RELIGI

Saraswati dan Para Pemuja Ilmu Pengetahuan

23/08/2017
oleh:

“Untuk mencapai kebebasan sejati, lepas dari keterikatan wadag serta roh, selain dengan tapa dan  yadnya, adakah jalan lain yang lebih lapang, Kresna?” tanya Arjuna dalam salah satu sloka Bhagawadgita.

“Jalan ilmu pengetahuan,” jawab Kresna.

Sebelumnya, hari Saraswati yang jatuh tiap Saniscara Watugunung diperingati dengan runtutan upacara yang nyaris sama dari waktu ke waktu: sembahyang di pura keluarga, dilanjutkan dengan persembahyangan di rumah masing-masing, menghadap ke setumpukan buku atau lontar, meletakkan sesajen di atasnya sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Aji Saraswati yang pada hari itu menurunkan ilmu pengetahuan.

Namun peringatan kali ini berbeda, istimewa dan melampaui yang sudah-sudah. Istimewa lantaran jatuhnya berbarengan dengan beberapa peristiwa penting yang selaras dengan pesan mulia Saraswati, yakni memuliakan ilmu pengetahuan.

Perpustakaan Rabindranath Tagore

Benda pertama yang mesti saya sebut adalah buku. Ini kejutan sebetulnya. Tepatnya capaian mengejutkan bagi Desa Munduk. Berkat donasi dan budi baik berbagai pihak, pada hari Saraswati tanggal 19 Agustus lalu, Desa Munduk resmi memiliki sebuah perpustakaan yang sejak lama diidam-idamkan.

Perpustakaan terbuka bagi warga desa dalam menyalurkan minat baca dan upaya menambah khasanah ilmu melalui buku-buku.

Perpustakaan Rabindranath Tagore dibangun di area Puri Lumbung Cottages. Selain suasana membaca yang nyaman, pernak-pernik penataan ruangannya pun tergolong sangat layak untuk ukuran perpustakaan desa.

Suasana perpustakaan Rabindranath Tagore.

Hanya, dan ini tentu memerlukan waktu, yang sedapat mungkin ditambah adalah perbendaharaan dan pilihan genre buku-bukunya supaya pilihan bacaan lebih beragam sesuai minat para pengunjung. Di atas semua itu, butuh usaha terus-menerus membangkitkan hasrat mencintai buku dan memupuk minat baca warga, kalau mungkin, dari segala segmen usia.

Pagelaran Pakarana Tetabuhan Sakral Maha Bajra Sandi  

Bisa dibilang, pada perayaan hari Saraswati kali ini, Desa Munduk ketiban pulung. Salah seorang budayawan kondang Bali asal Budakeling, Karangasem, pemerhati tradisi-tradisi sakral yang ada di Bali sekaligus pemimpin kelompok seni tari Maha Bajra Sandi, Agung Granoka, bersedia mementaskan kelompok kesenian asuhannya di Munduk.

Tari Saraswati Maha Pradnya. Foto oleh Wayan Aksara.

Kendati saya bukan seniman atau pengamat seni tari, kelompok kesenian yang beranggotakan 70 orang anak-anak belia usia SD dan SMP ini tetap saja menerbitkan kagum di hati saya.

Dari sisi gerak, tari Ardhanareswari yang dibawakan sore itu boleh saja tidak sedinamis tari-tarian Bali pada umumnya. Akan tetapi pergantian dari satu gerakan ke gerakan lain acapkali menampilkan patahan-patahan yang mengejutkan dan tidak lumrah. Jauh dari kesan generik, bahkan berkali-kali “melawan” pakem-pakem dasar tari Bali.

Tari Ardhanareswari konon jenis tarian kuno yang tabu dipentaskan di sembarang tempat. Biasanya dipentaskan untuk tujuan yang amat khusus semisal pengruwatan sebuah tempat atau sebagai pengiring doa bersama memohon kebaikan.

Tari Ardhanareswari yang mengambil tema ‘Saraswati Maha Pradnya’. Foto oleh Wayan Aksara.

Yang tak kalah mengundang decak kagum, para penari dan penabuh gamelan adalah anak-anak yang sama. Mereka paham betul alur peran masing-masing, siapa yang punya giliran menabuh gamelan, siapa yang waktunya tampil menari ke panggung. Seluruhnya terlibat, bergilir saling mengisi kekosongan dalam langgam yang hidup. Tiap anggota sekaa, dengan begitu, dituntut memiliki dua kecakapan sekaligus: menari dan menabuh gamelan.

Tari Ardhanareswari adalah serangkaian gerak tari yang menyusun bangunan besar dalam konteks memuja ilmu pengetahuan, terbagi menjadi beberapa tema, dan tema yang dipilih kali ini adalah “Saraswati Maha Pradnya”.

Komposisi yang menggambarkan manusia dan seisi semesta dalam memuliakan air. Bagaimana relasi air dan makhluk hidup berdenyut jutaan tahun, membentuk peradaban dan menjaga keseimbangan alam semesta. Melalui sandi-sandi gerak tubuh, bentuk-bentuk relasi tersebut diartikulasikan.

Air, seperti halnya udara, tidak tergantikan. Dalam salah satu penggalan episode bahkan disisipi pesan bahwa air adalah medium yang dapat saling mengirim vibrasi, baik maupun buruk, dengan makhluk hidup sesuai perlakuan mereka terhadap air.

Yadnya Agung Sejebag Catur Desa

Memuliakan ilmu pengetahuan tidak lengkap rasanya tanpa menyebut yadnya agung dua tahunan (tahun ini berlangsung antara 23 Juli hingga 2 November 2017) yang diampu komunitas adat Dalem Tamblingan di wilayah Catur Desa*.

Lagi-lagi ini soal waktu. Maksud saya, Saraswati yang jatuh pada 19 Agustus lalu, berada dalam rentang tanggal-tanggal yang saya tulis di atas. Yadnya Agung Catur Desa, tidak bisa dibantah adalah penjabaran senyatanya kearifan-kearifan lokal masyarakat Catur Desa.

Runtutannya terbagi ke dalam fase-fase upacara yang berlangsung di beberapa tempat, mulai dari gunung, pusat desa sampai labuh laut. Namun demikian, tahapan, sarana dan tujuanya berkait-erat satu sama lain. Seandainya mungkin, rangkaian lengkapnya akan saya tulis lain kali.

Kalau Saraswati mewilayahi dimensi yang amat luas (ilmu pengetahuan), Yadnya Agung Catur Desa coba membaginya ke dalam “bab-bab” yang lebih terperinci. Mirip upacara pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang mengakar pada masyarakat di daerah-daerah lain. Upacara Aruh Baharin pada masyarakat Dayak, misalnya. Atau ritual Nyadran di Cirebon, Sedekah Laut di Cilacap, atau Kasada yang dilaksanakan oleh warga Tengger.

Selamat mensyukuri karunia Tuhan dengan memuliakan ilmu pengetahuan. Tabik.

*Catur Desa: empat desa (Munduk, Gobleg, Gesing, Umejero) yang secara teritorial tergabung ke dalam satu komunitas adat Dalem Tamblingan.

mm
Petani
  • Taufan Harimurti

    Saya hampir selalu mengikuti tulisan-tulisan Pak Komang. Indah dan bikin rileks.