ANEKA

Pojok Kopi Spesial Di Don Biyu

14/08/2017
oleh:

Tiga hari lalu, saya diberi kabar menggembirakan oleh Bli Putu Ardana: di resto Don Biyu sudah ada pojok kopi spesial.

Selama ini, di Bali Utara, banyak orang lebih mengenal kopi Banyuatis. Padahal ada banyak penghasil kopi, salah satu yang spesial adalah daerah Munduk. Hanya sayang, kurang dimaksimalkan potensinya.

Kopi Munduk selama ini hanya diambil oleh para saudagar besar, tanpa diberi label kopi dari daerah Munduk. Atau dikonsumsi oleh masyarakat Munduk dan sekitarnya, dengan kualitas kopi yang kurang mendapatkan perhatian. Misalnya dari proses pemetikan yang lebih asal petik, pengeringan yang alakadarnya, tanpa proses sortasi yang baik, dan disangrai dengan biasa saja.

Tentu untuk konteks mencukupi kebutuhan yang diambil oleh pedagang secara masal, dan dikonsumsi sendiri oleh warga, hal tersebut wajar. Hanya saja jika biji kopi dipetik lebih cermat, dikeringkan lebih baik, disortasi lebih teliti, disangrai lebih hati-hati, dan disajikan dengan lebih memadai, akan menghasilkan secangkir kopi yang punya citarasa khas, dan tentu saja punya nilai jual yang lebih baik.

Suatu hari, ketika selama berhari-hari menyaksikan wisatawan mancanegara yang hilir-mudik di Munduk dan di resto Don Biyu, saya iseng berkata kepada Bli Putu: Kenapa tidak dibuat semacam coffee corner di resto yang dikenal menyajikan masakan Bali terenak di Munduk itu? Sebab selama saya datang di Munduk, belum pernah melihat kopi Munduk dijadikan sajian istimewa. Padahal kopi Munduk punya kualitas yang bagus. Terlebih saat itu, kami berdua memang sedang intens menggarap pascapanen kopi arabika Munduk, dan kopi dari area danau Tamblingan yang kami beri nama ‘Blue Tamblingan’.

Bli Putu menangkap dengan cepat apa maksud saya. Selama ini memang kopi yang disajikan di hampir semua resto di Munduk adalah kopi robusta. Itu pun yang robusta belum diproses dengan baik. Padahal robusta di Munduk sebetulnya berkualitas bagus, dan punya arabika yang punya citarasa istimewa.

Obrolan itu dengan cepat terlupa di kepala saya, karena saya konsentasi mendampingi proses dari petik sampai sangrai, baik kopi robusta maupun arabika di Munduk. Selain itu, konsentrasi saya terpecah lagi dengan mengawal teman-teman yang sedang melakukan penelitian cengkeh, dan membuat situsweb di Munduk.

Saya baru sadar lagi soal itu ketika Bli Putu mengirimi saya foto meja untuk coffee corner yang akan diletakkan di salah satu sudut dalam area resto Don Biyu. “Wih, Bli Putu gerak cepat nih…” batin saya saat itu. Tapi apa yang saya pikir ‘gerak cepat’ saya kira akan memakan waktu sebulan lagi. Namun ternyata, seminggu setelah itu, Bli Putu sudah mengirim foto meja tersebut, dan di atasnya sudah tersedia beragam kopi spesial.

Setidaknya di pojok kopi tersebut sudah ada: Blue Tamblingan denhan dua model sangrai yakni ‘light roasted’ dan ‘medium roasted’. Di meja itu juga dipajang contoh green beans Blue Tamblinga dengan model pengeringan natural process, dan juga Blue Tamblingan Lanang (pea beans) natural process. Dan yang istimewa, ada juga green beans dengan model pengeringan winery process. Untuk yang terakhir ini, saya ikut membantu menyortir, tapi belum sempat menikmati karena keburu balik ke Yogya. Penasaran juga, rasanya seperti apa. Tapi mestinya sih superistimewa.

Saya membayangkan, para wisatawan mancanegara dan wisatawan dometik yang berkunjung ke Munduk, akan mulai berbondong-bondong antre mencicip Blue Tamblingan, dengan ragam sangrai dan ragam model pengeringan. Di Yogya, Blue Tamblingan mulai banyak diminati. Hanya saja untuk sementara, jika ingin menyeruput kopi istimewa yang luasan lahannya hanya 40 hektar ini, baru bisa dilakukan di Kedai Minum Kopi (satu kompleks dengan angkringan Mojok).

Beberapa kedai kopi di Yogya sudah mulai memesan. Mungkin dalam beberapa hari ini jika kiriman dari Munduk datang, sudah mulai bisa kami proses ke kedai-kedai kopi yang memesannya.

Memang tahapan sekarang ini, setelah mengawal kualitas pascapanen, saatnya menyebarluaskan biji kopi istimewa dan sangat terbatas ini ke sebanyak mungkin kedai kopi, agar ada makin banyak lidah yang mencicipnya.

Jangan lupa kalau ke Munduk, mampir ke resto Don Biyu, dan seruputlah Blue Tamblingan yang istimewa itu.

mm
Kepala Suku