ANEKA

Tum Bungkil, Kerumitan yang Lezat

28/07/2017
oleh:

Selain kelapa, pisang bisa dimasukkan dalam kelompok tanaman yang tiap-tiap bagiannya bisa dimanfaatkan. Tetapi tentu saja dibutuhkan kreativitas untuk bisa memanfaatkan bagian-bagian yang rasa-rasanya, sulit. Bagian bonggol misal.

Untuk mendapatkannya pun memerlukan perjuangan. Untuk mendapatkan bonggol pisang, Anda harus sedikit menggali tanah. Betul, sebagian bonggol pisang berada di dalam tanah. Belum lagi proses membersihkannya, repot bukan buatan.

Jadi, bisa dibayangkan rumitnya menyiapkan bonggol pisang untuk diolah menjadi menu makanan yang menggugah selera. Anda harus memahami betul cara mengambil bonggol pisang, membersihkannya dengan benar, dan mengolahnya sedemikian rupa. Perlu pengalaman yang cukup banyak untuk melakukannya.

Mungkin, hanya ada dua tipe koki yang melakukannya. Pertama, mereka yang memang mahir mengolah bonggol pisang. Kedua, mereka yang punya waktu begitu lapang untuk melewati prosesinya yang cukup rumit.

Di Desa Munduk, Bali Utara bonggol pisang bisa diolah menjadi menu masakan yang menarik. Setelah mencoba mencicipinya, saya kira, koki di Don Biyu tempat tim Ekspedisi Munduk menginap termasuk tipe koki yang pertama, betul-betul mahir. Di Munduk, menu makanan ini disebut tum bungkil.

Tum bungkil akan jauh lebih nikmat apabila diolah menggunakan bahan baku pisang batu. Begitu penuturan Bli Ono, tertuduh di balik nikmatnya tum bungkil yang kami nikmati. “Pisang batu itu keras, jadi bagus diolah. Kalau pisang lainnya lembek, nggak enak.” Begitu terang Bli Ono.

Mengolah bonggol pisang menjadi tum bungkil bahkan jauh lebih rumit dibanding usaha untuk mendapatkan bonggol pisang baru. Kurang lebih begini cara membuatnya:

Mengolah bonggol pisang menjadi Tum Bungkil

Pertama, bonggol dibersihkan dari tanah atau lumpur yang masih menempel. Setelah betul-betul bersih, bonggol diparut. Langkah selanjutnya, bonggol yang sudah diparut, lantas dikukus selama kurang lebih 15 menit. Patokannya, hingga air di dalam dandang atau panci untuk mengukus sudah mendidih dan asap keluar.

Bonggol yang sudah dikukus, lalu dikeluarkan dan diletakkan di baskom yang besar. Kemudian, bumbu-bumbu yang sudah disiapkan dicampurkan ke dalam bonggol tadi. Bumbu yang digunakan cukup sederhana, yaitu bawang merah yang sudah digoreng dan bumbu genep Bali yang juga sudah digoreng. Tambahkan pula daging ayam atau babi yang sudah dicincang lembut.

Kemudian, aduk semua bahan hingga merata. Setelah rata, tambahkan garam dan gula sesuai selera. Setelah dirasa cukup, campuran bonggol dan bumbu dibungkus menggunakan daun pisang yang sudah dipotong kecil-kecil. Jadi, Anda akan mendapatkan banyak bungkusan tum bungkil. Volumenya pun juga disesuai selera saja.

Langkah terakhir adalah kembali mengukus bungkusan-bungkusan bonggol. Sekitar 15 menit saja waktu yang dibutuhkan untuk pengukusan yang kedua ini. Setelah masak, tum bungkil bisa dihidangkan.

Tum bungkil juga bisa dibuat tanpa menyertakan daging cincang. Anda bisa menggantinya mengunakan jamur atau sayuran, atau cukup parutan bonggol pisang saja. Tum bungkil bisa bertahan hingga satu minggu. Syaratnya, setiap pagi, tum bungkil harus dihangatkan kembali.

Proses yang rumit sejak dari mengambil bonggol pisang hingga bisa disantap akan sangat menyebalkan jika rasa tum bungkil ternyata tidak memuaskan. Namun, Bli Ono berhasil menyajikan tum bungkil dengan rasa yang istimewa. Ditambah lagi cuaca di Desa Munduk akhir-akhir ini semakin dingin. Menyantap tum bungkil dengan nasi panas, tentu menggairahkan.

mm
Aktif di Sokola Rimba, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan