ANEKA

Puri Lumbung: Pemantik Suasana yang Berbeda

01/08/2017
oleh:

Salah satu unsur penting dalam industri pariwisata adalah ketersediaan tempat menginap. Tempat penginapan ini dapat menahan wisatawan lebih lama tinggal di tempat tersebut. Untuk itu, selain harus memenuhi standar pelayanan, penginapan harus berperan serta menjaga lingkungan sekitar.

Itulah yang mendasari berdirinya Puri Lumbung pada tahun 1992 di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, yang diinisiasi oleh Nyoman Bagiarta. Dan keberadaan Puri Lumbung diakui telah mengubah suasana Desa Munduk, yang tadinya hanya mengandalkan pendapatan dari komoditas andalan berupa cengkeh dan kopi.

Puri Lumbung membuktikan diri mampu seiring sejalan dengan lingkungan sosial dan daya dukung alam Desa Munduk.

 

Sekira tahun 1985, industri pariwisata di Bali mendapat sorotan tajam. Industri ini dianggap punya andil dalam rusaknya alam Bali. Industri wisata saat itu dipandang hanya berusaha menyenangkan wisatawan dan mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan kemanfaatan bagi penduduk dan alam sekitar.

Saat itu, Nyoman Bagiarta memimpin Lembaga Pendidikan Perhotelan di Bali, setelah 9 tahun menjalani karier di Bali Beach Hotel (sekarang Inna Grand Bali Beach Hotel). Lembaga pendidikan pariwisata adalah salah satu stakeholder industri pariwisata di Bali. Dengan latar belakang itu, Nyoman Bagiarta merasa terpanggil untuk turut memberikan sumbangsih membangun industri pariwisata yang berwawasan lingkungan dan memberi manfaat bagi penduduk sekitar.

Saat itu, koperasi lembaga yang dipimpinnya mempunyai kas sebesar 300 juta rupiah. Ketimbang dibagi habis sebagai sisa hasil usaha, beliau menyarankan kepada anggota koperasi untuk menggunakan dana itu sebagai dana pemberdayaan masyarakat.

Impian Nyoman Bagiarta mewujudkan darma-nya ternyata tidak mudah. Tiga tahun sejak berdiri, Puri Lumbung selalu merugi. Tingkat okupansi yang rendah dan rendahnya kunjungan wisatawan ke Bali utara adalah salah satu faktor.

Nyoman Bagiarta, penggagas Puri Lumbung.

Dengan bantuan British Council, Nyoman Bagiarta berkeliling Inggris Raya untuk mempelajari cara industri pariwisata yang dapat berjalan serasi dengan pelestarian lingkungan dan memberi manfaat kepada penduduk di mana industri ini menjalankan mesin ekonominya. Dengan bekal dari perjalanan itu, beliau kembali ke Munduk dan segera merombak konsep wisata yang ditawarkan.

Desa Munduk dipilih bukan tanpa alasan. Berdasarkan data sejarah, pada tahun 1925, sudah ada turis dari Eropa yang datang ke Munduk. Berdasarkan catatan sejarah pula, seorang sastrawan besar dari India, Rabindranath Tagore datang ke Bali dan menginap di Munduk, selain di Karangasem dan Gianyar. Saat ini, tempat Tagore menginap selama perjalanannya pada tahun 1927 masih berdiri.

Membangun penginapan di daerah yang belum menjadi tujuan wisata adalah tantangan tersendiri. Kabupaten Buleleng, pada awal 1990an, adalah daerah pertanian. Terlebih lagi Desa Munduk.

Dengan pengalamannya dalam mengelola hotel dan bekerjasama dengan lembaga-lembaga internasional, Nyoman Bagiarta mengirimkan undangan ke berbagai negara di Eropa untuk berkunjung ke Munduk. Undangan tersebut mendapat penolakan dari Belanda dan Amerika Serikat.

Namun, Nyoman Bagiarta tak patah arang. Beliau menjadikan Puri Lumbung sebagai tempat workshop seniman, baik dari dalam maupun luar negeri guna menjadi magnet bagi wisatawan. Bahkan, David Bowie pun pernah menyelenggarakan workshop di Puri Lumbung ini.

Saat ini, dengan 40 kamar, tingkat okupansi Puri Lumbung mencapai 50 persen setiap tahun. Artinya, sepanjang tahun, Puri Lumbung selalu terisi, meskipun dalam bulan-bulan sepi kunjungan wisatawan. Di bulan Juli-Agustus ini, jangan harap Anda bisa datang mendadak tanpa memesan tempat terlebih dahulu. Kamar sudah terpesan sejak jauh hari.

Bagi Munduk, Puri Lumbung adalah pemantik perubahan suasana desa. Memberi warna yang berbeda dan menjadi daya tarik yang kuat.

mm
Hidup petani!