ANEKA

Sanggar Bala Aninda: Merawat Anak, Menjaga Tradisi

19/07/2017
oleh:

Perkembangan zaman yang pesat mengancam anak-anak Munduk. Seiring berkembangnya pariwisata dan interaksi yang intens dengan masyarakat luar Bali, anak-anak Munduk mulai terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan yang negatif.

Beberapa tahun lalu, ada anak-anak yang ikut kebut-kebutan atau mencontoh kekerasan dari acara televisi. Bahkan ada seorang anak yang terjerat narkoba.

Melihat ancaman terhadap masa depan anak Munduk, Komang Budi Astrawan berinisiatif membangun sebuah sanggar seni. Komang Budi ingin supaya anak-anak menggunakan waktunya untuk kegiatan yang lebih baik. Ia mendatangi sekolah-sekolah yang ada untuk mengajak anak-anak belajar menabuh Gamelan Bali di sanggarnya.

Keprihatinan Komang Budi mendapat respons baik dari masyarakat. Meski harus memulai sanggar dari keadaan yang sulit, tapi dukungan warga serta Bendesa (Kepala Adat) membuatnya bergairah mengajak anak-anak untuk berkesenian. Menjauhkan anak-anak dari pergaulan yang tidak baik untuk masa depan mereka.

Saat kali pertama buka sanggar Komang Budi masih sangat sederhana, hanya ada beberapa alat tabuh. Bersama 20 anak-anak yang bersedia menjadi muridnya, Ia menjalankan sanggar dengan perlahan. Kini, sanggarnya telah berkembang dan muridnya semakin banyak.

Hari Selasa (18/07) ketika saya mendatangi sanggarnya, Komang Budi terlihat sibuk mengajar. Dengan sabar, beliau akan mengoreksi murid-muridnya, satu per satu. Tujuannya supaya para murid tidak kesulitan mengikuti ritme dan bisa bermain bersama-sama. Komang Budi mengungkapkan bahwa mereka tengah memainkan alunan musik untuk tari nelayan.

Di pojokan sanggar, terlihat seorang anak dengan tubuh tambun yang kesulitan mengikuti ritme. Anak ini bernama Andre, masih duduk di kelas empat SD. Dengan postur tubuh yang lebih besar ketimbang anak lainnya, dirinya terlihat mencolok walau berada di posisi yang tidak strategis. Posisinya sebagai penabuh gong.

Selain Andre, terdapat sekitar 14 anak lain yang ikut berlatih. Ada yang menabuh kendang, memainkan gangse, ugal, kenuk, serta jegong. Setiap ada anak yang kesulitan dalam menabuh, Komang Budi selalu menghampiri dan mengiringi mereka berlatih.

Komang Budi menghampiri anak didiknya satu persatudi

Di antara mereka, terlihat sosok mungil yang memainkan jegog dengan baik. Ketika anak-anak lain masih ada yang salah tabuh, anak ini bisa dengan lancar mengikuti ritme dan alunan yang dimainkan. Dia adalah Reza, anak paling kecil di sanggar ini dan baru berusia tujuh tahun.

Saat itu, yang sedang berlatih tabuh adalah kelas anak-anak yang baru belajar selama satu tahun. Di sanggarnya, ada dua kelas yang berlatih bergantian hari. Kelas pertama adalah kelompok anak-anak yang telah berlatih sekitar empat tahun, terhitung sejak sanggar tersebut berdiri. Sementara kelas kedua adalah kelompok yang tengah berlatih.

Anak-anak yang berlatih seni di sana rata-rata dikelompokkan berdasar usia dan kemampuan menabuh. Kelas pertama rata-rata duduk di bangku SMP, sementara kelas kedua mereka yang masih SD.

Anak-anak ini sudah pernah pentas di beberapa acara, dari panggung lokal di desa hingga sampai Pulau Jawa. Terakhir, anak-anak ini pentas di ajang Asia Tri Festival Yogyakarta pada September tahun lalu.

Setelah hampir dua jam berlatih, anak-anak mulai bisa memainkan tabuh dengan ritme yang terjaga. Walau masih salah-salah tabuh, tapi alunan musik yang mereka mainkan bisa dinikmati. Anak-anak itu juga terlihat bergairah ketika menabuh. Dan yang terpenting, mereka terlihat gembira kala berlatih.

Kini anak-anak Munduk telah menemukan kegiatan yang baik. Meski ancaman pengaruh  negatif pergaulan masih terbayang, tapi Sanggar Seni Bala Aninda siap menjaga mereka dari ancaman tersebut. Dan sembari menjaga anak-anak, sanggar ini juga ikut merawat tradisi yang turut terancam hilang akibat perkembangan zaman.

mm
Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit