan berbagai elemen yang ada di dalamnya, sejauh ini begitu intensif menjaga dan merawat Danau Tamblingan dan Hutan Amerta Jati sebagai wilayah yang disakralkan dan dilindungi.

Kegiatan pelepasan lima ekor burung elang bondol menjadi bagian dari keseriusan mereka mewujudkan semua itu. Menurut Nyoman Bagiarta, ia tak akan berhenti untuk terus melakukan kerja-kerja konservasi di Desa Munduk, sebagai bentuk nyata menerapkan ajaran Hindu yang ia yakini.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan