KOMODITAS

Pisang Ketip Andalan Warga Munduk

24/07/2017
oleh:

Menjadi desa yang berada di dataran tinggi membuat tanah Munduk subur untuk beragam komoditas. Hamparan cengkeh yang luas dan biji kopi yang berkualitas adalah satu bukti kesuburan kawasan ini. Kedua tanaman tadi adalah komoditas utama yang menghidupi sebagian besar warga Munduk.

Meski kedua tanaman tadi menjadi andalan utama, tapi Munduk masih punya komoditas lain yang berpengaruh bagi masyarakat. Walau tak ditanam di kebun yang luas, tapi komoditas ini memiliki banyak guna bagi warga. Nama komoditas ini adalah pisang ketip.

Pisang ini adalah jenis tersendiri yang banyak ditanam di Bali Utara. Teksturnya kaku dan kenyal. Ketika langsung dimakan tanpa diolah, rasa manisnya tidak menonjol, namun legit. Dan ketika diolah, baik digoreng maupun dikukus, rasa manis seperti madu menyeruak ketika dikunyah.

Pisang ketip yang digoreng, sajian utama ekspedisi Munduk

Pisang ini menjadi salah satu santapan favorit warga Munduk. Hampir setiap warung jajanan menjajakan olahan pisang ketip. Mulai dari digoreng, dikukus, dan ada pula yang dibuat keripik. Tekstur yang tidak lembek ketika diolah menjadi salah satu kelebihannya.

Salah satu dari warung yang menyajikan pisang ketip goreng adalah Warung Bu Tu Asih, di dekat pasar. Pisang goreng yang disajikan berukuran seperti ibu jari. Kecil dan mudah dilahap. Setiap harinya, Putu Asih, si pemilik warung, bisa menghabiskan delapan tandan pisang ketip.

 

Biasanya, orang-orang membeli pisang goreng di warung ini untuk dibungkus, baik dibawa pulang maupun dijual lagi. Kami, tim Ekspedisi Munduk, hampir setiap hari mampir ke warung ini sepulang dari pasar. Mengobrol dengan empunya warung, sambil menikmati pisang ketip goreng, dan ditemani secangkir kopi hitam. Perpaduan yang sempurna.

Tak banyak orang yang menjadikan tanaman pisang ketip sebagai tanaman budidaya. Oleh sebab itu, tanaman ini hanya digunakan sebagai tanaman sela. Tanaman yang ada untuk berada di sela-sela kebun yang belum diisi.

Walau jumlah panennya tidak besar, tapi komoditas ini sudah mencukupi kebutuhan warga. Jika tidak punya kebun, warga bisa dengan mudah mendapatkannya di pasar desa dengan harga sekitar 25 ribu rupiah.

Di kebun Komang Armada, misalnya. Sebagai salah satu petani cengkeh, ia mengaku memiliki sekitar 10 pohon pisang ketip. Dari 10 pohon tersebut, beliau mengaku hampir selalu punya pisang ketip di rumahnya karena pohon miliknya berbuah bergiliran.

Pisang ketip digunakan sebagai bahan dasar salah satu sesaji di Munduk

Selain dijadikan bahan konsumsi, Kebutuhan masyarakat akan pisang ketip, salah satunya adalah untuk sesajian. Menurut Putu Ardana, Bendesa (Ketua Adat Desa) Desa Munduk, penggunaan pisang pada sesaji dilandasi keberadaannya yang mudah didapat. Sekadar itu saja. “Jadi jangan dikira setiap saji harus selalu berhubungan sama hal mistis,” ujarnya.

Karenanya, kebutuhan masyarakat akan pisang terhitung besar mengingat dalam setiap upacara, sesaji yang digunakan hampir selalu menggunakan bahan dasar pisang. Dan dalam beberapa jenis sesaji, pisang ketip harus selalu digunakan seperti pada upacara pernikahan.

Berkat kegunaannya itulah, walau dengan jumlah lahan yang tidak banyak, pisang ketip menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat. Terutama untuk kebutuhan domestik warga Munduk.

mm
Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit