ALAM

Three Colour Amerta Jati: Anggrek Langka dari Bali Utara

19/07/2017
oleh:

Zaman Yunani kuno, bunga anggrek diyakini sebagai lambang kejantanan. Mereka percaya, jika ingin mempunyai anak lelaki, orang tua harus mengonsumsi umbi anggrek. Bangsa Cina meyakini aroma yang keluar dari bunga anggrek adalah aroma yang keluar dari tubuh kaisar mereka.

Suku Aztec mengonsumsi campuran vanili bunga anggrek dan bubuk cokelat untuk meningkatkan vitalitas. Nama latin dari keluarga bunga anggrek adalah Orchidaceae, diambil dari bahasa Yunani, Orchis, yang berarti ‘penis’.

Zaman pertengahan, anggrek digunakan sebagai campuran obat untuk mengobati bermacam penyakit. Saat ini, anggrek dikenal sebagai tanaman hias yang banyak diburu kolektor. Masa-masa keemasan anggrek di Indonesia terjadi pada periode 2000an awal.

Habitat awal tanaman anggrek adalah hutan. Tanaman anggrek ditemukan di wilayah tropika basah hingga sirkumpolar (wilayah lingkar kutub) dengan sebaran jenis dan jumlah terbanyak di wilayah tropis.

Di wilayah tropis, anggrek banyak ditemukan di hutan tropis basah dengan kelembaban tinggi. Biasanya, hutan-hutan yang berada di wilayah pegunungan. Identifikasi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat hamparan berbagai jenis tanaman anggrek.

Tim Ekspedisi Munduk bertemu Ketut Basmika (47 tahun) di resto Don Biyu, Desa Munduk, Bali Utara. Lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai kepala sekolah di Sekolah Dasar Negeri 6 Munduk ini adalah seorang pencinta tanaman anggrek.

Ia juga memiliki kemampuan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tanaman anggrek. Ketut mulai memiliki kegemaran akan tanaman anggrek sejak duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA). Kebanyakan anggrek koleksinya adalah hasil budidaya dan menukar tanaman dengan penggemar anggrek lainnya.

Menurut Ketut Basmika, sama seperti di wilayah lain di Indonesia, di hutan Amerta Jati yang merupakan hutan adat milik Desa Munduk dan tiga desa lainnya, kebanyakan anggrek yang tumbuh adalah anggrek berjenis vanda sp. Anggrek jenis ini hidup secara epifit dengan batang pohon besar sebagai media tumbuh.

Umumnya, anggrek jenis vanda sp. tumbuh secara monopodial, memiliki satu batang dan satu titik tumbuh saja. Yang paling banyak dari jenis ini adalah anggrek three colour.

Bunga Anggrek Amerta Jati

Kegemaran Ketut akan anggrek membawanya berkenalan dengan Milo Orchid, seorang pakar anggrek asal Australia. Saat ramai perburuan tanaman anggrek di hutan Amerta Jati, tanpa sengaja, Ketut berhasil menyelamatkan spesies anggrek endemik yang menurut Milo hanya ada di hutan tersebut.

Ketut menitipkan tanaman anggrek bertinggi 20 sentimeter ke kediaman Jro Putu Ardana, Bendesa Desa Munduk, karena ia sering meninggalkan rumah dan tanaman anggreknya tidak ada yang mengurus.

Awalnya, Ketut mengira anggrek tersebut adalah anggrek three colour biasa yang umum ditemukan di banyak tempat. Alasannya, ciri-ciri tanaman itu persis tanaman anggrek three colour lainnya.

Saat empat tahun kemudian tanaman anggrek itu mulai berbunga, Ketut menemukan hal yang aneh. Bunga anggrek yang keluar berbeda dengan bunga anggrek three colour lainnya. Jika anggrek three colour lain berwarna dasar putih dengan corak biru dan cokelat, three colour yang ia titipkan di kediaman Bendesa berwarna dasar kuning dengan corak putih dan garis oranye.

Perbedaan warna inilah yang membuat Milo mengidentifikasi anggrek ini adalah anggrek khas yang endemik di hutan Amerta Jati.

Ketut membawa anakan tanaman anggrek dari kediaman Bendesa, menanam di kediamannya dan di sekolah tempatnya mengajar. Perburuan besar-besaran tanaman anggrek di hutan Amerta Jati membuat populasinya jauh menurun.

Saat ini, Anggrek three colour Tamblingan atau Anggrek tiga warna Amerta Jati sulit sekali ditemukan di hutan Amerta Jati yang mengelilingi Danau Tamblingan di Kabupaten Buleleng.

Di luar tempat tumbuh asalnya, hanya ada empat tanaman anggrek yang dimiliki empat orang saja, dan dua di antaranya tinggal di Munduk. Dan pada 18 Juli 2017, tim Ekspedisi Munduk berhasil bertemu dengan keduanya, duduk melingkari sebuah meja, kami berbincang sembari menyeruput kopi produksi petani Munduk.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan