RELIGI

Ratumas Sang Pelindung Desa Munduk

26/07/2017
oleh:

Tak terasa waktu berjalan, telah lebih seminggu saya berada di Desa Munduk, Bali Utara. Sepanjang berada di Munduk, ada tiga hal yang menarik minat saya pada desa ini. Pertama tentu hamparan cengkeh, kedua jelas kulinernya, dan yang terakhir adalah sisi religi.

Satu hal yang kemudian saya pahami dari keyakinan masyarakat adalah sesaji yang diberikan memiliki makna dan tujuan yang berbeda. Ada sesaji yang digunakan untuk pernikahan, ada saji yang digunakan untuk kesuburan kebun, untuk perlindungan, dan lain sebagainya. Permohonan disampaikan kepada dewa-dewa tertentu, tergantung kepentingannya.

Misalkan, desa ini memiliki tradisi upacara yang berhubungan dengan air. Karena keyakinan warga bahwa air dari Danau Tamblingan adalah penyangga hidup mereka, maka warga desa ini hidup dengan memuliakan air. Pun ada sebuah pura yang dibangun di danau tersebut.

Tak hanya berkaitan dengan rasa syukur terhadap air yang menyangga hidup warga, masyarakat Munduk pun memiliki satu benda sakral yang diyakini mampu melindungi desa dari roh jahat. Namanya Ratumas.

Ratumas sendiri berbentuk topeng berwarna emas yang tersimpan di Pura Dalem. Hampir setiap acara atau festival yang diadakan, warga terlebih dahulu memberi sesaji kepada Ratumas agar mereka dilindungi dari hal-hal jahat. Menurut cerita Putu Ardana, Kepala Desa Adat Munduk, kalau sesaji tidak diberikan ada saja warga yang kesurupan.

Jika sudah begitu, maka ada satu orang yang harus turun tangan. Seseorang yang dipercaya kalau dirinya disukai oleh Ratumas. Lelaki ini bernama Nengah Yodin.

Dalam pertemuan di rumah Yodin, saya dan tim Ekspedisi Cengkeh mendengarkan ceritanya tentang Ratumas dan desa ini. Ratumas adalah salah satu benda yang disakralkan masyarakat karena dianggap mampu mengusir roh jahat. Karenanya, pada festival atau lomba yang diadakan, sesaji pada Ratumas wajib diberikan agar masyarakat tidak diganggu roh jahat.

Dalam acara-acara seperti lomba gasing, ada saja tim yang menggunakan dukun untuk memenangkan pertandingan. Karenanya, tim dari desa yang hendak mengikuti lomba gasing pastilah terlebih dulu memberi sesaji pada Ratumas sembari memohon perlindungan.

Ratumas (paling kiri) dalam upacara bersama beberapa desa

Dan untuk menangani segala hal soal Ratumas, Nengah Yodin yang diandalkan warga. Sudah lebih 30 tahun Nengah Yodin menjadi orang yang dipercayakan masyarakat untuk mengenakan topeng Ratumas pada saat tertentu. Ratumas memang hanya boleh dikeluarkan pada upacara-upacara tertentu.

Misal, pada prosesi Hari Raya Nyepi, ada satu prosesi bernama pengerupukan yang mengharuskan seseorang mengenakan topeng Ratumas dan menari mengelilingi desa. Tujuan dari prosesi ini adalah mengharap Ratumas mengusir segala roh jahat dari desa dan melindungi warga yang akan melakukan prosesi Nyepi.

Sebenarnya, beliau mengaku kalau dulu tidak mempercayai kesakralan topeng Ratumas. Tapi satu momen mengubah segala keyakinannya.

Ketika itu, Ia harus terlibat dalam festival yang menggunakan topeng Ratumas. Sebelum tampil, mendadak Ia “kebelet buang air” dan tidak mengganti pakaian ketika pentas. Saat mau tampil, perutnya melilt dan harus dibawa ke rumah sakit.

Sampai di sana, dokter mengatakan kalau Nengah Yondi tidak sakit. Tubuhnya normal, sehat. Tapi ketika pulang, sakit perut kembali melanda. Begitu terus sampai ia sadar kalau dirinya berada dalam keadaan tak suci saat menggunakan topeng Ratumas. Akhirnya, sejak itu, Nengah Yondi meyakini kalau topeng tersebut memiliki kesakralan tersendiri.

Kini, Nengah Yodin sudah tak lagi muda. Ia mulai kepayahan jika harus menari mengelilingi desa bersama Ratumas. Sayang, regenerasi yang diharapkan bukan hal mudah. Mencari orang yang disukai Ratumas bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Karena Ratumas sendiri yang akan menunjuk orang yang dia suka.

Untuk mengatasi masalah tersebut, kini Nengah Yodin biasa dibantu oleh anak-anak muda untuk menggunakan Ratumas. Tentu dengan syarat, Nengah Yodin harus menemani setiap prosesi yang menggunakan Ratumas.

Walau dalam prosesi pengerupukan harus tetap berjalan mengelilingi desa, setidaknya ia sudah bisa tidak menari karena bakal menambah beban terhadap kakinya. Upaya warga untuk melindungi desa pun tetap bisa dilakukan. Desa aman, warga pun tenang.

mm
Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit