RELIGI

Menyucikan Diri di Tepi Amerta Jati

21/07/2017
oleh:

Melalui jalan raya provinsi yang menghubungkan Seririt dan Denpasar, ke arah timur dari Desa Munduk, jalur yang dilalui menanjak dan berkelok-kelok.

Di lereng-lereng curam, di kiri dan kanan jalan, hamparan pohon cengkeh dan kopi tumbuh subur. Berbelok ke arah selatan mendekati perbatasan Desa Munduk dan Desa Wanagiri, meninggalkan jalan provinsi untuk kemudian memasuki jalan desa, hamparan kebun bunga hortensia yang ditanam di antara perumahan warga, kebun kopi dan kebun jeruk tertanam rapi.

Jalan yang sebelumnya menanjak berganti landai setelah memasuki jalan desa. Ketika jalan mulai menurun, hamparan hutan hujan tropis yang mengelilingi danau terlihat. Masyarakat menyebutnya Danau Tamblingan.

Kendaraan kembali berbelok ke arah utara, melalui pos penjaga hutan milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Setelah melintasi gapura sebagai gerbang adat, kami tiba di danau seluas 1,17 km2.

Saya dan Tim Ekspedisi Munduk diantar Putu Ardana, Bendesa Munduk saat berkunjung ke Danau Tamblingan. Waktu itu hari Sabtu, jalan provinsi yang melalui Desa Munduk ramai oleh kendaraan wisatawan.

Kawasan Danau Tamblingan ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Sekira lima kelompok wisatawan lokal mendirikan tenda di tepi danau. Mereka sudah menyiapkan kayu bakar untuk membuat perapian sebagai pengusir dingin saat malam tiba.

Danau Tamblingan berada di Kabupaten Buleleng. Terletak di sebelah timur Desa Munduk, kawasan danau dan hutan hujan tropis di sekelilingnya saat ini ditetapkan sebagai wilayah konservasi di bawah wewenang BKSDA. Konsep wisata berbasis konservasi diterapkan di kawasan Danau Tamblingan.

Jauh sebelum ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh BKSDA, Masyarakat Adat Dalem Tamblingan Catur Desa yang mendiami empat desa (Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umujero) di barat danau sudah menetapkan area Danau Tamblingan sebagai kawasan suci.

Hutan hujan tropis yang mengelilingi danau diberi nama Hutan Amerta Jati. Amerta jati berarti ‘sumber kehidupan sejati’. Masyarakat Adat Dalem Tamblingan memang menjadikan air sebagai sentral ritus adat dan agama yang mereka jalani.

Dalam konsep spiritual Masyarakat Adat Dalem Tamblingan, seluruh kawasan Hutan Amerta Jati dan Danau Tamblingan disebut sebagai kawasan during capah atau ‘utama mandala’. Konsep ini mengibaratkan kawasan tersebut sebagai “kepala dari satu kesatuan tubuh”. Kesakralan lokasi ini dikuatkan oleh keberadaan setidaknya 17 tempat suci di sekeliling kawasan.

Diperkirakan, sebelum abad 10 Masehi, di sekitar Danau Tamblingan sudah ada permukiman penduduk. Mereka diyakini sudah berada di sana sebelum Hindu masuk Bali. Masyarakat Adat Dalem Tamblingan menyebut komunitas mereka sebagai komunitas Bali Mula dengan leluhur berasal dari daerah di sekitar Danau Tamblingan. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti dari perunggu tak jauh dari Danau Tamblingan.

Tamba berarti ‘obat’ dan elingang berarti ‘kemampuan spiritual’. Asal mula penamaan Tamblingan ketika sekali waktu wabah penyakit menyerang warga. Seorang yang dianggap suci turun ke danau mengambil air dan menggunakannya sebagai obat. Kisah ini bisa ditemukan di dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul.

Satu dari sekian banyak upacara adat besar yang dilakukan di Danau Tamblingan adalah Purnama Kapat. Upacara ini merupakan rangkaian yang berlangsung sekira lima bulan, dengan air sebagai sentral upacara.

salah satu ritus yang harus harus dilakukan adalah upacara Ngaturang Pengkapeh. Ritus ini dilakukan di tepi Danau Tamblingan dengan menyucikan diri dan kawasan Danau Tamblingan.

Pada struktur adat, ada jabatan yang disebut Menega Turunan. Ada dua tugas pokok yang diemban, yaitu sebagai Jaga wana (menjaga hutan) dan jaga teleng (menjaga danau).

Fungsi-fungsi ini sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu dan hingga saat ini masih berjalan dengan baik. Itulah sebabnya, sekarang ini, kawasan Danau Tamblingan menjadi kawasan dengan kerapatan hutan dan kondisi ekologi yang paling baik di seluruh kawasan Bali.

Anehnya, sejak kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi dan menjadi wewenang langsung negara lewat BKSDA, kondisi Hutan Amerta Jati malah terdegradasi. Informasi ini saya dapat dari Putu Ardana, Bendesa (Kepala Desa Adat) Desa Munduk.

Pernah ada periode pencurian kayu dan beberapa varietas unggulan di Hutan Amerta Jati. Saat itu, pihak BKSDA yang merasa paling berwenang atas kawasan Hutan Amerta Jati tidak bisa berbuat banyak. Sementara itu, pihak pemangku adat yang sudah sejak ratusan tahun lalu menjaga kawasan ini berada pada posisi yang terjepit.

Jika mencoba memberlakukan peraturan adat, mereka akan dianggap melawan peraturan pemerintah. Apabila berdiam diri, kawasan yang mereka sucikan akan semakin rusak. Pada akhirnya, pihak pemangku adat mencoba semaksimal mungkin untuk tetap bisa menghalangi pengrusakan kawasan sakral mereka.

Saat ini, pelan-pelan, pihak desa kembali mencoba mengambil wewenang untuk mengelola Hutan Adat Amerta Jati dan Danau Tamblingan. Beberapa kebijakan adat sudah mulai kembali bisa diterapkan. Misalnya, melarang perahu bermesin beroperasi di Danau Tamblingan, dan melarang adanya permukiman di sekitar Danau Tamblingan.

Saya kira, sudah seharusnya pengelolaan kawasan Hutan Amerta Jati dan Danau Tamblingan dikembalikan sepenuhnya kepada Masyarakat Adat Dalem Tamblingan.

Alasannya, sudah ratusan tahun mereka berhasil menjaga kualitas hutan dan danau dengan baik. Tanpa peran besar dari Masyarakat Adat Dalem Tamblingan, tak mungkin kawasan Hutan Amerta Jati dan Danau Tamblingan menjadi kawasan dengan kondisi ekologi yang baik.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan