ALAM

Munduk, Desa Tani dengan Potensi Pariwisata

21/07/2017
oleh:

Selama ini, Bali dikenal karena keindahan pantainya. Nama Kuta dan Denpasar sangat tersohor setelah pariwisata di Bali Selatan berkembang begitu cepat. Untuk wisata alam, nama Udud termasyhur berkat sistem pertanian terasering mereka.

Namun, ada satu lokasi di Bali Utara, yang menyimpan potensi begitu besar, namun belum dikenal dunia. Namanya Desa Munduk, berada di Kabupaten Buleleng .

Berada di kawasan pegunungan membuat desa ini memiliki udara sejuk. Hamparan kebun dan hutan menghadirkan pemandangan indah. Apalagi, Munduk memang dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil cengkeh dan kopi di Bali.

Berdasar data demografi, Munduk memiliki lahan perkebunan seluas 1090 hektar yang 77,5% lahannya digunakan untuk dua komoditas utama tadi. Maka jangan heran jika di sepanjang jalan Munduk, hamparan luas pohon cengkeh adalah pemandangan yang biasa.

Hamparan pohon cengkeh dan pegunungan terlihat dari penginapan Don Biyu

Selain mengandalkan dua komoditas tadi, sektor perkebunan juga membudidayakan komoditas lain seperti kacang merah, kelapa, dan pisang. Bahkan, komoditas seperti pisang turut menjadi andalan masyarakat karena memiliki varietas pisang ketip yang digunakan sebagai bahan baku sektor kuliner di Munduk.

Dengan luas lahan sebesar tadi, tak heran jika 40,4% warga Munduk berprofesi sebagai petani. Itu pun jika kita mengalkulasi jumlah petani berdasar total penduduk desa. Jika kita menghitungnya berdasar jumlah angkatan kerja produktif, maka akan ditemukan 77,5% dari total masyarakat yang bekerja.

Tim Ekspedisi Munduk menemui Bendesa Desa Munduk, Putu Ardana. Beliau menjelaskan bahwa sejak dulu, Munduk memang terkenal sebagai kawasan perkebunan. Pada masa sebelum cengkeh meledak di Indonesia, daerah ini sudah dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Bali. Tak hanya itu, saking besarnya penghasilan para petani Munduk dari kopi, orang-orang menyebut tanaman ini sebagai pohon uang.

Kini, cengkeh menjadi komoditas yang paling besar. Harga cengkeh yang relatif tinggi membuat banyak petani tertarik menanam. Walau begitu, kebun kopi warga mulai bergeliat lagi. Mengingat komoditas ini sedang segar-segarnya digemari masyarakat Indonesia.

Tak hanya sektor perkebunan, komoditas pertanian juga turut menyumbang penghidupan bagi warga. Walau areal lahannya tidak sebanding dengan luas lahan perkebunan, tetapi komoditas seperti padi beras memiliki areal seluas 40 hektar. Kebanyakan sawah digunakan untuk menjadi panganan masyarakat.

Selain mengandalkan sektor bercocok tanam, Munduk kini tengah digandrungi bisnis pariwisata. Kehadiran Cottage Puri Lumbung pada awal tahun 1990-an menandai dimulainya sektor pariwisata di Munduk. Dengan mengandalkan hamparan pohon cengkeh dan pegunungan yang ada, sektor wisata hutan mulai hidup.

Penginapan-penginapan dan restoran di sepanjang jalan mulai dibangun. Meski sudah ada penginapan yang dibangun pada 1992, namun hingga 2010, jumlahnya hanya sembilan. Dan kini, sudah ada sekitar 47 hotel dan restoran yang berdiri.

Desa ini mengandalkan hutan seluas 1056 hektar sebagai jualan utama. Keberadaan beberapa tempat wisata seperti Air Terjun Tanah Bara dan Air Terjun Melanting ikut menyemarakkan wisata tracking ala Munduk. Tak hanya itu, Munduk juga masih memiliki Danau Tamblingan yang juga dikelilingi oleh hamparan hutan yang asri, yang bernama Amerta Jati.

Meski mulai mengembangkan sektor pariwisata, Desa Munduk tetap menjaga perkebunan sebagai sektor utama ekonomi masyarakat. Karena memang keberadaan perkebunan dan hutan yang menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke desa tani ini.

mm
Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit