ANEKA

Raksasa Tridatu dari Desa Munduk

24/07/2017
oleh:

Debu sedikit terangkat ketika raksasa itu berputar pada porosnya. Para penonton sempat menahan napas ketika ia mulai berpusing lebih cepat. Beberapa detik kemudian, tepuk tangan membahana, decak kagum tercecer di sekeliling panggung utama itu.

Raksasa tersebut dibuat dari kayu jati belanda, berat empat kuintal, tinggi 170 sentimeter, dan diameter mencapai 2,5 meter. Ia dberi nama Jro Tridatu, gasing terbesar di dunia, sebuah raksasa yang lahir di Desa Munduk, Bali Utara. Gasing yang luar biasa besar dengan lama berpusing hingga 25 menit.

Hebatnya, gasing terbesar di dunia ini dibuat hanya selama 18 hari saja. Di bawah komando Putu Ardana, Bendesa (Kepala Desa Adat) Desa Munduk, enam orang tenaga bekerja, boleh dibilang siang dan malam, menggarap gasing Jro Tridatu ini.

Selama 18 hari pembuatan gasing di halaman rumah sekaligus resto milik Putu Ardana menjadi hari-hari yang panjang, serta ramai. Setiap hari, warga sekitar mampir untuk menonton proses pembuatan Jro Tridatu. Menonton proses pembuata gasing menjadi area berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.

Nama Jro Tridatu diambil dari Bahasa Bali. Artinya menggambarkan tiga warna dasar yang menjadi ciri khas Bali, yaitu merah, putih, dan hitam. Tiga warna tersebut menggambarkan tiga dewa (trimurti) dalam Hindu. Mereka adalah Brahma yang diwakili warna merah, Wisnu dengan hitam, dan Siwa dengan putih.

Kayu jati belanda dipilih karena memiliki serat kayu yang halus, sehingga lebih ringan. Meski lebih ringan, kayu jati belanda cukup kokoh dan awet. Sementara itu, poros Jro Tridatu menggunaan besi dari as mobil. Ujung as mobil dengan diameter 10 sentimeter dan berujung runcing disepuh terlebih dahulu. Tujuan penyepuhan adalah mendapatkan ujung yang keras, namun batang tetap lentur.

Pembuatan gasing raksasa di desa Munduk

Setelah Jro Tridatu selesai dibuat, dilakukan upacara pasupati. Upacara ini bertujuan untuk memohon kepada Tuhan supaya memberikan berkah sekaligus menghidupkan sekaligus memberikan kekuatan magis terhadap barang-barang tertentu yang sudah seperti dikeramatkan.

Bulan November 2016, Jro Tridatu diboyong ke Jakarta untuk diikutkan ke dalam acara Pesta Olahraga-Rekreasi Mayarakat 2016. Acara yang dihelat di Taman Impian Jaya Ancol ini mendapat sponsor dari The Association for International Sport for All atau jika disingkat menjadi TAFISA.

Sepeti diungkapkan kepada tim Ekspedisi Munduk, Putu Ardana mengungkapkan bahwa dirinya harus menyewa satu truk besar untuk secara khusus untuk memboyong Jro Tridatu ke Jakarta. Melewati jalanan Desa Munduk yang berkelok, naik dan turun, Jro Tridatu dibawa dengan hati-hati.

Pembuatan gasing raksasa ini diprakarsai oleh Endi Aras, pendiri Komunitas Gasing Indonesia. Beliau sudah merencanakan pembutan gasing raksasa ini selama lima tahun penuh sebelum akhirnya berani “menantang” Putu Ardana untuk memimpin proyek pembuatan. Waktu yang mepet dimaksimalkan, kerja siang dan malam, kerja keras.

Ketika diikutkan dalam festival TAFISA, dibutuhkan enam orang untuk memutar gasing ini. Menggunakan tali yang dibuat dari benang bolah sepanjang 10 meter, Jro Tridatu diputar beramai-ramai.

Ketika sudah selesai berputar, ujung atas gasing “ditangkap” menggunakan dudukan yang dibuat dari besi. Waktu menangkap harus tepat. Jika gagal, gasing seberat 400 kilogram bisa saja jatuh dan dengan mudah meremukkan kaki.

Permainan gasing memang sangat populer di Bali Utara. Bahkan, bisa dibilang gasing sudah menjadi budaya yang diturunkan turun-temurun. Biasanya, banyak warga, baik tua dan muda, akan tekun membuat gasing untuk diadu ketika selesai melakukan panen.

Menurut Komang Armada, dalam tulisannya yang naik di minumkopi.com, filosofi gasing adalah “keseimbangan gerak. Dengan begitu, proporsi ukuran (bentuk, lingkar, tinggi, berat, presisi letak poros) menjadi penting. Penyimpangan atas poin-poin tadi tak bisa berarti lain selain mati. Bagi komune masyarakat agraris yang bermukim di empat desa pegunungan Bali Utara yakni desa Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umejero (lebih dikenal dengan sebutan Catur Desa atau Adat Dalem Tamblingan), gasing adalah ekspresi budaya yang kontekstual, punya nyawa dan menyejarah.”

Raksasa dari Desa Munduk, gasing Jro Tridatu sudah menyejarah di dalam keseharian. Sebuah hasil karya besar yang menggambarkan keluhuran budaya, determinasi manusia, keyakinan, kerja keras, dan estetika dalam sebuah satu putaran yang mistis.

mm
Koki @arsenalskitchen.