ANEKA

Mensyukuri Berkah dan Panen di Pura Kopi

07/08/2017
oleh:

Mungkin Mojang Priyangan boleh berbangga karena Tuhan menciptakan Bandung saat sedang tersenyum. Dianugerahi lanskap dan kawasan yang indah nan sejuk, mereka mungkin sudah cukup bahagia dengan tempat tinggalnya. Meski mereka yang bangga itu belum tahu, ada sebuah desa di Bali Utara yang dianugerahi Tuhan bentang alam yang lebih baik dari Bandung.

Kalau boleh menyombongkan diri, saya yakin, Tuhan menciptakan Munduk ketika sedang tertawa bahagia. Munduk tak hanya dianugerahi lanskap dan pemandangan yang bagus. Tapi lebih dari itu, Munduk ditopang kesuburan tanah untuk menghidupi tanaman serta masyarakat. Dialiri air yang cukup dari Danau (suci) Tamblingan, anugerah yang terlampau besar untuk hidup warga yang bergantung dari komoditas tanam.

Karena anugerah itulah, sejak dulu desa ini memang dikenal sebagai desa tani. Desa yang hidup dari tanaman yang dirawat warganya. Sejak hamparan sawah serta ladang, masa keemasan kopi sejak zaman kolonial, hingga berlimpahnya kekayaan masyarakat karena keberadaan cengkeh. Ragam komoditas tumbuh dengan baik berkat anugerah alam yang belum tentu dimiliki daerah lain.

Sebelum cengkeh menjadi komoditas favorit warga desa, kopi adalah tanaman yang diandalkan warga untuk menopang hidup mereka. Berdasar cerita organisasi tani adat, kopi telah ditanam di Munduk bahkan sejak masa kolonial Belanda. Malah setelahnya kopi menjadi andalan masyarakat karena kualitasnya yang bagus dan memiliki harga mahal.

Karena hal itulah, kemudian dibangun sebuah pura yang dikenal masyarakat dengan nama Pura Kopi. Sebuah pura tempat masyarakat mewujudkan rasa syukur atas berkah dari tanah dan tanaman mereka.

Sebenarnya saya baru tahu kalau bagi umat Hindu, setiap upacara dilakukan di pura yang sesuai dengan kebutuhan upacara. Misalkan upacara untuk bersyukur atas berkah air yang melimpahi desa mereka, maka warga Munduk melakukan upacara di Pura Gubug yang ada di Danau Tamblingan.

Begitu juga ketika masyarakat melakukan upacara untuk bersyukur atau memohon agar panen melimpah, ya upacara dilakukan di Pura Kopi.

Sebenarnya pura ini tidaklah bernama pura kopi sebagaimana warga biasa sebut. Pura ini memang dibangun untuk upacara-upacara yang berkaitan dengan perkebunan. Karenanya pura ini (sebenarnya) dinamai Pura Subak Abian.

Menurut cerita Gde Westra, ketua Subak (organisasi tani berbasis adat) Munduk, masyarakat akhirnya lebih akrab dengan nama Pura Kopi karena dulu komoditas yang banyak ditanam di sini adalah kopi.

Secara formal, ada dua pura yang dibangun untuk keperluan upacara terkait urusan komoditas. Ada Pura Subak Abian untuk tanaman perkebunan, ada Pura Subak Sawah untuk tanaman pertanian. Dan setiap ada upacara terkait kebutuhan itu, akan dilakukan di kedua pura tersebut.

Pura Subak Abian sendiri mulai disebut sebagai Pura Kopi ketika kopi di Bali memasuki masa kejayaan. Ketika itu ada banyak orang-orang luar desa yang datang ke Munduk ketika masa panen karena nilai ekonomi yang tinggi. Dan dari tingginya nilai ekonomi yang dihasilkan kopi itulah masyarakat mulai menamai pura itu dengan tambahan kata kopi di belakangnya.

Walau kini tanaman kopi sudah tak lagi mendominasi lahan masyarakat, tapi pura yang berdiri tak jauh di dekat Puri Lumbung ini masih disebut warga sebagai pura kopi. Karena apa pun jenis komoditasnya, selama itu memberikan penghidupan bagi warga mereka akan mensyukuri berkah yang didapat dengan melakukan upacara di pura.

Melakukan upacara sembari menyediakan sesaji agar panen mereka tetap melimpah dan lahan mereka tetap ditopang oleh kayanya alam.

mm
Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit