ANEKA

Sajian Spesial di Atas Daun Pisang Don Biyu

22/07/2017
oleh:

Semestinya saat ini sudah memasuki musim kemarau. Komang Armada, salah seorang rekan saya yang tinggal di Desa Munduk, Bali Utara, pernah berujar, “Di Munduk, kalau musim kemarau, malam hari dingin sekali. Lebih dingin dari musim hujan. Biasanya, puncak dingin di musim kemarau berada pada rentang waktu antara Juli hingga Agustus.”

Orang bilang, efek pemanasan global semakin terasa. Cuaca tak menentu, musim tanam dan panen petani menjadi berantakan. Di Desa Munduk, kejadian semacam ini juga terlihat.

Saat tim awal Ekspedisi Munduk tiba pada 12 Juli 2017, hujan menemani perjalanan sepanjang jalan dari Tabanan hingga Desa Munduk. Musim kemarau hilang diguyur hujan. Cuaca tak menentu seperti ini, membuat hawa yang saya rasakan di Munduk berubah-ubah, kadang dingin, lebih sering dingin sekali.

Selama 10 hari di Munduk, terutama selama tinggal di Don Biyu yang berada pada ketinggian 781 meter di atas permukaan laut (mdpl), perubahan-perubahan cuaca sangat terasa.

Don Biyu, salah satu penginapan dan resto di Munduk

Menggunakan konsep resto, room, and rendezvous, Don Biyu menyediakan penginapan, tempat pertemuan yang nyaman, dan restoran dengan menu yang beragam serta pemandangan berupa sawah, perkebunan dan bentang alam pegunungan. Don Biyu merupakan Bahasa Bali, don berarti ‘daun’ dan biyu berarti ‘pisang’.

Dua ruangan tanpa dinding, masing-masing berukuran 9×5 meter disediakan untuk menyantap makanan. Seluruh bahan bangunan restoran disediakan oleh alam. Serat ijuk digunakan untuk mengikat bambu-bambu yang menyusun bangunan. Tiang-tiang penyangga atap menggunakan bambu. Atap menggunakan ilalang sebagai bahan utama. Ada pula tirai yang dibuat dari tangkai buah enau yang bisa dibuka dan ditutup sesuai kondisi cuaca.

Total ada 11 meja tersedia di kedua ruangan restoran. Yang menarik, meja dan kursi di Don Biyu seluruhnya dari kayu pohon cengkeh. Menurut Putu Ardana, pemilik Don Biyu, yang juga menjabat sebagai Bendesa (Kepala Adat), penggunaan kayu cengkeh untuk meja dan kursi di Don Biyu tidak disengaja.

Sebelum Don Biyu dibangun pada tahun 2014, angin kencang merobohkan banyak pohon cengkeh. Kayu pohon cengkeh yang roboh inilah yang digunakan untuk bahan baku membuat meja dan kursi.

Restoran Don Biyu menyediakan menu makanan dari Asia, Eropa, dan Indonesia, terutama Bali. Informasi dari Bli Ono, salah seorang koki di Don Biyu, menu spesial yang tersedia dan paling banyak dipesan oleh pengunjung adalah iga babi bakar dengan tiga varian saus, yaitu saus madu, pedas manis, dan saus lada bali.

Iga babi bakar di Don Biyu adalah salah satu iga bakar yang paling diburu di Bali. Bupati Buleleng saat ini, menjadi salah seorang langganan tetap menu iga bakar di Don Biyu.

Berbagai jenis minuman bisa dipesan di Don Biyu. Kopi, teh dengan berbagai macam variannya, minuman bersoda, bir, dan beberapa jenis wine. Kopi yang disajikan di Don Biyu, adalah kopi yang dipanen di kebun kopi milik Putu Ardana sendiri.

Tersedia enam kamar di penginapan Don Biyu. Seluruh kamar menghadap ke hamparan perkebunan cengkeh yang bersebelahan dengan sawah dan berujung ke pegunungan di selatan desa.

Hamparan perkebunan cengkeh di Munduk

Masyarakat Desa Munduk adalah masyarakat yang tahu betul bagaimana memberikan pelayanan terbaik, menghargai seni dan keindahan. Mereka memahami betul cara membuat wisatawan menjadi betah di Munduk.

Tata letak restoran dan penginapan sangat nyaman. Di halaman restoran dan selasar penginapan, tanaman hias dari berbagai jenis tertata rapi. Ada bunga anggrek, bonsai, kamboja, dan berbagai jenis tanaman hias lainnya. Ada pula kolam ikan di taman. Di Don Biyu, Anda bisa melihat anggrek langka yang saat ini hanya ada empat tanaman saja di luar Hutan Amerta Jati.

Bagi saya pribadi, yang paling istimewa adalah bisa leluasa berbincang dengan Putu Ardana. Mengemban amanah sebagai Kepala Adat, tentu saja membuat beliau tahu banyak akan Desa Munduk. Mulai dari tradisi, ritual keagamaan, hingga sejarah. Bagi saya, kesempatan ini sangat menyenangkan. Bermacam informasi bermanfaat bisa saya dapat dari beliau.

Jika Anda berkesempatan berkunjung ke Bali, sempatkan diri untuk berkunjung ke Don Biyu. Berada di tepi jalan Kayu Putih-Munduk, tak jauh dari pusat desa, Don Biyu siap memanjakan Anda.

Tak akan sulit mencari lokasi Don Biyu. Jika Anda sudah berada di Desa Munduk, bertanyalah kepada warga yang Anda temui, “Di mana rumah Pak Putu Ardana?”

Dengan keramahan yang menyenangkan, warga akan menunjukkan resto “daun pisang” ini.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan