ANEKA

Tarian Mematikan Pencak Silat Desa Munduk

11/08/2017
oleh:

Pembaca tentu pernah mendengar istilah guntingan, sapuan, jurus, kuda-kuda. Atau senjata-senjata khas seperti toya, cindai, sundang, kerambit, trisula, dan sebagainya. Nah, istilah-istilah serta pelbagai perlengkapan pendukung tadi sekandung dengan salah satu olahraga tradisional yang amat mengakar di Indonesia: pencak silat.

Kata “pencak” berkonotasi ‘keindahan gerak’, sementara “silat” bermakna ‘ilmu bela diri’. Jadi, bisa maklumi kalau pencak silat cenderung terlihat gemulai, setidaknya jika dibandingkan dengan jenis ilmu beladiri lainnya yang terkesan lebih grasa-grusu dan mengedepankan tenaga.

Walau terlihat didominasi gerakan-gerakan yang cenderung halus, tidak lantas seni bela diri yang diperkirakan marak sejak abad ke-7 ini tidak menyimpan tipuan-tipuan atau gerakan yang mematikan.

Sebut saja sekilap, satu gerakan kilat yang menyasar mata lawan. Ada pula yang disebut kapit udang, gerakan menelikung tangan lawan, gaitan, sapuan keras ke kaki lawan, nikul karung untuk tujuan membanting tubuh lawan.

Ahli-ahli sejarah sepakat, cikal bakal gerakan-gerakan pokok pencak silat berasal dari dua gaya utama: Sumatera Barat dan Jawa Barat. Seiring migrasi para perantau, pencak silat yang disebut-sebut sebagai anak kandung bangsa Melayu ini kemudian menyebar luas ke daerah-daerah lain di Indonesia, tidak terkecuali Bali.

Salah satu perguruan besar yang sejauh ini dianggap sebagai rujukan dan tetap ajeg menjaga marwah pencak silat di Bali adalah Bakti Negara yang didirikan pada Januari 1955 di daerah Kaliungu Kaja, Denpasar. Sesuai namanya, Bakti Negara awalnya diniatkan sebagai ikhtiar bela negara. Mereka merekrut tokoh-tokoh yang kala itu dipandang memiliki kelebihan, khususnya di bidang ilmu beladiri pencak silat.

Di Bali, pencak silat mengalami masa kejayaanya pada tahun-tahun awal kemerdekaan. Gairahnya tidak hanya terasa di kantung-kantung pergerakan yang umumnya terpusat di kota-kota seperti Badung, Tabanan, atau Buleleng, namun menyebar hingga ke pelosok-pelosok.

Pendekar-pendekar pencak silat kala itu dipersepsikan sebagai sosok linuwih, menjadi panutan, yang dengan sendirinya mendapat tempat yang terhormat di masyarakat. Aktivitas menempa diri, berguru, dan menjajal ilmu jamak dilakukan, tidak peduli walau mesti dengan menyambangi padepokan-padepokan yang letaknya tersebar jauh di berbagai penjuru di Bali.

Kemasygulan seorang Guruji

Hal itu dibenarkan oleh Guruji Wayan Suwela, penekun pencak silat asal Desa Munduk, Bali Utara, yang semasa mudanya sempat melanglang hingga ke Bali Selatan dan Buleleng Timur. Nyantri berbulan-bulan atau sowan ke tokoh-tokoh yang dipandang wikan dan berilmu.

Guruji Wayan Suwela. Kakek berusia 85 tahun ini semangatnya masih begitu besar ketika berbicara soal pencak silat.

Tidak heran, nama Wayan Suwela amat dikenal di kalangan para penggemar pencak silat, terutama di wilayah ulu kaja, istilah untuk desa-desa pegunungan di Bali Utara.

Kedekatannya dengan pencak silat sebegitu rupa sampai laki-laki sepuh bermata teduh itu lebih diingat sebagai pendekar pencak silat ketimbang petani, pekerjaan utama Guruji beserta keluarganya secara turun temurun.

Di usia yang menapak 85 tahun, geloranya masih menyala-nyala, aksen suaranya sesekali meninggi manakala tema pembicaraan tiba pada bagian yang paling Guruji sukai, pencak silat.

“Pencak silat itu soal taksu dan tuah, mustahil mendalaminya dengan setengah hati,” kata kakek sebelas cucu ini sembari menelan ludah sisig tembakaunya, kebiasaan yang diakrabinya semenjak muda, “sementara anak-anak sekarang tidak punya cukup waktu, dan…..tidak tahan rasa sakit,” lanjutnya terkekeh.

Kendati kian tahun kian sepi peminat, pencak silat, meminjam kata-kata Guruji, “Belum ditakdirkan lenyap atau mati.” Buktinya, meski tidak sebanyak dulu, di Munduk selalu lahir penyambut tongkat estafet dari generasi yang lebih muda dengan berbekal hasrat belajar yang tinggi.

Setelah Guruji Wayan Suwela, ada Ketut Tunjung, Nengah Joda, dan Mangku Wayan Notes. Generasi yang lebih muda diwakili oleh Nyoman Awatara Yoga, Ketut Rupanama, Made Hare Gautama, siswa SMP kelas I yang sehari-hari dipanggil Dek Bo.

Tepat setahun lalu, saya berkesempatan menyaksikan langsung atraksi cucu-cucu murid Guruji yang secara khusus diundang untuk memeriahkan acara tujuhbelasan di Puri Lumbung Cottage, Munduk.

Orang-orang dibuat kagum. Gerakan-gerakan pencak silat yang rumit menjadi mudah di tangan Yoga dan Ketut Rupanama. Dilatari tetabuhan seperangkat gamelan, mereka menari, memperagakan gerakan menyerang, menghindar, atau melompat-lompat ringan menapak tanah.

Nyoman Awatara Yoga, cucu dari Guruji Wayan Suwela, tengah mempraktikan gerakan pencak silat. Halus, namun mematikan.

Yoga, Ketut, dan Dek Bo adalah sedikit dari anak-anak muda Munduk yang memilih menekuni olah raga tradisional pencak silat melalui latihan-latihan intens dan tanpa putus di tengah ketersediaan pilihan aneka jenis olah raga dan permainan modern yang lebih populer dan rata-rata lebih gampang dilakukan.

Benar kata Guruji Wayan Suwela, “Pencak silat belum ditakdirkan lenyap atau mati.”

Hormat sedalam-dalamnya kepada para patriot olahraga pencak silat di Munduk yang gigih melestarikan apa yang kita punya, mempertahankan apa yang sepatutnya kita pertahankan.

mm
Petani