ANEKA

Warung Bu Tu Asih, Pusat Sarapan Pagi di Munduk

20/07/2017
oleh:

Pagi itu cuaca terbilang cerah. Walapun cerah, Desa Munduk tetap saja dingin. Maklum, secara geografis, desa ini berada di ketinggian 600 hingga 1300 mdpl. Ditambah dinginnya malam musim kemarau, lengkap sudah penderitaan orang yang tidak kuat dingin seperti saya.

Untuk Ekspedisi Munduk, bangun pagi adalah keharusan. Tidak bisa tidak, jam empat pagi sudah harus bangun dan bersiap menuju pasar untuk membeli kebutuhan tim hari itu. Dan tentu saja mencari sarapan. Salah satu santapan yang kami incar adalah pisang ketip.

Pisang ketip goreng adalah cara penyajian yang paling tepat. Anda bisa memakannya begitu saja selagi hangat, atau mencocolkan terlebih dahulu ke dalam larutan gula jawa. Rasa legit pisang ketip goreng ini bakal membekas di mulut meski sebatang kretek telah habis dinikmati.

Beruntung, di sekitar pasar terdapat sebuah warung yang menjajakan aneka jajanan khas desa ini. Pemilik warung itu bernama Putu Asih. Nama warungnya: Warung Bu Tu Asih. Orangnya ramah dan cekatan. Setidaknya itu hal pertama yang saya tangkap darinya.

Ketika datang ke warung tersebut, sudah ada tiga orang mengantre untuk membeli pisang ketip goreng. Di wadah penyajian memang masih terdapat pisang sisaan pembeli sebelumnya, tapi jumlahnya paling hanya tiga potong. Itu pun langsung habis ketika kami caplok tanpa pandang orang yang mengantre sebelumnya.

Oh iya, jangan bayangkan pisang goreng Bu Putu ini sebagaimana kalian biasa menemukan pisang goreng pada umumnya. Ukuran pisang di warung ini terbilang kecil. Bahkan, ukurannya lebih kecil dari pisang molen yang biasa dijual tukang gorengan di Pasar Tebet. Tapi untuk urusan rasa, kalian boleh bertanya pada mereka yang rela mengantre di warung ini.

Sembari menunggu pisang ketip yang tengah digoreng, kami memesan Bubuh Tepeng, sejenis bubur yang disajikan dengan kuah dengan aroma rempah berwarna hijau serta sayuran daun paku. Di atasnya, ditaburkan kacang goreng.

Secara tampilan, bubur ini mungkin kurang menarik, apalagi jika Anda biasa menyantap bubur dengan banyak tambahan. Tapi, secara rasa, boleh diadu. Buburnya gurih, rasa rempahnya sangat terasa. Kacangnya, ya membuat bubur campur sayur itu jadi semakin enak.

Selama kami makan, setidaknya ada empat orang yang mengantre demi pisang ketip goreng. Ada juga ibu-ibu yang memesan pisang goreng terlebih dulu sebelum ditinggal ke pasar.

Dalam sehari, Bu Putu bisa menghabiskan sekitar delapan tandan pisang ketip untuk digoreng. Selain dijual untuk disantap di tempat dan dibawa pulang, jajanan Bu Putu juga dijual kembali oleh beberapa warga.

Bu Putu Asih Cekatan melayani pelanggan

Selesai menandaskan Tepeng, pisang goreng pesanan kami sudah datang. Dua piring, hampir penuh. Setiap piring terisi delapan potong pisang goreng. Satu porsi diguyur gula jawa cair, yang satu tanpa gula. Ya biar bisa tahu rasa asli pisang goreng tersohor ini.

Hasilnya, tak rugi kami menunggu lumayan lama. Setiap potong mungkin hanya seukuran jempol tangan. Atau malah lebih kecil jika dibandingkan dengan jempol gempal saya. Tapi rasanya sungguh luar biasa. Irisan pisang yang tipis dibalur adonan tepung yang lebih tebal. Perbandingannya kurang lebih seperempat pisang, sisanya ya tepung.

Namun di sana letak kelezatannya. Rasa manis yang diberikan pisang terasa klop dengan adonan tepung yang tebal hingga membuat rasanya jadi pas dan terasa nikmat. Dan yang lebih asyiknya lagi, ukurannya yang mini membuat pisang goreng bu Putu ini menjadi ramah di mulut karena dapat dihabiskan dalam satu kali suap.

Bu Putu bercerita bahwa Ia telah 35 tahun berjualan. Dulu, tak lama setelah menikah, ia langsung membuka warung ini. “Sampai sudah punya cucu sekarang, ya tetap jualan,” ucapnya sembari saya manggut-manggut.

Sebenarnya saya masih mau mengobrol lebih lama. Tapi berhubung si empunya warung lumayan sibuk mengurus dagangannya, akhirnya kami memutuskan untuk pamit. Bukan cuma itu, saking enaknya, sebenarnya kami takut lupa menghitung pisang goreng yang kami lahap.

Sekitar 30 menit di sana, saya telah menghabiskan 13 potong pisang goreng. Itu belum ditambah bubuh tepeng dan segelas susu. Kalau bertahan lebih lama, bisa-bisa pagi saya dihabiskan hanya untuk makan di sini.

Begitu keluar dari warung, hamparan pohon cengkeh di pegunungan sekitar menyapa mata saya. Sinar matahari pagi menyibak pemandangan yang begitu indah, sesuatu yang tak sempat kami perhatikan ketika subuh melangkahkan kaki ke pasar. Saya rasa, tiga minggu di Bali Utara adalah pengalaman penting dalam hidup saya, terutama soal urusan kuliner.

mm
Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit