ALAM

Nyoman Bagiarta: Merawat Air, Merawat Kehidupan

20/07/2017
oleh:

Sosok ini cukup sulit untuk ditemui. Meski sudah berusia 77 tahun, Nyoman Bagiarta masih penuh determinasi untuk bekerja dan berkarya. Jika hari ini di Desa Munduk, Bali Utara, hari berikutnya bisa berada di Denpasar, Bali Selatan.

Desa Munduk berada di ketinggian antara 500 hingga 1200 meter di atas permukaan air laut. Desa ini dikelilingi gunung tertinggi kedua di Bali, yaitu Batukaru. Tak jauh dari desa, terdapat dua danau yang berdampingan, Bulian dan Tamblingan.

Berdasarkan penuturan Nyoman Bagiarta ketika ditemui tim Ekspedisi Munduk, tak ada pendudukan asli di desa yang asri ini. “Semuanya ya bisa dibilang pendatang,” ungkap sesepuh desa yang mengenakan kacamata itu.

Menurut catatan prasasti yang ditemukan di tepi Danau Tamblingan, disebutkan bahwa dahulu terdapat sebuah kerajaan yang bernama Dalem Tamblingan.

Di sekeliling kerajaan terdapat empat permukiman yang cukup besar, yaitu Hunusan, Gobleg, Tanah Mel, dan Batu Mejajah. Nama permukiman terakhir ini yang kini disebut Desa Munduk.

Daerah Bali Utara jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1849. Sementara itu, Bali Selatan takluk pada tahun 1906 setelah Perang Puputan berakhir. Karena udaranya yang sejuk, banyak orang Belanda yang mendirikan bangunan di daerah Bali Utara, tepatnya tentu di Desa Munduk.

Ketika Operasi Trikora (1961) diluncurkan oleh pemerintah Indonesia untuk membebaskan Irian Jaya (Papua) dari tangan pendudukan Belanda, di Munduk sendiri terjadi pergolakan, meski dalam skala kecil.

Orang-orang setempat menunjukkan sentimen mereka terhadap Belanda dengan menghancurkan bangunan-bangunan Belanda yang berada di Munduk. Sebagian besar rusak dan tak berbekas.

Nyoman Bagiarta menekankan pentingnya merawat air bagi warga Munduk

Nyoman Bagiarta mengungkapkan bahwa Desa Munduk sendiri berusaha merestorasi bangunan Belanda yang pernah dihancurkan tersebut. Salah satu bangunan yang kini berdiri adalah Puri Sunny, sebuah penginapan dengan jalan tanjakan sempit di depannya.

Perhatian yang diberikan dan restorasi yang dilakukan penduduk kepada bangunan Belanda adalah upaya untuk menjaga ingatan masa lalu. “Keseimbangan harus dijaga. Bangunan itu seperti manusia,” terang Bagiarta. Oleh sebab itu, sesepuh yang sebagian giginya sudah tanggal tersebut menegaskan pentingnya menjag keseimbangan alam, salah satu merawat sumber air.

Ketika musim penghujan tiba, Desa Munduk bisa menyimpan air. Namun, jika musim kemarau, sumber-sumber air bisa hilang apabila tak dijaga dengan penuh perhatian. Salah satu lokasi yang juga mendapat perhatian adalah kedua danau yang berdekatan dengan Munduk, yaitu Bulian dan Tamblingan.

Dahulu, masih banyak orang yang mencari ikan di kedua danau tersebut. Sayang, saat ini, tak bisa setiap saat masyarakat setempat “memanen” ikan. Sudah banyak jenis ikan yang tak lagi terlihat. Maka, upaya perbaikan ekosistem juga terus digalakkan.

Bagi pemeluk Hindu di Bali Utara, air adalah unsur yang penting. Elemen ini melambangkan ketenangan dan kebijaksanaan. Menjauhkan manusia dari jalan amarah merupakan salah satu hal yang ditekankan Nyoman Bagiarta.

“Jika manusia jauh dari nafsu, hidupnya akan lebih tenang. Ia tak memerlukan kekayaan yang sebetulnya tidak ia butuhkan,” tegas Nyoman Bagiarta.

Memang betul, tanpa air, praktis tak ada kehidupan. Terutama untuk Desa Munduk, luasnya hamparan perkebunan dan sawah memerlukan kehadiran air. Padahal tanpa kekayaan alam tersebut, Desa Munduk, dan manusia pada umumnya, tak akan punya kebudayaan. Tak ada warisan paling hakiki yang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya: alam yang lestari.

Merawat air, adalah merawat diri sendiri. Oleh Nyoman Bagiarta, kita diingatkan hal yang paling mendasar.

mm
Koki @arsenalskitchen.